Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Belajar sandiwara di Miss Tjitjih

Belajar sandiwara di Miss Tjitjih Miss Tjitjih. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Tak perlu susah payah mengenyam pendidikan formal atau belajar seni peran untuk bisa menjadi seorang pemeran sandiwara termasuk juga menjadi sutradara. Di Miss Tjitjih, semua orang bisa melakukan itu asalkan mereka serius. Ikut menyelami dunia seni teater.

Seperti Imas Darsih, 54 tahun, sudah beberapa tahun ini dia menjadi seorang sutradara dalam setiap pementasan dilakukan Kelompok Seni Sandiwara Miss Tjitjih. Keseriusannya menyelami seni teater membuat Imas mencintai profesi dia jalani hingga kini. Semua berangkat dari keikutsertaan orang tuanya dalam kelompok sandiwara Miss Tjitjih. Imas kemudian bergabung dan memerankan sejumlah lakon setiap pementasan.

Pengalaman sebagai pemain dalam lakon sandiwara mengantarkannya hingga kini menjadi satu-satunya sutradara meneruskan keberadaan sandiwara Miss Tjitjih. "Ya, awalnya saya sering diajak oleh orang tua saya dulu di Miss Tjitjih ini. Sudah berperan apa saja," ujar Imas berbincang dengan Merdeka.com di asrama seniman Miss Tjitjih kawasan Cempaka Baru, Jakarta Pusat, pekan lalu.

Imas memang asli orang sunda. Wanita kelahiran Banjaran, Bandung Jawa Barat ini telah lama bergabung dengan kelompok seni sandiwara Miss Tjitjih. Menurut Imas, hampir semua orang-orang berada di Miss Tjitjih belajar seni teater secara otodidak termasuk juga dirinya. Jadi jangan kaget jika kebanyakan anggota Miss Tjitjih dalam melakukan improvisasi tanpa membaca teks terlebih dahulu.

"Dialog mereka tidak dihafal tapi ngalir sendiri. Saya dulu diajarkannya seperti itu," ujarnya. Di Miss Tjitjih, semua orang memang diajarkan untuk berimajinasi bebas.

Sama halnya seperti dengan Imas. Sarifah Rohmah, cucu dari pendiri Sandiwara Miss Tjitjih juga menuturkan hal sama. Menurut dia, sejak 11 tahun lalu bergabung dengan Miss Tjitjih, dia mempelajari seni sandiwara secara otodidak. Awalnya hanya ikut-ikut dan kini, Imas sudah mahir dalam berperan.

Padahal menurut dia, ketika turun bergabung dengan Miss Tjitjih, sempat dilarang oleh kedua orang tuanya. "Ya, awalnya saya ikut main seperti yang lain, " ujar Omah panggilan akrab Sarifah Rohmah.

Namun Sarifah menyayangkan, kini keberadaan Sandiwara Miss Tjitjih mulai ditinggalkan penonton karena banyak hiburan. Orang-orang berminat untuk belajar pun semakin sedikit. Sementara, untuk meneruskan seni sandiwara ini, Sarifah mengatakan mengandalkan anggaran dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. "Untuk honor pemain saat ini memang dibayar oleh Pemprov DKI," kata Sarifah.

Imas pun mengeluhkan hal sama. Minat anak-anak muda mempelajari seni sandiwara Miss Tjitjih tak sebanyak dulu. Termasuk juga penonton. Saban kali pentas, paling banyak penonton hanya berjumlah puluhan. Beruntung, setiap kali pementasan, biayanya dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. "Ya kalau dulu yang nonton sekitar 100 orang lebih ada, sekarang di bawah 70 saja udah untung ada yang nonton," kata Imas. (mdk/arb)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP