Kasus TBC Marak di Tulungagung, Penderita Enggan Berobat karena Stigma Negatif

Kasus TBC (tuberculosis) di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, terus bermunculan akibat banyak penderita yang enggan melanjutkan pengobatan. Selama ini, TBC masih dianggap aib oleh masyarakat.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Kasus TBC Marak di Tulungagung, Penderita Enggan Berobat karena Stigma Negatif
Ilustrasi TBC. ©2022 Merdeka.com/Freepik

Kasus TBC (tuberculosis) di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, terus bermunculan akibat banyak penderita yang enggan melanjutkan pengobatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung

Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur mengungkapkan kasus TBC (tuberculosis) di daerah itu masih ada dan terus bermunculan akibat banyaknya penderita yang enggan melanjutkan pengobatan karena menghindari stigma negatif dari lingkungan sosial sekitar terkait penyakit yang diderita.

"Menderita TBC, tetapi tidak mau dianggap TBC. Persepsi keliru ini, secara tidak langsung dia menularkan kepada orang lain,” jelas Kabid Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung Didik Eka di Tulungagung, Jumat (23/12/2022).

Stigma TBC sebagai penyakit kotor dan menular membuat penderitanya kurang terbuka kepada orang lain. Muncul keengganan untuk berobat, atau berobat secara sembunyi-sembunyi yang menyebabkan penanganan tidak optimal.

"Bakteri pada penderita TBC RO sudah kenal dengan antibiotik, sehingga untuk menyembuhkan butuh dosis dan biaya yang lebih besar," tutur Didik, dikutip dari Antara.

Jika pengobatan untuk penderita TBC biasa membutuhkan biaya sekitar Rp10 juta, hal ini jauh berbeda dengan pengobatan untuk TBC RO yang membutuhkan biaya Rp100 juta lebih. Proses pengobatannya pun membutuhkan waktu yang berbeda. Jika TBC biasa membutuhkan waktu sekitar enam bulan, TBC RO membutuhkan waktu pengobatan satu tahun tanpa henti.

Edukasi Masyarakat

Saat ini, Yayasan Yabhysa yang bergiat dalam penanggulangan TBC memiliki sekitar 60 kader terlatih untuk mengedukasi masyarakat tentang TBC. Penggiat sosial penanggulangan TBC dari Yayasan Yabhysa, Malahayati, mengungkapkan bahwasanya stigma negatif pada pasien TBC menjadi kendala pencegahan penularan penyakit ini.

Padahal, kata dia, penyakit TBC bisa disembuhkan jika pasien mau meminum obat secara rutin dan teratur.

"Kami membentuk kader di 32 Puskesmas," ujarnya.

Apabila kader menemukan suspek positif TBC, maka yang bersangkutan wajib mendampingi pasien melakukan pengobatan hingga sembuh. Selain itu, kader ini juga bertugas melakukan investigasi kontak pasien.  

"Tugas kami juga melakukan membantu pemenuhan nutrisi bagi pasien TBC, dengan menggandeng pihak lain,” kata Malahayati.

Dukungan Keluarga

Dia mengungkapkan, selama ini pasien yang mangkir minum obat disebabkan oleh minimnya dukungan yang diterima dari keluarga.

Selain itu, juga disebabkan oleh lamanya waktu pengobatan yang mencapai enam bulan untuk TBC biasa, bahkan mencapai setahun untuk TBC RO. Apalagi jumlah obat yang diminum cukup banyak.

Selanjutnya, efek pengobatan TBC juga menjadi salah satu kendala pasien mangkir minum obat. Acapkali setelah minum obat, pasien TBC mengalami mual dan muntah.

“Tugas kami untuk menyempitkan angka pasien mangkir minum obat,” tegas Malahayati.

Dia menegaskan bahwasanya TBC bukan aib, melainkan penyakit yang bisa disembuhkan dengan pengobatan.

Rekomendasi