Potret Sederhana Masjid Astana Tuban, Tempat Menyepi Favorit Sunan Bonang

Masjid kecil ini saksi perjuangan dakwah Sunan Bonang.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Potret Sederhana Masjid Astana Tuban, Tempat Menyepi Favorit Sunan Bonang
Masjid Astana Sunan Bonang (© 2024 merdeka.com/Google Maps)

Masjid kecil ini saksi perjuangan dakwah Sunan Bonang

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Instagram @tuban_bercerita

Sebagaimana wali-wali lainnya, Sunan Bonang mendirikan sebuah masjid sebagai pusat dakwahnya.

Masjid yang hingga kini masih berdiri kokoh itu dinamakan Masjid Astana.

Masjid ini ukurannya kecil saja, tapi punya peran besar pada perjalanan dakwah Sunan Bonang.

Mengutip situs duniamasjid.islamic-center.or.id Masjid Astana ialah tempat mengajar, ibadah, sekaligus markas dakwah Sunan Bonang.

Mengutip situs Indonesia Kaya, masjid ini adalah tempat menyepi favorit wali yang memiliki nama asli  Raden Maulana Makdum Ibrahim itu.

Lokasi Masjid
Dok. Istimewa

Memasuki gapura kedua berbentuk Paduraksa di kompleks makam Sunan Bonang, pengunjung bisa langsung mengetahui keberadaan Masjid Astana.

Di sebelah utara masjid ini, pengunjung bisa melihat keberadaan gapura ketiga yang juga berbentuk paduraksa.

Sunan Bonang sering menggunakan alat musik tradisional yang disebut bonang untuk menyampaikan dakwah.

Bonang adalah sejenis gamelan yang terbuat dari besi atau kuningan dengan bagian tengah menonjol.

Bila tonjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka akan timbul suara  merdu. Pada masa itu, bunyi bonang sangat memanjakan telinga. Apalagi yang membunyikan bonang itu seorang wali.

Alhasil bunyinya mempunyai pengaruh luar biasa, sehingga banyak penduduk yang berbondong-bondong ingin menyaksikan dan mendengar dari dekat.

Sunan Bonang yang cerdik sudah memperhitungkan hal itu. Ia pun mempersiapkan kolam di depan masjid.

Siapa yang mau masuk ke masjid harus membasuh kakinya. Setelah mereka berkumpul di dalam masjid, Sunan Bonang mengajarkan tembang-tembang yang berisikan ajaran Islam.

Sepulangnya dari masjid, masyarakat menghafalkan tembang itu di rumah. Sanak saudara mereka pun turut menyanyikan tembang itu karena tertarik akan kemerduan lagunya.

Demikianlah cara Sunan Bonang berdakwah sehingga santrinya tersebar di berbagai penjuru Nusantara.

Berdasarkan arsip yang ditulis oleh J. Knebel, masjid ini dulunya disebut langgar.

Bangunannya  berbahan dasar kayu. Saat itu J. Knebel mengunjungi  Tuban bersama Bupati Blora. Mereka ditemani Bupati Tuban pergi ke makam Sunan Bonang untuk melakukan pemetaan benda Purbakala di sana.

Beberapa tahun setelah itu, langgar tersebut direnovasi secara besar-besaran. Renovasi tersebut diresmikan pada tanggal 10 Muharrom 1340 Hijriyah atau 4 September 1921, dan di gambar tersebut hasil renovasinya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mengutip Instagram @tuban_bercerota, keberadaan masjid Astana saat ini cukup ganjil karena menghalangi garis lurus antara gapura II dan gapura III yang menuju makam Sunan Bonang.

Bukan Peninggalanan Sunan Bonang
© 2024 merdeka.com/Dunia Masjid Islamic Center

Selain Masjid Astana, di sekitar kompleks makam Sunan Bonang ada Masjid Agung Tuban. Masjid ini bukan warisan Sunan Bonang dan tidak ada sangkut pautnya dengan sang wali. Pembangunan Masjid Agung Tuban terpaut empat abad dengan masa hidup Sunan Bonang.

Masjid Agung Tuban ini memiliki cari khas tersendiri. Secara garis besar, bentuk bangunannya terdiri dari dua bagian, yaitu serambi dan ruang salat utama.

Bentuknya tidak terpengaruh dengan bentuk masjid di Jawa yang atapnya bersusun tiga.

Arsitektur masjid ini justru terpengaruh oleh corak Timur Tengah, India, dan Eropa. Sekilas tampak ada kemiripan dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Rekomendasi