dr. Soetomo lebih dikenal sebagai sosok yang berkiprah pada bidang pergerakan politik dan pendidikan. Statusnya sebagai dokter justru tak banyak dibicarakan orang. Padahal konstribusi dr. Soetomo di bidang kesehatan juga luar biasa.
Advertisement
Lulus pendidikan dokter dari STOVIA, pada tahun 1917 Soetomo pulang ke kampung halamannya di Ngepeh, Kabupaten Nganjuk.
Beberapa saat kemudian, ia memulai kariernya sebagai dokter di Semarang. Kemudian, dipindahkan ke Tuban, lalu ke Lubuk Pakam dan terakhir di Malang.
Mengutip situs resmi Dispusip Pekanbaru, selama berpindah-pindah tempat bertugas. Seotomo menyaksikan kesengsaraan rakyat hampir di segala penjuru wilayah Indonesia.
Advertisement
Mengutip Instagram @musea.surabaya, Soetomo merupakan dokter spesialis kulit dan kelamin. Ia punya kontribusi besar menangani wabah lepra di Kota Surabaya dengan memberikan pengobatan gratis di kliniknya.
Saat itu, dr. Soetomo meminta masyarakat pribumi yang tidak mampu membayar biaya pengobatan di Rumah Sakit Umum Simpang/Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (sekarang Delta Plaza), menuju kliniknya di Simpang Dukuh 12 untuk mendapatkan pengobatan gratis.
Soetomo dikenal sebagai dokter yang berjiwa sosial. Ia tidak menetapkan tarif khusus kepada para pasiennya. Caranya dengan meletakkan kotak untuk pembayaran sukarela.
Sementara itu, pasien yang tidak mampu dibebaskan dari pembayaran. Bahkan, dokter Soetomo memberi mereka uang untuk membeli obat.
Tingginya rasa empati pada diri Soetomo membuat ia bersedia membantu siapapun yang membutuhkannya.
Advertisement
Advertisement
Selain mengobati orang, Soetomo juga menerbitkan buku atau jurnal medis untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Surabaya tentang bahaya penyakit kulit dan kelamin.
Kumpulan jurnal kesehatan yang di tulis Soetomo dan asistennya Soetopo mengenai perjuangan melawan penyakit Lepra tersebut kini jadi koleksi di Museum dr. Soetomo Surabaya.
Advertisement