Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Hasil Panen Melimpah tapi Harga Anjlok, Petani Lereng Bromo Lakukan Hal Ini

Hasil Panen Melimpah tapi Harga Anjlok, Petani Lereng Bromo Lakukan Hal Ini Ilustrasi petani kubis. ©2020 Merdeka.com/liputan6.com

Merdeka.com - Pemilik akun facebook Tunjunk M membagikan cerita tentang petani lereng Gunung Bromo pascapanen kubis di grup facebook INFO WARGA PROBOLINGGO pada Minggu, 20 September 2020. Dalam unggahan itu, Tunjunk menyertakan sebuah foto yang menunjukkan kegiatan petani membagikan kubis kepada warga.

Tindakan ini dilakukan lantaran harga kubis di pasaran anjlok. Sementara hasil panen melimpah. Para warga pun memberi respons baik. Mereka menerima kubis pemberian para petani untuk diolah menjadi berbagai masakan.

Respons Positif

hasil panen melimpah tapi harga anjlok petani lereng bromo lakukan hal ini

©2020 Merdeka.com/wartabromo.com

Jika sebagian petani di daerah memilih membakar kubis saat harga di pasaran anjlok, petani lereng Gunung Bromo yang juga masyarakat suku Tengger di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo tidak melakukannya, seperti dilansir wartabromo.com (21/9/2020). Mereka justru membagikan kubis kepada warga di kecamatan lain.

Salah satu petani yang melakukan aksi bagi-bagi kubis yakni Kepala Desa Wonokerto, Heri Dwi. Dengan menggunakan pick up, ia membawa kubis hasil panennya ke Desa Brabe, Kecamatan Maron. Tak butuh waktu lama, kubis-kubis itu sudah berpindah tangan kepada para warga Desa Brabe.

“Kebetulan kemarin saya ke sana (Brabe), sekalian aja membawa kubis. Alhamdulillah, ternyata banyak yang minat. Hal seperti ini juga bentuk syukur terhadap rezeki yang diberikan meskipun harga murah,” jelas Heri.

Cara Bersyukur

ilustrasi petani kubis

©2020 Merdeka.com/liputan6.com

Menurut penjelasan Heri, saat ini harga jual kubis tidak berpihak pada petani. Kubis di ladang dihargai Rp200 per kilogram oleh tengkulak.

“Jadi memang murah. Tetapi kami sebagai warga Tengger tidak melakukan aksi seperti yang dilakukan petani lain,” lanjutnya.

Selain dibagikan kepada warga, para petani membiarkan tanaman kubis tetap di ladang. Harapannya, kubis yang membusuk bisa menjadi pupuk organik. Cara itu dianggap sebagai wujud syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa.

“Budaya Suku Tengger yang memang sangat menghargai setiap rezeki dari Tuhan. Kalau murah, sudah dibiarkan begitu saja di ladang, nggak pernah sampai dibakar atau dibuang sebagai bentuk kekecewaan,” ungkap Heri.

Petani juga punya opsi lain dalam menyikapi harga jual kubis. Jika harga kubis di pasaran tak kunjung naik, sayur itu akan diberikan kepada wisatawan yang melintas di jalur wisata Gunung Bromo.

“Rencananya begitu. Harapan kami, ketika itu dilaksanakan, bisa mendongkrak jumlah pengunjung Gunung Bromo,” pungkasnya.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP