Terkandung Banyak Mantra, Ini 3 Fakta Unik Kitab Primbon Mangkuprajan
Merdeka.com - Museum Radya Pustaka di Kota Solo merupakan salah satu museum tertua di Indonesia. Tak hanya berisi benda-benda peninggalan zaman dahulu, di dalamnya juga tersimpan manuskrip-manuskrip kuno. Salah satu manuskrip itu adalah Kitab Primbon Mangkuprajan yang ditulis pada abad ke-17.
Melansir dari Liputan6.com, Kitab Primbon Mangkuprajan berisi tentang kumpulan naskah dan potongan doa. Kitab itu memiliki tebal 327 halaman dan ditulis sekitar tahun 1785-1815 saat Kraton Surakarta dipimpin oleh Pakubuwono IV.
“Ini merupakan buku kumpulan. Yang mengumpulkan adalah KRA Mangkupraja yang menjabat Pepayih Dalem Pakubuwono IV,” tutur Kurnia Heniwati, bagian pengelolaan manuskrip Museum Radya Pustaka Solo.
Selain berisi kumpulan doa, di dalam Kitab Mangkuprajan terkandung banyak mantra. Mantra apa saja? Berikut selengkapnya:
Sudah Rapuh

©2021 Liputan6.com
Karena umurnya yang sudah sangat tua, Kitab Primbon Mangkuprajan yang ada di Museum Radya Pustaka kondisinya sudah amat rapuh. Bahkan ada beberapa bagian kecil yang dimakan rayap dan beberapa lembar kertas nyaris lepas dari penjilidan.
Selain ditulis dalam huruf Jawa Kuno, sebagian naskah ditulis dengan gaya Pegon, yaitu Bahasa Jawa yang ditulis dengan tulisan Arab. Keunikan lain dari kitab itu adalah beberapa lembarnya yang dijilid terbalik.
“Buku ini jarang diminati pengunjung. Mungkin karena gaya penulisannya masih Jawa Kuno dan Pegon. Jadi tidak semua orang bisa memahaminya,” terang Kurnia, mengutip dari Liputan6.com.
Kandungan Kitab Primbon Mangkuprajan

©2021 Liputan6.com
Kurnia menjelaskan, Kitab Primbon Mangkuprajan berisi tentang doa, rajah, ramalan, pengetahuan, filsafat, tasawuf, dan sejarah dinasti Jawa.
“Termasuk catatan lain tentang sejarah Kraton Solo pada akhir abad ke-18 hingga 19,” kata Kurnia.
Tak hanya itu, kitab tersebut ternyata juga berisi mantra pengasihan alias pelet asmara. Konon jika seorang lelaki mengucapkan mantra ini, wanita manapun bisa ditaklukkan dengan mudahnya.
Harus Hati-Hati
Kurnia menerangkan, pada manuskrip halaman 10-25 berjudul “Azimat Tuwin Donga”, ada muatan beberapa guna-guna, doa, dan mantra yang kebanyakan tentang mantra pengasihan. Mantra ini ditulis dalam gaya Pegon dengan gambar rajah.
“Harus hati-hati untuk mempelajarinya. Kalau untuk tujuan buruk, bagian yang dicari tidak akan ketemu,” tegas Kurnia dikutip Merdeka.com dari Liputan6.com pada Senin (30/8).
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya