Sampah plastik telah menjadi ancaman bagi kehidupan manusia dan lingkungan hidup sejak lama. Polusi plastik telah menjadi salah satu masalah lingkungan yang paling mendesak, karena produksi plastik sekali pakai yang terus meningkat dengan pesat.
Peningkatan produksi itu tak sebanding dengan kemampuan untuk menanganinya. Polusi plastik paling terlihat di negara berkembang seperti Asia dan Afrika, di mana sistem pengumpulan sampah seringkali tidak efisien atau malah tidak ada.
Tetapi di beberapa negara maju, terutama di negara-negara dengan tingkat daur ulang rendah, penangan sampah plastik juga masih sama buruknya. Bahaya sampah plastik ini telah menyebar secara mendunia sehingga mendorong upaya pembentukan perjanjian global oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Berikut ini adalah ulasan singkat mengenai bahaya sampah plastik dan bagaimana sampah-sampah plastik tersebut memengaruhi kehidupan baik manusia maupun lingkungan hidup secara negatif.
Advertisement
Plastik dalam Kehidupan Sehari-Hari
Plastik terbuat dari polimer organik sintetik yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi mulai dari botol air, pakaian, kemasan makanan, perlengkapan medis, barang elektronik, bahan konstruksi, dan lain-lain.
Mengutip artikel dari clinmedjournals.org, dalam enam dekade terakhir plastik telah menjadi produk yang sangat diperlukan dan serbaguna dengan berbagai sifat, komposisi kimia, dan aplikasi.
Meskipun plastik pada awalnya dianggap tidak berbahaya, namun pembuangan plastik ke lingkungan selama bertahun-tahun telah menyebabkan beragam masalah terkait.
Pencemaran lingkungan oleh limbah plastik sekarang diakui secara luas sebagai beban lingkungan yang paling utama, terutama pada lingkungan akuatik di mana terjadi kerusakan biofisik plastik yang berkepanjangan, efek negatif yang merugikan pada satwa liar, dan pilihan pembuangan plastik masih terbatas.
Dalam banyak kasus, sampah plastik kemasan dibuang setelah sekali pakai. Namun karena daya tahannya, plastik semacam ini lantas beredar di mana-mana dan bertahan di lingkungan. Penelitian tentang pemantauan dan dampak sampah plastik masih terus dilakukan, dan sejauh ini laporannya mengkhawatirkan.
Di lingkungan pekerjaan dan pemukiman manusia, plastik yang terbuat dari polimer berbahan dasar bensin hadir dalam jumlah yang tinggi. Di akhir masa pakainya, plastik biasanya ditimbun bersama sampah kota.
Plastik memiliki beberapa konstituen beracun di antaranya adalah ftalat, bahan kimia polifluorinasi, bisphenol A (BPA), penghambat api brominasi, dan antimon trioksida yang dapat larut sehingga menimbulkan efek buruk pada lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Plastik dalam limbah elektronik (limbah elektronik) telah menjadi masalah lingkungan dan kesehatan masyarakat global yang serius karena volume produksinya yang besar dan tidak adanya kebijakan pengelolaan yang memadai di beberapa negara.
Laporan dari Cina, Nigeria, dan India menunjukkan bahwa zat berbahaya plastik dari limbah elektronik dapat berpindah ke luar lokasi pemrosesan dan ke lingkungan.
Advertisement
Produksi Plastik dan Limbah Global
Dalam kehidupan modern, plastik ada di mana-mana. Penggunaan awalnya bertanggal kembali ke 1600 SM, pada saat tangan manusia membentuk karet alam dan terpolimerisasi menjadi objek berguna yang berbeda di Mesoamerika prasejarah.
Berbagai penggunaan dan pembuatan plastik dan produk plastik dimulai pada tahun 1839 ketika polistiren (PS) dan karet vulkanisir ditemukan, mengutip Anthony L Andrady dalam artikel berjudul Applications and Societal Benefits of Plastics oleh royalsocietypublishing.org.
Produksi bakelite yang merupakan polimer sintetik sejati pertama kali pada tahun 1907 di Belgia, namun pada tahun 1930, bakelite sudah ada di mana-mana, terutama dalam industri fashion, komunikasi dan elektrikal dan otomotif. Butuh satu dekade setelah ini untuk memulai produksi massal plastik dan terus berkembang sejak saat itu.
Mengutip nationalgeographic.com, sebagian besar sampah plastik di lautan, yang merupakan tempat pembuangan terakhir di Bumi, mengalir dari darat. Sampah juga dibawa ke laut oleh sungai-sungai besar, yang berfungsi sebagai ban berjalan, memungut lebih banyak sampah saat mereka bergerak ke hilir.
Begitu sampai di laut, banyak sampah plastik yang tertinggal di perairan pesisir. Tapi begitu terperangkap dalam arus laut, ia dapat diangkut ke seluruh dunia.
Di Pulau Henderson, misalnya, sebuah atol tak berpenghuni di Grup Pitcairn yang terisolasi di tengah-tengah antara Chili dan Selandia Baru, para ilmuwan menemukan barang-barang plastik dari Rusia, Amerika Serikat, Eropa, Amerika Selatan, Jepang, dan Cina. Mereka dibawa ke Pasifik Selatan oleh pusaran Pasifik Selatan, arus laut melingkar.
Advertisement
Bahaya Sampah Plastik bagi Manusia
Sampah plastik memengaruhi berbagai aspek dala kehidupan manusi, mulai dari menyumbang polusi tanah, air, hingga udara. Di lingkungan pekerjaan dan perumahan manusia, produk plastik hadir dalam jumlah besar.
Polusi oleh plastik dan produk plastik dapat merusak dan mencemari lingkungan darat dan selanjutnya dapat berpindah ke lingkungan akuatik.
Pembuangan plastik di darat atau plastik penimbunan menyebabkan degradasi abiotik dan biotik pada plastik, di mana aditif plastik (misalnya, stabilisator, gugus pewarna berbahaya, plasticizer dan logam berat) dapat larut dan akhirnya meresap ke dalam berbagai aspek lingkungan, sehingga menyebabkan kontaminasi tanah dan air.
Plastik terklorinasi mampu melepaskan bahan kimia beracun ke dalam tanah dan selanjutnya meresap ke dalam air bawah tanah atau sistem akuatik sekitarnya sehingga mencemari ekosistem.
Metana, gas rumah kaca yang berbahaya, yang secara signifikan berkontribusi terhadap pemanasan global dilepaskan selama biodegradasi mikroba plastik, melansir dari International Journal of Toxicology and Risk Assessment.
Sementara, limbah yang ditemukan di lautan terdiri dari sekitar 80% plastik. Sampah plastik yang mengapung di laut dapat dengan cepat dikolonisasi oleh organisme laut dan karena keberadaannya di permukaan laut dalam jangka waktu yang lama, hal ini dapat menyebabkan pergerakan spesies 'asing' atau non-asli.
Dalam ekosistem laut, plastik telah dilaporkan terkonsentrasi dan menyerap kontaminan yang ada di air laut dari berbagai sumber lain. Contoh kontaminan tersebut adalah polutan organik persisten seperti nonylphenol, PCBs, dichlorodiphenyldichloroethylene (DDE) dan fenantrena, dengan potensi terakumulasi dalam beberapa kali lipat pada puing-puing plastik dibandingkan dengan air laut di sekitarnya.
Bahaya sampah plastik di udara terjadi pada waktu karbondioksida dan metana dilepaskan ke udara saat sampah plastik yang ditimbun akhirnya terurai. CO2 juga dilepaskan ke atmosfer selama pembakaran plastik dan produk plastik, dan CO2 ini mampu memerangkap panas radiasi dan mencegahnya keluar dari bumi yang menyebabkan pemanasan global.
Polusi udara adalah salah satu ancaman lingkungan utama bagi kesehatan masyarakat, dan bertanggung jawab atas jutaan kematian yang terkait dengan pencemaran lingkungan.
Pembakaran terbuka plastik dan produk plastik melepaskan polutan seperti logam berat, dioksin, PCB dan furan yang bila terhirup dapat menimbulkan risiko kesehatan terutama gangguan pernapasan.
Advertisement
Bahaya Sampah Plastik bagi Hewan
Persediaan makanan untuk konsumsi manusia dapat terpengaruh jika hewan diracuni oleh konstituen beracun dari limbah plastik dan produk plastik. Terlebih, laporan ancaman terhadap kelangsungan hidup mamalia laut besar telah didokumentasikan karena sejumlah besar sampah plastik yang memasuki lautan dunia.
Hewan terpapar limbah plastik sebagian besar melalui konsumsi dan belitan, namun konsumsi sampah lebih sering melanda daripada belitan sampah. Sebagian besar hewan di lautan salah mengira sampah plastik yang dibuang ke laut sebagai makanan, sehingga menelannya.
Terlebih lagi, terbelit produk plastik seperti jaring dapat menyebabkan bahaya, kerusakan, bahkan kematian pada hewan laut. Laporan dari Jurnal Polymer Engineering and Science telah menunjukkan bahwa lebih dari 260 spesies vertebrata dan hewan invertebrata yang berbeda menelan plastik atau terjerat oleh produk plastik atau plastik, dengan lebih dari 400.000 kematian mamalia laut.
Pencemaran laut oleh sampah plastik sangat mempengaruhi penyu dan spesies lain yang makanan utamanya adalah ubur-ubur karena sering salah mengira kantong plastik bekas untuk makanannya. Situasi serupa sering terjadi pada burung laut yang kebingungan mengidentifikasi mikroplastik sebagai sotong atau ikan, dan memakannya.
Penelanan sampah plastik ini dapat menyebabkan gangguan dan kerusakan fisik pada sistem pencernaan burung, menurunkan kemampuan sistem pencernaan yang menyebabkan kelaparan, kekurangan gizi dan akhirnya kematian. Banyak burung, penyu, ikan, anjing laut, dan hewan laut lainnya mati tenggelam atau mati lemas akibat terjerat sampah plastik.
Terumbu karang juga ikut rusak karena terlilit jaring dan produk plastik lainnya di sepanjang dasar laut. Seringkali, jaring ikan yang dibuang juga menjebak hewan laut, menyebabkan kelaparan dan kematian.