Mengenal Ritual Tetaken Pacitan, Prosesi Sakral Wisuda Para Pertapa di Gunung Limo
Merdeka.com - Ritual Tetaken berasal dari bahasa Sanskerta yang maknanya pertapaan. Upacara adat dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat sekitar Gunung Limo tepatnya di Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Dalam pelaksanaannya, ritual yang kental dengan suasana religius ini digelar secara sederhana.
Sejarah ritual Tetaken ini bermula dari kisah pengembaraan Kiai Tunggul Wulung dan Mbah Brayat. Setelah bertapa di Gung Lawu, keduanya akan melakukan pengabdian dengan menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.
Namun, kedua orang ini berpisah di tengah jalan. Mbah Brayat memilih tinggal di Sidomulyo, sementara Kiai Tunggul Wulung memilih lokasi yang sepi di puncak Gunung Limo Kebonagung, seperti dilansir dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI.
Pelaksanaan
Proses pelaksanaan upacara adat Tetaken Gunung Lima dibagi menjadi dua, yakni proses awal dan proses pelaksanaan. Proses awal meliputi tahapan sebo, cantrik, semedi, dan thontongan. Sementara proses pelaksanaan sendiri dibagi menjadi pelaksaan awal dan pelaksanaan inti. Pelaksanaan awal meliputi hasil bumi dan peserta, sementara pelaksanaan inti meliputi mandhap, siraman, padhadaran, kirab, srah srahan, ujuban, doa, dan legen.
Upacara adat yang digelar tanggal 15 Muharram dalam penanggalan hijriah dibuka dengan membunyikan kentungan yang berada di Padepokan Tunggal Wulung serta diiringi langgam lagu Gunung Limo.
Selanjutnya, juru kunci menuju pelataran untuk melaksanakan prosesi nyuceni murid atau membersihkan diri secara simbolik sebagai perwujudan siswa yang suci karena telah menyelesaikan ilmu hubungan manusia dengan alam di Gunung Limo.
Prosesi Menyucikan

©2022 Merdeka.com/Dok. Kemdikbud RI
Prosesi Nyuceni atau menyucikan murid terdiri dari tiga tahapan. Pertama, ikat kepala para murid dilepas sebagai tanda kelulusan. Kedua, satu persatu siswa diberi minum air sari aren yang biasa disebut sajeng. Terakhir, para murid menghadapi tes mental dengan penguasaan ilmu bela diri.
Setelah rangkaian prosesi menyucikan diri, juru kunci memberikan wejangan kepada para murid bahwa tantangan bagi pembawa ajaran kebaikan tidak ringan, banyak ujian dan rintangan berat yang harus dihadapi dalam realitas kehidupan.
Seluruh proses menyucikan diri para murid serta pemberian wejangan oleh juru kunci disaksikan oleh Demang dan seluruh masyarakat Desa Mantren yang hadir dalam upacara Tetaken.
Kemudian, murid yang telah diwisuda diserahkan kepada masyarakat Mantren. Menerima murid dari juru kunci Gunung Limo, Demang Mantren menerima dengan ucapan hamdalah dan bacaan Al Fatihah sebagai rasa syukur karena para murid telah melalui proses pendidikan bertapa di Gunung Limo.
Harapannya, murid dapat membaur dengan masyarakat Desa Mantren sehingga dapat mewujudkan desa yang aman, makmur, sejahtera, dan hidup berdampingan dengan alam sekitar. Kegiatan kemudian diakhiri dengan makan bersama-sama.
(mdk/rka)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya