Klasifikasi Skizofrenia dan Gejalanya yang Patut Diwaspadai, Pelajari Lebih Lanjut

Skizofrenia adalah penyakit mental serius jangka panjang yang kompleks. Skizofrenia diklasifikasikan dalam beberapa jenis. Berikut adalah penjelasan selengkapnya mengenai klasifikasi skizofrenia beserta gejala umum dan penyebabnya yang patut Anda ketahui.

Edelweis Lararenjana
Oleh Edelweis Lararenjana - Reporter
Klasifikasi Skizofrenia dan Gejalanya yang Patut Diwaspadai, Pelajari Lebih Lanjut
Ilustrasi gangguan mental. ©2012 Merdeka.com/Shutterstock

Skizofrenia adalah penyakit mental serius yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk berpikir jernih, mengelola emosi, membuat keputusan, dan berhubungan dengan orang lain. Skizofrenia adalah penyakit medis jangka panjang yang kompleks.

Skizofrenia biasanya melibatkan psikosis, yang merupakan hilangnya koneksi dengan kenyataan dalam beberapa bentuk. Kondisi ini termasuk mendengar suara-suara di kepala atau memegang keyakinan palsu yang dapat menyebabkan paranoia dan mengganggu aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun skizofrenia dapat terjadi pada orang-orang dari semua usia, namun skizofrenia biasanya menyerang pada akhir remaja hingga awal 20-an untuk pria, dan akhir 20-an hingga awal 30-an untuk wanita. Skizofrenia jarang didiagnosis pada seseorang yang berusia kurang dari 12 tahun atau lebih dari 40 tahun.

Skizofrenia diklasifikasikan dalam beberapa jenis. Berikut penjelasan selengkapnya mengenai klasifikasi skizofrenia beserta gejala umum dan penyebabnya yang patut Anda ketahui.

Klasifikasi Skizofrenia

Berikut beberapa klasifikasi skzofrenia, mengutip dari laman mentalhealth-uk.org:

Ini adalah klasifikasi skizofrenia yang paling umum. Skizofrenia paranoid lebih mungkin untuk berkembang di kemudian hari daripada klasifikasi skizofrenia yang lain. Gejalanya meliputi halusinasi dan/atau delusi.

  • Skizofrenia hebefrenik

Juga dikenal sebagai 'skizofrenia tidak teratur', klasifikasi skizofrenia ini biasanya berkembang ketika seseorang berusia 15-25 tahun. Gejalanya meliputi perilaku dan pikiran yang tidak teratur, di samping delusi dan halusinasi yang berlangsung singkat.

Penderita skizofrenia model ini juga mungkin memiliki pola bicara yang tidak teratur, dan membuat orang lain kesulitan memahami perkataannya. Orang yang hidup dengan skizofrenia tidak teratur sering menunjukkan sedikit atau tidak ada emosi dalam ekspresi wajah, nada suara, atau tingkah laku mereka.

  • Skizofrenia katatonik

Ini adalah diagnosis skizofrenia yang paling langka, ditandai dengan gerakan yang tidak biasa, terbatas, dan tiba-tiba. Penderita klasifikasi skizofrenia katatonik biasanya sering beralih antara menjadi sangat aktif atau sangat diam. Mereka mungkin tidak banyak bicara, dan suka meniru ucapan dan gerakan orang lain.

  • Skizofrenia tak terdiferensiasi

Dalam klasifikasi skizofrenia tak terdiferensiasi, diagnosisnya dapat mencakup beberapa gejala dari skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau katatonik, tetapi tidak terbatas pada salah satu dari jenis ini saja.

  • Skizofrenia residual

Seseorang mungkin didiagnosis menderita skizofrenia residual jika mereka memiliki riwayat psikosis, tetapi hanya mengalami gejala negatif (seperti gerakan lambat, ingatan buruk, kurang konsentrasi, dan kebersihan yang buruk).

  • Skizofrenia sederhana

Klasifikasi skizofrenia ini memiliki gejala negatif (seperti gerakan lambat, ingatan buruk, kurang konsentrasi dan kebersihan yang buruk) yang paling menonjol lebih awal dan terus memburuk, sedangkan gejala positif (seperti halusinasi, delusi, pemikiran tidak teratur) jarang dialami.

  • Skizofrenia senestopatik

Orang dengan klasifikasi skizofrenia senestopatik biasanya akan mengalami sensasi tubuh yang tidak biasa.

  • Skizofrenia tidak spesifik

Gejala pada klasifikasi skizofrenia tidak spesifik biasanya akan memenuhi kondisi umum untuk diagnosis, tetapi tidak sesuai dengan salah satu kategori di atas.

Gejala Skizofrenia

Sulit untuk mendiagnosis skizofrenia pada remaja. Ini karena tanda-tanda pertama dapat mencakup perubahan pada lingkungan pertemanan, menurunnya nilai akademik, munculnya masalah tidur, dan lekas marah, di mana semua ini adalah perilaku remaja yang umum dan tidak spesifik.

Faktor lainnya termasuk mengisolasi diri sendiri dan menarik diri dari orang lain, peningkatan pemikiran dan kecurigaan yang tidak biasa, dan riwayat keluarga psikosis. Pada orang muda yang mengembangkan skizofrenia, tahap gangguan ini disebut periode "prodromal".

Dengan kondisi apa pun, penting untuk mendapatkan evaluasi medis yang komprehensif untuk mendapatkan diagnosis terbaik. Untuk diagnosis skizofrenia, beberapa gejala berikut muncul dalam konteks penurunan fungsi selama minimal 6 bulan, dikutip dari US National Alliance on Mental Illness:

  • Halusinasi. Ini termasuk mendengar suara-suara, melihat sesuatu, atau mencium hal-hal yang tidak dapat dirasakan orang lain. Halusinasi sangat nyata bagi orang yang mengalaminya, dan mungkin sangat membingungkan bagi orang-orang terdekat untuk menyaksikannya. Suara-suara dalam halusinasi bisa kritis atau mengancam. Suara ini dapat melibatkan orang yang dikenal atau tidak dikenal oleh penderita skizofrenia.
  • Delusi. Delusi adalah keyakinan palsu yang tidak berubah bahkan ketika orang yang memegangnya diberi ide atau fakta baru. Orang yang mengalami delusi seringkali juga mengalami masalah konsentrasi, kebingungan dalam berpikir, atau perasaan bahwa pikirannya terhalang.
  • Gejala negatif yang mengurangi kemampuan seseorang. Gejala negatif sering kali mencakup emosi yang datar atau berbicara dengan cara yang membosankan dan terputus. Orang dengan gejala negatif mungkin tidak dapat memulai atau melanjutkan aktivitas, menunjukkan sedikit minat dalam hidup, atau mempertahankan hubungan. Gejala negatif terkadang disalahartikan dengan depresi klinis.
  • Masalah kognitif/pemikiran yang tidak teratur. Orang dengan gejala kognitif skizofrenia seringkali harus berjuang untuk mengingat sesuatu, mengatur pikiran mereka atau menyelesaikan tugas. Umumnya, orang dengan skizofrenia memiliki anosognosia atau "kurangnya wawasan." Ini berarti orang tersebut tidak menyadari bahwa dirinya mengidap penyakit tersebut, yang dapat membuat perawatan atau bekerja dengannya menjadi jauh lebih sulit.

Penyebab Skizofrenia

Masih mengutip dari laman US National Alliance on Mental Illness, penelitian menunjukkan bahwa skizofrenia memiliki beberapa kemungkinan penyebab. Penyebab skizofrenia tersebut di antaranya;

  • Genetika. Skizofrenia tidak hanya disebabkan oleh satu variasi genetik, tetapi interaksi kompleks antara genetika dan pengaruh lingkungan. Keturunan memang memainkan peran yang kuat — kemungkinan Anda terkena skizofrenia enam kali lebih tinggi jika Anda memiliki kerabat dekat, seperti orang tua atau saudara kandung, yang telah memiliki gangguan tersebut.
  • Lingkungan hidup. Paparan virus atau malnutrisi sebelum kelahiran, terutama pada trimester pertama dan kedua telah terbukti meningkatkan risiko skizofrenia. Penelitian terbaru juga menunjukkan hubungan antara gangguan autoimun dan perkembangan psikosis.
  • Kimia otak. Masalah dengan bahan kimia otak tertentu, termasuk neurotransmiter yang disebut dopamin dan glutamat, dapat menyebabkan skizofrenia. Neurotransmitter memungkinkan sel-sel otak untuk berkomunikasi satu sama lain. Jaringan neuron kemungkinan juga terlibat.
  • Penggunaan zat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi obat yang mengubah pikiran selama masa remaja dan dewasa muda dapat meningkatkan risiko skizofrenia. Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa merokok ganja meningkatkan risiko insiden psikotik dan risiko pengalaman psikotik yang berkelanjutan. Semakin muda dan semakin sering digunakan, semakin besar risikonya.
Rekomendasi