Jemaah Haji Kediri Merengek Minta Pulang, Ternyata Anaknya Belum Lama Meninggal

Salami (72), seorang calon haji asal Kota Kediri, Jawa Timur, merengek minta pulang tak lama setelah tiba di Asmara Haji Kota Surabaya. Rupanya hari itu adalah tujuh hari meninggalnya sang anak.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Jemaah Haji Kediri Merengek Minta Pulang, Ternyata Anaknya Belum Lama Meninggal
Jemaah Haji. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

Salami (72), seorang calon haji asal Kota Kediri, Jawa Timur, merengek minta pulang tak lama setelah tiba di Asmara Haji Kota Surabaya pada awal pekan ini. Padahal saat hendak berangkat dari Kota Kediri, Salami tampak sangat bersemangat.

Keinginan Salami pulang dan batal berangkat ke Tanah Suci membuat petugas dan pihak keluarga terkejut. Khoirul Anam, putra Salami menceritakan, ibunya tiba-tiba meminta pulang setelah mereka sampai di Asrama Haji Surabaya. Alasannya, sang ibu ingat pada kegiatan mengirim doa tujuh hari anaknya yang baru saja meninggal dunia.

"Ibu saya masih berada di Asrama Haji, Sukolilo, sebelum pergi ke bandara. Saat itu, tepat hari tujuh meninggalnya adik saya, ia bertemu dengan petugas dan memohon untuk pulang," terang Khoirul Anam.

Alami Pikun

Anak perempuan Salami yang berusia 37 tahun meninggal dunia saat mendampingi murid-muridnya pada acara porseni di Kota Kediri. Hari Senin saat Salami tiba di Asrama Haji merupakan hari ketujuh pasca meninggalnya sang anak. 

Anam mengungkapkan, pihaknya telah menjelaskan kondisi ibu mereka yang menderita penyakit pikun selama dua tahun terakhir kepada petugas di Asrama Haji Surabaya. Bahkan, Salami seringkali meminta pulang saat berada di rumahnya sendiri. 

Sementara itu, meskipun keluarga mendampinginya di Surabaya dengan harapan agar Salami merasa tenang, namun keinginannya untuk pulang ke Kota Kediri tetap tak tergoyahkan. Pihak keluarga dan petugas bersepakat menunda keberangkatan Salami menjalankan ibadah haji tahun ini.

"Saya pikir keputusan yang tepat adalah menunda keberangkatan ibu. Mengingat kondisinya yang tidak memungkinkan untuk berangkat. Ibu menderita penyakit pikun dan merasa tidak nyaman di sana, maka keputusan untuk menunda adalah yang terbaik," jelas Khoirul Anam, dikutip dari ANTARA, Selasa (6/6).

Berangkat Tahun Depan

Sebenarnya, saat bersiap-siap untuk berangkat dari Aula Muktamar Lirboyo, Kota Kediri, menuju Asrama Haji Surabaya pada Minggu (4/6) sore, Salami tampak sangat senang. Semua persiapan dilakukan dengan teliti. 

Salami telah mendaftar haji sejak 2011 bersama suaminya. Rencananya ia berangkat sendiri tahun ini karena sang anak yang menggantikan suaminya tidak lolos seleksi sebagai calon jemaah haji. 

Khoirul Anam berharap adiknya lolos seleksi tahun depan sehingga bisa mendampingi ibunya menjalankan ibadah haji.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kediri, Moh Qayyim, mengatakan bahwa mereka telah menerima rekomendasi dari dokter yang memeriksa kondisi kesehatan nenek Salami. Jika hingga saat keberangkatan terakhir jemaah calon haji Indonesia kondisinya belum membaik, dipastikan Salami tidak dapat berangkat tahun ini.

Qayyim menambahkan bahwa jemaah calon haji diberikan kemungkinan menunda keberangkatan mereka hingga tahun berikutnya jika memang tidak memungkinkan berangkat pada tahun tersebut.

"Jika tahun ini tidak memungkinkan, maka secara otomatis mereka akan dipanggil kembali tahun depan," terang Qayyim.

Sementara itu, jemaah haji asal Kota Kediri telah tiba di Makkah dalam keadaan sehat. Seluruh jemaah ditemani tim dokter yang memastikan kesehatan mereka. Jumlah jemaah haji asal Kota Kediri yang berangkat pada 2023 ini mencapai 450 orang.

Jemaah calon haji dari Kota Kediri ini bergabung dengan jemaah dari Kabupaten Kediri dan Kota Blitar dalam Kloter 32. Rombongan mereka berangkat pada Minggu (4/6) lalu.

Rekomendasi