Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Gerbong Maut, Jejak Masa Kelam Para Pejuang Indonesia di Bondowoso

Gerbong Maut, Jejak Masa Kelam Para Pejuang Indonesia di Bondowoso Gerbong Maut Bondowoso. ©2020 Merdeka.com/kebudayaan.kemdikbud.go.id

Merdeka.com - Salah satu peristiwa sejarah memilukan terjadi di Bondowoso, Jawa Timur. Hari itu 23 November 1947 atau beberapa bulan setelah Agresi Militer Belanda I, sebanyak 116 pejuang Indonesia ditangkap Belanda.

Tiga tahun sejak Indonesia merdeka, bukan berarti kemerdekaan penuh telah tergapai. Belanda menyatakan sikap belum rela melihat negara jajahannya meraih kedaulatan.

Belanda berusaha menguasai aset-aset penting Indonesia, salah satunya ialah jalur perkeretaapian. Ratusan pejuang yang ditangkap kemudian diarak ke Stasiun Bondowoso.

Seperti dikutip Merdeka dari bumn.go.id, para pejuang yang tertangkap Belanda itu sebelumnya ditahan di Penjara Bondowoso. Pada hari nahas itu, Belanda bermaksud memindahkan para tawanan pro-kemerdekaan Indonesia ke Penjara Bubutan di Surabaya.

Tujuan Belanda membawa para tawanan pro-kemerdekaan Indonesia menuju Surabaya ialah untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Selain itu juga untuk mencegah para tawanan mengulangi perbuatannya serta mencegah mereka melarikan diri dari penjara.

Dari Stasiun Bondowoso, para tawanan diangkut dengan gerbong pengangkut barang menuju ke Surabaya. Saat itu, ada 3 gerbong yang digunakan oleh Belanda.

Ketiga gerbong itu adalah gerbong dengan kode GR 10152, GR 4416, dan GR5769. Gerbong pertama digunakan untuk mengangkut 38 orang tawanan. Gerbong kedua mengangkut 29 tawanan, dan gerbong ketiga diisi oleh 33 orang tawanan. Salah satu gerbong itu kini menjadi koleksi di Museum Brawijaya, Malang.

Perjalanan Maut

gerbong maut bondowoso

2020 Merdeka.com/kebudayaan.kemdikbud.go.id

Perjalanan yang ditempuh dari Stasiun Bondowoso ke Stasiun Wonokromo di Surabaya membutuhkan waktu sekitar 16 jam. Dari Bondowoso, ketiga gerbong kereta yang berisi tawanan Indonesia diberangkatkan sekitar pukul lima pagi. Rombongan kereta itu sampai di Surabaya sekitar jam delapan malam.

Selama perjalanan itu, para tawanan tidak mendapatkan makan dan minum. Mereka juga tidak memiliki akses udara yang cukup. Sifat gerbong pengangkut barang yang minim ventilasi membuat para pejuang pro-kemerdekaan Indonesia di dalamnya kesulitan mendapat oksigen. Ditambah teriknya matahari yang membuat kereta berbahan baja dan beratap seng itu terasa lebih panas.

Hasilnya, sebanyak 46 pejuang pro-kemerdekaan Indonesia tewas dalam perjalanan itu. Gerbong pertama dengan kode GR5769 yang sama sekali tidak memiliki ventilasi menewaskan seluruh penumpang di dalamnya yang berjumlah 38 orang.

Di gerbong kedua dan ketiga total tawanan yang tewas ada 8 orang. Sementara itu, kondisi para tawanan lain terperinci sebagai berikut, 12 orang sakit parah, 30 orang tawanan lemas tak berdaya, dan 12 orang tawanan berhasil selamat.

Ketika baru sampai di Stasiun Kalisat, Bondowoso, sudah ada empat orang tawanan yang tewas dalam perjalanan itu. Begitu sampai di Stasiun Jember, korban yang tewas bertambah tujuh orang.

Total korban tewas dari Bondowoso sampai Jember sudah mencapai 11 orang. Di Stasiun Jember itu, Belanda sempat menghentikan kereta dalam waktu cukup lama.

Selama sekitar 3 jam, ketiga gerbong yang berisi para tawanan Indonesia dibiarkan berada persis di bawah matahari yang sedang terik-teriknya. Tragedi nahas itu kemudian dikenal dengan Tragedi Gerbong Maut Bondowoso.

Diabadikan di Museum Kereta Api Stasiun Bondowoso

museum kereta api bondowoso

2020 Merdeka.com/heritage.kai.id

Cerita para pejuang pro-kemerdekaan Indonesia yang disekap Belanda dalam gerbong barang itu kemudian diabadikan di Museum Kereta Api Stasiun Bondowoso. Diresmikan pada 17 Agustus 2016, Museum Kereta Api Stasiun Bondowoso ini menjadi museum perkeretaapian pertama di Jawa Timur.

Museum ini menampilkan koleksi bertaut perkeretaapian yang dimiliki Stasiun Bondowoso. Di museum ini ada plakat yang memberi penjelasan mengenai peristiwa Gerbong Maut yang menewaskan puluhan pejuang pro-kemerdekaan Indonesia.

Sebelum dialihfungsikan sebagai museum, Stasiun Bondowoso sudah lebih dulu dinonaktifkan pada tahun 2004. PT Kereta Api Indonesia (KAI) menghentikan seluruh operasi kereta di stasiun ini. Sebabnya, prasarana yang dimiliki sudah mulai usang dan sepi peminat.

Bangunan Stasiun Bondowoso sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur PT KAI. Alasan yang mendasari Stasiun Bondowoso kemudian dijadikan museum kereta api ialah untuk mengenang Tragedi Gerbong Maut Bondowoso yang menewaskan para pejuang pro-kemerdekaan Indonesia pada 1947 silam.

Museum ini menjadi museum perkeretapian keempat di Indonesia, setelah Ambarawa, Sawahlunto, dan Lawang Sewu. Dibandingkan dengan ketiga museum itu, koleksi di Museum Kereta Api Stasiun Bondowoso lebih terbatas.

Koleksi museum ini antara lain handel persinyalan mekanik Alkmaar, tiket Edmondson, miniatur-miniatur lokomotif dan kereta penumpang zaman uap, salinan foto-foto sejarah, serta mebel/furnitur pendukung administrasi stasiun.

Selain itu juga ada atribut perusahaan, seperti telepon otomatis (toka), stempel, handsign, mesin tik, tongkat Semboyan 40, dan reglemen perusahaan. Kadangkala di museum ini juga diputar film-film yang mendokumentasikan kereta api pada zaman dahulu. Serta terdapat informasi mengenai peristiwa Tragedi Gerbong Maut Bondowoso.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP