Mengetahui apa itu essay dapat membantu mempermudah proses pembuatannya kelak. Essay adalah sebuah karya tulis yang umumnya telah dipelajari sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah atas.
Siswa kebanyakan mengenal essay sebagai suatu bentuk soal uraian dalam ujian atau tes. Sementara saat berada di jenjang perguruan tinggi, essay lebih dikenal sebagai sebuah format karya tulis.
Essay merupakan karya tulis yang berisi kombinasi dari fakta dan opini. Essay umumnya lebih bersifat subjektif dari sudut pandang penulis yang cenderung analitis, interpretatif, dan spekulatif.
Essay biasanya berisi narasi yang mengandung unsur kritik, saran, dan argumen dari pengamatan sehari-hari penulis terhadap suatu isu atau fenomena yang tengah berkembang di lingkungan sekitarnya.
Berikut penjelasan selengkapnya tentang apa itu essay dan hal-hal inti lain mengenainya yang patut untuk Anda ketahui.
Advertisement
Mengenal Apa Itu Essay
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), essay adalah karangan prosa yang membahas suatu persoalan dari sudut pandang penulis secara sepintas. Sedangkan menurut ilmu jurnalistik, yang dimaksud dengan apa itu essay adalah sebuah tulisan yang memuat pandangan seseorang terhadap suatu persoalan yang ditinjau secara subjektif.
Secara kata, “essay” berasal dari bahasa Prancis, yang artinya mencoba atau berusaha. Essay adalah suatu tulisan yang menggambarkan opini penulis tentang subjek tertentu yang dicoba untuk dinilainya (Dalman, 2011). Pengertian tersebut mengarah pada isi bahasan essay, yang mana esai membahas tentang suatu subjek atau pun masalah.
Lebih lanjut, esai secara mudahnya boleh dipandang sebagai suatu usaha untuk melahirkan pandangan mengenai suatu topik dengan bentuk yang pendek serta dengan cara penuturan yang sebaik-baiknya, yang terpenting dalam essay bukan tentang apa yang dibicarakan, melainkan bagaimana cara membicarakannya (Widyamartaya dkk. 2004).
Essay adalah karangan prosa yang menunjukkan ide atau gagasan subjektif mengenai suatu fenomena tertentu sesuai dengan pandangan penulisnya. Oleh sebab itu, argumentasi merupakan komponen pondasi yang kuat untuk menentukan isi dari karangan essay itu sendiri. Selain argumentasi, data atau fakta yang menjadi latar belakang permasalahan juga harus dipaparkan.
Sebab, salah satu tujuan dari pembuatan essay untuk meyakinkan pembaca mengenai sudut pandang penulis tentang suatu permasalahan. Essay terdiri dari banyak jenis, di antaranya adalah essay deskriptif, argumentatif, tajuk, relektif, dan kritik. Seluruh jenis essay ini memiliki karakteristik dan cara penulisan masing-masing yang penting untuk dipelajari sebelum dibuat.
Advertisement
Struktur Essay
Sama seperti karangan lain seperti prosa, pantun, dan cerpen, essay pun memiliki struktur penulisannya sendiri. Struktur essay yang baik dalam Bahasa Indonesia dibagi menjadi 3 yaitu pendahuluan, isi, dan penutup.
Beberapa ahli juga memiliki pendapat yang sama tentang struktur essay. Mereka membagi essay ke dalam tiga bagian yang terdiri atas, paragraf pendahuluan (yang diakhiri dengan kalimat tesis), paragraf isi, dan paragraf penutup (Wijayanti dkk. 2012).
Pada bagian pendahuluan, essay berisi pernyataan umum tentang topik yang akan dibahas, selain itu juga berisi latar belakang topik. Paragraf isi berisi uraian pernyataan yang disampaikan pada paragraf pendahuluan. Terakhir adalah paragraf penutup yang berisi simpulan atau ringkasan dari halhal penting yang telah dikemukakan.
Dari beberapa pendapat di atas, struktur essay intinya ada 3 yaitu pendahuluan, isi, dan penutup atau simpulan di mana;
- Pertama, adalah paragraf pengantar atau pendahuluan. Paragraf ini perlu dibuka dengan semenarik mungkin, selain menarik paragraf ini juga memberi latar belakang informasi singkat mengenai topik yang akan dibicarakan dalam essay. Paragraf ini terdiri atas dua bagian, yaitu beberapa kalimat/pernyataan umum dan sebuah kalimat tesis, tempat ide pokok esai berada.
- Kedua yaitu paragraf isi. Paragraf isi dapat hanya terdiri atas satu paragraf seperti halnya paragraf pendahuluan. Dapat pula lebih panjang karena di dalam paragraf inilah penulis secara perinci membahas topik atau subtopik yang sudah dinyatakan di dalam kalimat tesis. Beberapa teknik pengembangan paragraf isi, di antaranya:
- memberikan contoh atau ilustrasi tentang apa yang dibicarakan;
- menguraikan secara kronologis suatu kejadian;
- menceritakan anekdot yang berkaitan dengan apa yang dibicarakan;
- mendefinisikan istilah yang berhubungan dengan apa yang dibicarakan;
- membandingkan atau mengontraskan apa yang sedang dibicarakan;
- menganalisis atau mencari sebab-musabab dari sesuatu yang dibicarakan;
- menguraikan akibat-akibat atau konsekuensi-konsekuensi dari sesuatu yang dibicarakan;
- menerangkan bagaimana cara kerja atau fungsi sesuatu yang dibicarakan;
- melukiskan fisik atau watak orang, tempat, barang, atau tindakan yang dibicarakan;
- kombinasi beberapa teknik di atas.
- Ketiga, yaitu paragraf penutup. Untuk menandai bahwa pembaca sudah sampai pada akhir esai, diperlukan “pengait” berupa kata transisi, seperti simpulannya, singkatnya, akhirnya, dan sebagainya.
Advertisement
Contoh Essay
Agar Anda lebih mudah memahami apa itu essay, berikut contoh essay dengan isu lingkungan berbahasa Indonesia yang dapat menjadi referensi atau pedoman Anda untuk menuliskan essay dikutip dari laman Liputan6;
----
Sampah telah menjadi isu Internasional. Selama ini kita hanya berkutat mempermasalahkan isu sampah yang ada di bumi. Mungkin saja tidak sampai berpikiran bahwa ada isu sampah yang juga perlu menjadi perhatian. Yaitu sampah Antariksa.
Kita tahu, kini era dan zamannya teknologi mendominasi kehidupan sehari-hari. Setiap jam, manusia bergantung dengan elektronik dan teknologi canggih. Contoh sederhana, kita selalu berkomunikasi menggunakan internet, dalam ekonomi kita juga bertransaksi menggunakan m-banking, hingga dalam penyimpanan uang di bank-pun juga bergantung dengan teknologi.
Di mana semua aktivitas tersebut membutuhkan satelit di luar angkasa sana. Tanpa sadar, banyaknya satelit yang diterbangkan terjadi sampah antariksa. Belum lagi Negara-negara maju, yang mereka bersaing di bidang teknologi. Maka sudah hal yang biasa mereka menerbangkan satelit ke luar angkasa untuk sebuah misi Negara ataupun misi manusia.
Ketika roket itu diterbangkan angkasa, mereka akan menghasilkan sampah. Satu satelit saja, bisa meninggalkan beberapa sampah, sebelum akhirnya satelit intinya dari material atau badan roket. Dengan kata lain, isu sampah internasional tingkat tinggi tidak hanya mempermasalah sampah plastik atau sampah yang ada di bumi. Tetapi juga sudah mengalami kecemasan sampah di antariksa. Mungkin sudah banyak orang yang tahu bahwa bumi kita dikelilingi ratusan satelit.
Orbit bumi dikelilingi banyak sekali satelit bekas roket dan pecahan-pecahan lain. Ketika di orbit terlalu banyak sampah, maka risiko terjadinya tabrakan antar satelit semakin besar. Jadi setiap terjadi satu tabrakan, dapat menimbulkan serpihan angkasa yang meningkatkan kemungkinan tabrakan-tabrakan lainnya. Terjadinya kasus inilah yang kemudian disebut dengan Sindrom Kessler.
Kepadatan sampah antariksa inilah yang menjadi kekhawatiran bagi misi luar angkasa di masa depan. Di masa depan, tentu jika tidak dibersihkan akan semakin banyak sampah di luar angkasa. Sehingga setiap kali ingin menerbangkan roket, harus dinavigasi melalui koridor sempit yang dikelilingi sampah satelit.
Koordinator ESA, Thomas Reiter menegaskan bahwa sampah yang begitu banyak di orbit akan banyak bertabrakan. Jadi, hampir tidak mungkin menggunakan orbit di ketinggian 400 sampai 1200 km. Padahal, sekarang hidup manusia sangat bergantung dengan kerja satelit. Satelit sangat membantu di banyak bidang, mulai dibidang perekonomian, studi iklim, navigasi pesawat terbang, kemajuan teknologi mesin dan banyak lainnya.
Tidak banyak orang tahu bahwa sampah antariksa menjadi kekhawatiran bagi Negara-negara maju. Karena masa aktif atau usia satelit yang diterbangkan hanya beroperasi selama 7 tahun sampai 10 tahun. Setelah itu, satelit-satelit tersebut harus segera diganti dengan yang baru. Jika tidak diganti dengan satelit baru, akan ketinggalan zaman.
Kemunculan satelit baru inilah yang menjadi isu dan problem baru lagi. Karena akan menambah jumlah sampah antariksa. Maka, para ilmuwan kini sedang berfikir dan mengembangkan cara lain, bagaimana mengurangi sampah. Menurut Thomas Reiter banyak ide brilian yang lahir, tapi tidak ada langkah konkret mengurangi sampah antariksa tersebut.
Maka kini para ilmuwan pun tengah mengembangkan bagaimana cara agar satelit yang tidak lagi beroperasi bisa kembali lagi ke bumi, dengan cara manuver rumit. Sayangnya, setiap satelit yang pulang ke bumi akan terbakar karena gesekan atmosfer dan akhirnya pecah. Tetapi ada struktur bagian dalam yang disebut pitan yang tidak akan hancur, dan biasa nya pitan itu akan jatuh ke bumi.
Meskipun sudah ada upaya, upaya ini belumlah menjadi solusi fundamental. Tetap saja sampah antariksa di luar angkasa masih banyak. Jika dilihat, bumi pun tampak dikelilingi material kecil. Kesimpulannya, ditengah kemudahan teknologi dan kepraktisan hidup manusia, ada dampak negatif yang manusia timbulkan, dimana ini pula yang menjadi tanggungjawab kita bersama. Dan semoga, dengan lahirnya masalah dan isu ini, semakin banyak regenerasi yang lahir memberi solusi.