Sebuah warung sederhana di Jalan Bubutan Kota Surabaya tak pernah sepi pembeli. Padahal warung ini hanya berupa gerobak dengan bangunan semi permanen. Rupanya orang-orang ke sini karena cita rasa masakannya.
Advertisement
Siti Maisun atau Ibu May membuka warung makannya sejak tahun 1994 silam. Kemampuannya memasak sudah teruji sejak sang ibu berjualan nasi secara keliling.
"Saya biasa bantu ibu, saya yang masak, ibu tinggal jualan. Ibu mulai jualan tahun 1960-an," ujarnya, dikutip dari YouTube Kisarasa, Jumat (7/6/2024).
Seiring waktu, dagangan sang ibu kian laris. Sang ibu kemudian membeli rumah di kawasan Jalan Bubutan. Ia lalu membuka warung di dekat rumahnya.
Sepeninggal sang ibu, warung tersebut diteruskan oleh kakak May. Baru setelah sang kakak meninggal, May menempati warung tersebut dan melakukan berbagai inovasi.
"Saya buka warung setelah kakak meninggal. Dulu menunya hanya rawon dan krengsengan, terus saya tambah-tambah sendiri," ujar May.
Advertisement
Advertisement
Ada kisah unik di balik nama Warung Kongdhe milik May. Awalnya, para pembeli mengomentari gaya May menguleg sambal.
"Pas saya nyambal orang-orang melihat, kata mereka bokonge gede (bokongnya besar). Akhirnya banyak yang menyebut ini warung Kongdhe, saya dijuluki Bu Kongdhe," jelas May sambil terkekeh.
Advertisement
Secara bertahap May menambah menu masakannya agar semakin beragam. Kini, warung nasi madura ini punya beberapa menu andalan, di antaranya Sego Selulup, Sego Laut, dan Sego Darat.
Sego Selulup terdiri dari nasi dengan lakuk-pauk campuran antara hasil laut dan darat. Sego Laut terdiri dari nasi dengan berbagai lauk pauk hasil laut, seperti udang, cumi, tongkol, dan lain sebagainya. Sementara Sego Darat terdiri dari nasi dan lauk-pauk yang diperoleh dari darat, misalnya telur, ayam, empal daging, dan lain sebagainya.
"Orang paling banyak suka Nasi Selulup, terdiri dari empal, paru, babat, cumi, jembut Belanda (srundeng) khas Madura," ujar May.
Warung Kongdhe juga menyediakan dua jenis sambal untuk melengkapi nasi campur, yakni sambal jancok dan sambal pencit (mangga muda).
"Sambal Jancok pedes banget, tapi levelnya bisa menyesuaikan sesuai pesanan," imbuh May.
Advertisement
Advertisement
Tidak hanya cita rasa masakannya yang nikmat, warung ini selalu ramai karena penjualnya sangat ramah.
"Orang-orang suka curhat, sales, orang kantoran kalau pusing lari ke sini," ujar May, dikutip dari YouTube Kisarasa.
Chef Renatta dan Chef Juna pun terkesan dengan sosok May. Menurut mereka, sosok May yang hangat dengan gaya bicara ceplas-ceplos menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelanggan warungnya.
"Saya paling suka cumi, krengsengan," kata Chef Juna.
"Makanan sering kali menggambarkan orang yang menyajikan. Melihat makanan yang disajikan (Nasi Selulup) sama Ibu Kongdhe itu sama-sama rusuh, meriah," ungkap Chef Renatta.