Kisah Perselingkuhan Zaman Jawa Kuno, Nyawa Pasangan Melayang Berbuntut Penyesalan

Kisah perselingkuhan ternyata sudah mewarnai kehidupan ratusan tahun silam.

Rizka Nur Laily Muallifa
Kisah Perselingkuhan Zaman Jawa Kuno, Nyawa Pasangan Melayang Berbuntut Penyesalan
Kisah Perselingkuhan Zaman Jawa Kuno, Nyawa Pasangan Melayang Berbuntut Penyesalan (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kisah seputar perselingkuhan ternyata sudah eksis sejak zaman Jawa Kuno. Banyak kisah dari tokoh-tokoh masa lalu yang berkaitan erat dengan perselingkuhan hingga berujung maut.

Kisah Sri Tanjung

Kisah Sri Tanjung yang dituduh selingkuh oleh sang suami identik dengan legenda Banyuwangi. Mengutip situs resmi Pemkab Banyuwangi, kisah pilu ini juga merupakan cerita rakyat populer di Majapahit.

Reliefnya ditemukan di Candi Panataran (Blitar), Surowono (Kediri), Bajang
Ratu (Mojokerto), dan Jabung (Probolinggo).

Mengutip Instagram @blitar_bercerita, Sang suami, Raden Sidapaksa, menuduh Sri Tanjung selingkuh dengan Raja Sulakrama. 

Tuduhan ini dilontarkan Sidapaksa usai mendengar para tetangga bergosip. Saat itu, Sidapaksa baru pulang dari kahyangan
untuk menunaikan tugas dari atasannya, Raja Sulakrama.

"Sri Tanjung itu loh, berani-beraninya menggoda Raja
Sulakrama," demikian Sidapaksa mendengar para tetangganya menggosip.

Sesampainya di rumah, Sidapaksa menuduh istrinya. Sri Tanjung yang merasa tidak berbuat sesuai tuduhan sang suami membela diri. 

Pertengkaran pun terjadi. Sidapaksa menyeret Sri Tanjung di perairan dekat kuburan Gandamayu. Tanpa berpikir panjang, ia menghunuskan keris ke dada sang istri. 

Saat sekarat, Sri Tanjung bersumpah jika ia bersalah, darah di keris Sidapaksa akan berbau amis. Sebaliknya, jika ia tidak bersalah maka darahnya akan berbau harum.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Saat Sidapaksa
mencuci kerisnya di sungai, ia mencium air sungai yang harum. Seketika menjadi gila. Setiap
orang, binatang, hingga tanaman berduri yang dilihatnya dianggap Sri Tanjung. Sidapaksa menangis berhari-hari.

Angling Dharma

Kisah Angling Dharma cukup terkenal di Pulau Jawa. Kisah tokoh ini juga menjadi legenda Kabupaten Bojonegoro.

Saat berburu, Angling Dharma memergoki Nagagini, istri gurunya
sedang selingkuh dengan ular tampar. la kemudian
membunuh ular tampar dan melukai Nagagini.

Nagagini yang tidak terima merekayasa cerita kepada suaminya, Nagaraja. Nagaraja naik pitam dan hendak membalas dendam pada Angling Dharma.

Saat menyusup ke istana Malawapati, Nagaraja mendengarkan Angling Dharma sedang membicarakan perselingkuhan Nagagini kepada istrinya, Setyawati.

Nagaraja pun sadar kebenarannya,
meminta maaf dan memberikan anugerah kepada Angling Dharma berupa ilmu dapat berbicara dengan binatang (Aji Gineng).

Pada satu waktu, Angling Dharma mendengarkan percakapan
sepasang cicak dan tertawa di depan istrinya. Satyawati 
tersinggung dan marah. 

Angling Dharma kukuh merahasiakan kemampuannya.  sedangkan Setyawati terbakar cemburu. Mengutip situs journal.isi.ac.id, Setyawati kemudian bunuh diri
dengan terjun ke kobaran api (sati).

Awalnya, Angling Dharma yang kaget ingin ikutan sati, namun tersadar dengan ejekan pasangan kambing bahwa sati adalah perbuatan hina. Angling Dharma kemudian mengurungkan niatnya untuk sati. 

Rekomendasi