23 Desember 1933: Kelahiran Akihito, Kaisar Jepang Era Heisei
Merdeka.com - Pada 23 Desember merupakan hari lahir Akihito, Kaisar Jepang ke 125 yang memerintah sejak 7 Januari 1989 hingga pengunduran dirinya pada 30 April 2019. Kepemimpinan Akihito dikenal sebagai Era Heisei, yang memiliki makna "mencapai perdamaian" atau "perdamaian di mana pun."
Lahir di Kekaisaran Jepang pada tahun 1933 dengan nama asli Tsugu Akihito, ia adalah putra pertama Kaisar Showa dan Permaisuri Kojun. Selama Perang Dunia Kedua, Akihito pindah dari Tokyo dan tinggal di Nikko sampai tahun 1945.
Tahun 1952, upacara Kedewasaan dan pelantikannya sebagai putra mahkota diadakan, dan ia pun mulai melakukan tugas resmi dalam kapasitasnya sebagai putra mahkota. Pada 8 Agustus 2016, Akihito mengisyaratkan keinginannya untuk turun tahta. Namun baru pada tahun 2019 lah ia mundur secara resmi dari tahta kekaisaran Jepang. Berikut kisah hidupnya.
Kelahiran dan Masa Kecil Akihito
Tsugu Akihito lahir pada 23 Desember 1933 di Tokyo, Jepang, dan menjabat sebagai kaisar Jepang dari tahun 1989 hingga 2019. Sebagai keturunan dari keluarga kekaisaran tertua di dunia, menurut tradisi ia adalah Keturunan langsung ke-125 dari Jimmu, kaisar pertama legendaris Jepang.
Akihito adalah anak kelima dan putra sulung Kaisar Hirohito dan Permaisuri Nagako. Selama tahun-tahun awalnya dia dibesarkan dengan cara kekaisaran tradisional, memulai pendidikannya di Peers’ School pada tahun 1940. Dirinya tinggal di luar Tokyo selama tahun-tahun terakhir Perang Dunia II dan kembali ke Peers’ School (dari tahun 1949 Gakushūin) setelah perang.
Karena adanya perubahan akibat perang bagi masyarakat Jepang, yang di antaranya adalah penghapusan kekuasaan kaisar untuk memerintah dengan cara apa pun selain secara seremonial, pendidikan Akihito pun diperluas hingga mencakup pelatihan dalam bahasa Inggris dan budaya Barat.
Mengutip laman britannica.com, tutornya adalah Elizabeth Gray Vining, seorang Quaker Amerika. Seperti ayahnya, Akihitiko juga akhirnya mendalami minat di biologi kelautan dan menjadikannya sebagai bidang usahanya.
Menikah dengan Rakyat Jelata
Pada tahun 1952 Akihito yang telah beranjak dewasa pun diangkat sebagai pewaris takhta kekaisaran Jepang. Pada Agustus 1957, Akihito bertemu Michiko Shoda di lapangan tenis di Karuizawa dekat Nagano. Namun kelas Michiko Shoda dianggap terlalu rendah untuk Putra Mahkota muda, apalagi Michiko telah dididik di lingkungan Katolik.
Pada bulan September 1958 Michiko dikirim ke Brussel untuk menghadiri konferensi internasional Alumnae du Sacré-Cœur. Putra Mahkota pun bertekad untuk tetap berhubungan dengannya tetapi tidak ingin membuat insiden diplomatik. Oleh karena itu, Akihito menghubungi Raja Baudouin muda dari Belgia untuk membawa pesannya langsung kepada Michiko.
Belakangan, Raja Baudouin juga merundingkan pernikahan pasangan itu dengan Kaisar di mana Raja secara langsung menyatakan bahwa jika Putra Mahkota bahagia dengan Michiko, maka nantinya ia akan menjadi kaisar yang lebih baik di kemudian hari. Dengan melanggar tradisi berusia 1.500 tahun, Akihito pun berhasil menikah dengan Shoda Michiko, orang biasa yang merupakan putri seorang pengusaha kaya.
Pernikahannya adalah pernikahan kekaisaran pertama yang disiarkan televisi di Jepang, menarik sekitar 15 juta penonton. Michiko adalah lulusan universitas Katolik Roma untuk wanita di Tokyo. Anak pertama mereka, Putra Mahkota Naruhito, lahir pada 23 Februari 1960; dia diikuti oleh Pangeran Akishino (lahir 30 November 1965) dan Putri Nori (lahir 18 April 1969).
Kekuasaan dan Pengunduran Diri
Akihito resmi menjadi kaisar pada 7 Januari 1989 setelah kematian ayahnya. Ia secara resmi dinobatkan pada 12 November 1990. Pemerintahannya disebut Era Heisei, atau "Mencapai Perdamaian." Akihito dan Michiko berkeliling dunia sebagai duta niat baik untuk Jepang.
Kaisar Akihito membuat pidato pertamanya di televisi pada tahun 2011, setelah gempa bumi dan tsunami menghancurkan timur laut Honshu. Bencana tersebut merenggut nyawa hampir 20.000 orang dan menyebabkan kecelakaan nuklir terburuk kedua dalam sejarah di pembangkit listrik Fukushima Daiichi.
Pada 8 Agustus 2016, Akihito menyampaikan pidato keduanya di televisi, mengisyaratkan keinginannya untuk turun tahta. Kemudian pada usia 82 tahun, kaisar membahas kesehatannya yang menurun, menyatakan bahwa akan menjadi sulit baginya untuk menjalankan tugas sebagai kepala negara.
Pidato tersebut dipandang sebagai seruan kepada anggota parlemen Jepang untuk mengubah Undang-Undang Rumah Tangga Kekaisaran tahun 1947, yang menentukan garis suksesi kekaisaran. Undang-undang tidak memasukkan proses turun tahta atau menentukan siapa yang akan menggantikan Akihito sebagai kaisar jika dia pensiun.
Pada Juni 2017, Diet pun memberlakukan undang-undang khusus yang memungkinkan Akihito turun tahta, dan pada 1 Desember 2017, Akihito meresmikan niatnya. Pada 30 April 2019, dia mengundurkan diri dan menyerahkan tahta kepada Putra Mahkota Naruhito.
(mdk/edl)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya