Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Penyebab Perang Suriah, Konflik Saudara Menahun yang Belum Kunjung Usai

Penyebab Perang Suriah, Konflik Saudara Menahun yang Belum Kunjung Usai Ilustrasi Perang. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Suriah adalah sebuah negara Arab yang menjadi jantung Timur Tengah dan pusat perdagangan selama lebih dari 5.000 tahun. Wilayah Suriah dianggap sangat penting karena menghubungkan antara tiga benua, yaitu Asia, Afrika dan Eropa. Banyak pedagang dari negara-negara lain datang ke Suriah untuk melakukan perdagangan di antaranya dari negara Mesir, Yunani, Romawi, Arab, Mongol, dan Turki.

Suriah saat ini tengah mengalami krisis keamanan yang telah berlangsung sejak 2011. Penyebab perang Suriah pada awalnya adalah aksi protes masyarakat yang menginginkan sistem pemerintahan demokratik terhadap kepemimpinan Bashar al Asaad. Namun, seiring waktu berkembang menjadi sebuah perang sipil atau perang saudara yang menelan banyak korban jiwa.

Dalam artikel kali ini, akan dibahas mengenai sejarah dan penyebab perang suriah yang masih berlangsung hingga saat ini secara lengkap dan sistematis mengutip dari Jurnal Transborders Universitas Pasundan dan sumber ilmiah relevan lainnya.

Gambaran Umum Negara Suriah

Negara Suriah modern didirikan setelah Perang Dunia I sebagai mandat Prancis. April 1946, Suriah merdeka sebagai sebuah negara republik parlementer. Pasca kemerdekaan itu, Suriah mengalami kekacauan yang sebagian besar disebabkan oleh upaya kudeta, pada periode 1949—1971. Hafez Al-Assad, kemudian disetujui sebagai Presiden Suriah, melalui referendum (1971—2000).

Setelah Hafez Al- Assad meninggal pada 2000, transisi pemimpin segera digantikan oleh putranya, Bashar Al-Assad, 17 Juli 2000 sampai sekarang. Rezim Assad didukung oleh Partai Ba’ath yang didirikan pada 7 April 1947 di Damaskus.

Total luas wilayah Suriah adalah 185.180 km2 persegi dengan mayoritas gurun. Letaknya yang strategis dengan limpahan potensi kekayaan alam menjadikan Suriah sebagai negara yang diperebutkan berbagai kekuatan politik regional dan global. Mayoritas suku di Suriah adalah Arab dengan persentase 90,3%, sisanya suku Kurdi, Armenia dan lain-lain dengan persentase 9,7% menurut The World Factbook CIA.

Dari seluruh penduduk Suriah, pemeluk Islam ada 87% (Sunni 74% dan Syiah 13%, yang menguasai pemerintahan rezim Assad) penganut Kristen sekitar 9%, dan pengikut Druze berjumlah 3-7%. Suriah adalah negara merdeka dengan perekonomian terpusat tanpa neoliberalisme dan dominasi ekonomi Barat, menjadikannya sebagai negara mandiri yang patut dicontoh.

Arab Spring Sebagai Akar Perang Suriah

Perang Suriah adalah salah satu fenomena Arab Spring yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Mengutip dari Jurnal berjudul The Roots and Causes of the 2011 Arab Uprisings, Arab Spring merupakan gelombang revolusi berupa aksi demonstrasi dan protes yang dilakukan oleh rakyat sipil. Aksi demonstrasi ini pertama kali dilakukan oleh warga negara asal Tunisia bernama Mohammed Bouazizi.

Bouazizi adalah seseorang yang melakukan aksi bakar diri sebagai tindakan bentuk protes kepada pejabat Tunisia. Aksi Bouazizi ini beredar di media dan membangkitkan amarah rakyat Tunisia atas kematian Bouazizi, sehingga masyarakat Tunisia akhirnya melakukan protes. Aksi Bouazizi ini merupakan titik awal kemunculan Arab Spring di Tunisia dan menyebar di kawasan Timur Tengah lainnya.

Setiap konflik memiliki akar yang berbeda-beda seperti yang terjadi di beberapa konflik di Timur Tengah. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan fenomena Arab Spring yang menjadi penyebab perang Suriah, antara lain;

  1. Karena Timur Tengah memiliki kultur budaya yang sama yaitu bangsa Arab.
  2. Negara-negara Timur Tengah meskipun telah menjadi negara yang merdeka, namun sebenarnya masih belum seutuhnya merdeka. Kebebasan masyarakat dibatasi dengan sistem pemerintahan yang otoriter dan penguasa diktator. 
  3. Beberapa negara di Timur Tengah masih mengalami kemiskinan dan masalah pengganguran yang tinggi terlepas dari kondisi wilayahnya yang merupakan ladang minyak bumi.
  4. Pemberlakuan undangundang darurat oleh pemerintah yang berkuasa. Ini memberikan keleluasaan kepada aparat pemerintah untuk menangkap dan menahan warga sipil tanpa proses peradilan terhadap segala tindakan yang dapat mengancam keamanan nasional.

Fenomena Arab Spring yang terjadi di Suriah merupakan dorongan rakyat yang terinspirasi dari negara-negara seperti Mesir dan Tunisia. Fenomena ini kemudian terjadi di Suriah dan menjadi konflik internal Suriah.

Mengutip dari thesyrianinstitute.org, permasalahan yang terjadi dalam konflik Suriah antara lain revolusi, proxy war, civil war, state collapse, international armed conflict, terrorist insurgency, dan humanitarian crisis.

Kronologi Perang Suriah

Penyebab perang Suriah berawal dari keinginan warganya untuk membentuk negara yang lebih demokratis. Warga Suriah menginginkan perubahan sistem pemerintahan, terutama pada kekuasaan rezim Assad yang telah menjabat sejak 1962. Selama masa Hafez Al Assad berkuasa, rezim yang totaliter diberlakukan. Presiden Hafez menggunakan tindakan kekerasan untuk menghilangkan segala bentuk ancaman yang dapat mengancam posisinya dalam pemerintahan Suriah.

Pada masa ini juga hak untuk berpendapat bagi masyarakat sangat dibatasi oleh pemerintah atau disebut Emergency Law. Kemudian pada 2000 Hafez Al Assad turun dari jabatannya sebagai Presiden. Berakhirnya kepemimpinan Hafez bukan berarti berakhirnya kepemimpinan rezim Assad. Pada 10 Juli 2000, Bhasar Al Assad, putra dari Hafez Al Assad memenangkan sekitar 97% suara dalam pemilu dan menetapkan Bhasar Al Assad sebagai presiden Suriah menggantikan posisi Hafez Al Assad.

Peristiwa Arab Spring serta kejatuhan para pemimpin negara Timur Tengah mulai terdengar hingga sampai ke rakyat Suriah. Semangat revolusi yang diperlihatkan para aktivis dan demonstran di Tunisia dan Mesir yang tersebar melalui media sosial belum mampu menurunkan kekuatan yang dimiliki rezim al-Asad karena pihak keamanan menekan para aktivis tersebut agar tidak melakukan demonstrasi.

Awal konflik di Suriah ini terjadi ketika terdapat sebuah protes terhadap penangkapan 15 pelajar di kota kecil Daraa yang melakukan aksi menulis slogan anti-pemerintah. 15 pelajar tersebut lalu ditangkap dan dipenjara. Akibatnya, terjadilah aksi protes yang menuntut pembebasan anak-anak tersebut.

Namun, reaksi tentara terhadap protes tersebut tidak manusiawi, mereka menembaki para pendemo dan mengakibatkan 4 orang korban meninggal. Akibat respon kekerasan tersebut, akhirnya aksi protes berlanjut dan kemudian menyebar ke kota-kota lain di Suriah.

Penyebab Perang Suriah

Stigma kebrutalan Assad dalam menghadapi demonstran damai menyebar ke seluruh dunia. Hal ini menimbulkan kecaman dari dunia internasional terhadap pemerintah Assad untuk segera menghentikan kekerasan yang dilakukan rezim. Upaya untuk menggulingkan presiden Bashar Al-Assad yang terus dilakukan sejak Maret 2011. Selain kekerasan, ketidakpuasan rakyat Suriah juga disebabkan oleh adanya korupsi dan kurangnya kebebasan rakyat.

Selain kelompok oposisi, perlawanan terhadap rezim Assad juga dilakukan pihak Barat seperti AS, Perancis, Inggris, Uni Eropa dan Kanada yang menyerukan kepada Assad untuk meletakkan jabatannya.  Namun, terpilihnya kembali presiden Bashar Al-Assad di 2014, membuktikan bahwa pemerintah ini masih didukung oleh sebagian besar rakyat, tokoh-tokoh agama dan kekuatan militer sehingga upaya menggulingkan Assad dinilai cukup sulit.

Tentara Suriah atau SAA (Syrian Arab Army) juga merupakan kekuatan utama yang dimiliki oleh Assad dalam menghadapi tekanan kuat dari kelompok-kelompok oposisi selama ini. Konflik yang terjadi di Suriah merupakan efek domino dari fenomena Arab Spring yang melanda kawasan Timur Tengah pada 2010. Berbeda dengan yang terjadi di sejumlah negara Timur Tengah dan Afrika Utara, konflik di Suriah relatif lebih lama dan masih berlangsung sampai saat ini.

(mdk/edl)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP