Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kiai Kholil Bangkalan Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Ini Alasannya

Kiai Kholil Bangkalan Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Ini Alasannya Kiai Kholil Bangkalan. ©2021 Merdeka.com/NU Jatim

Merdeka.com - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Miftachul Akhyar mendukung pemberian gelar pahlawan nasional kepada Syaikhona Muhammad Kholil atau yang lebih dikenal dengan sapaan Kiai Kholil Bangkalan.

"Syaikhona Kholil memang layak mendapatkannya," ujarnya di Surabaya, mengutip dari liputan6.com, Senin (22/3/2021).

Perjuangan

Menurut Miftachul Akhyar, perjuangan Kiai Kholil untuk bangsa Indonesia tidak perlu dipertanyakan lagi. Bahkan beberapa ulama yang menjadi muridnya telah lebih dulu menyandang gelar pahlawan nasional.

"Syaikhona Kholil adalah inspirasi bagi semua anak bangsa, sejak dulu sampai sekarang," ujarnya.

Lebih lanjut, Ketua DPP Bidang Agama dan Masyarakat Adat Partai NasDem Hasan Aminuddin berharap pemerintah bisa memberikan gelar pahlawan nasional untuk Syaikhona Kholil bisa di tahun ini.

Anggota DPR RI itu mengatakan, kendatipun keluarga Syaikhona Kholil tidak memerlukan gelar tersebut, namun pemerintah dinilai wajib memberikan penghormatan kepada ulama yang dikenal sebagai guru para pahlawan nasional saat ini.

Diakui Masyarakat

R Nasih Aschal, salah satu cicit Syaikhona Kholil Bangkalan menyatakan, sebenarnya nama besar Syaikhona Kholil sudah diakui masyarakat terutama kalangan santri dan orang-orang Nahdlatul Ulama. Termasuk peran beliau menggerakkan santrinya, KH Hasyim Asy’ari Jombang (pendiri NU) untuk melawan penjajah. 

“Sejarah perjuangan Syaikhona Cholil terekam begitu kuat, ketika perjuangan santri-santri beliau mendapatkan gelar pahlawan dan berjasa memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” ungkapnya, mengutip dari laman NU Jatim, Selasa (8/9/2020).

Para Murid

Sosok Sayikhona Kholil dikenal sebagai salah satu gurunya para kiai dari berbagai daerah di Indonesia. Beberapa muridnya yang dikenal luas oleh masyarakat yakni KH. Hasyim Asy’ari pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (organisasi terbesar di Indonesia), Kiai Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), Kiai Bisri Syansuri (Jombang), Kiai Abdul Manaf (Lirboyo-Kediri), Kiai Maksum (Lasem), Kiai Munawir (Krapyak-Yogyakarta), Kiai Bisri Mustofa (Rembang Jateng), Kiai Nawawi (Sidogiri), Kiai Ahmad Shiddiq (Jember), Kiai As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Kiai Abdul Majjid (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Toha (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Abi Sujak (Astatinggi Kebun Agung, Sumenep), Kiai Usymuni (Pandian Sumenep), Kiai Muhammad Hasan (Genggong Probolinggo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), Kiai Khozin (Buduran Sidoarjo).

Bahkan, menurut penuturan Kiai As’ad Samsul Arifin, Presiden RI pertama Ir. Soekarno merupakan murid tidak resmi Kiai Kholil Bangkalan. Ketika sowan ke Bangkalan, Kiai Kholil memegang kepala Bung Karno dan meniup ubun-ubunnya (Buku: KH. M. Kholil Bangkalan Biografi Singkat 1835-1925, hlm. 51-53).

Karomah

organisasi islam nahdlatul ulama

©2020 Merdeka.com/nu.or.id

Kiai Kholil Bangkalan dikenal memiliki banyak karomah. Sekitar tahun 1924, beliau mengutus santrinya yang bernama As’ad untuk mengirimkan tongkat dan tasbih kepada KH Hasyim Asy’ari. Tongkat dan tasbih itu menjadi isyarat langit yang dicari Kiai Hasyim Asy’ari. Kemudian terbentuklah Nahdlatul Ulama, yang kini menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Sebelumnya, pada tahun 1920, sebanyak 67 ulama Nusantara berkumpul di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Selama sebulan, mereka bermukim di rumah Kiai Muntaha yang terletak di Desa Jengkebuen. Tujuan perkumpulan itu yakni untuk membahas kemunculan aliran baru yang gencar menyiarkan pemurnian ajaran Islam yang hanya berpedoman pada Al-Quran dan Hadis yang kemudian dikenal dengan nama Wahabi.

Para ulama resah karena aliran baru itu mengharamkan tahlil dan ziarah kubur, salah satu ajaran yang sudah lama dipraktikkan pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dibawa Wali Songo ke tanah Jawa. Namun, mereka tidak menemukan solusi untuk meredam Wahabi.

Mereka pun sepakat membutuhkan fatwa Kiai Kholil Bangkalan yang tidak lain ialah mertua Kiai Muntaha. Belum sempat Kiai Muntaha menemui sang mertua, Kiai Kholil mengutus seorang muridnya ke rumah Kiai Muntaha. Kepada Nasib, muridnya, Kiai Kholil memintanya membaca surat As-Shaaf ayat 8 dan 9 kepada para ulama yang sedang berkumpul di rumah menantunya.

Setelah Nasib selesai membacakan ayat suci Al-Qur'an itu, para ulama puas dan kemudian pulang. Ayat itu menjadi fatwa yang mereka tunggu atas munculnya gerakan yang dicetuskan ulama Arab Saudi, Ibnu Abdul Wahhab yang pengaruhnya begitu kuat setelah Kota Mekkah ditaklukkan Kepala Suku bernama Al-Saud yang kemudian mendirikan kerajaan.

"Itulah karomah Kiai Kholil. Sudah tahu jawaban atas sebuah pertanyaan yang belum disampaikan," ujar Kiai As'ad.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP