Tak Mau Terkenal, Begini Kisah Putra Raja Sumba yang Memilih Jadi Sastrawan
Merdeka.com - Umbu Landu Panggarani merupakan seorang sastrawan yang sering disebut sebagai tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia sejak tahun 1960-an. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa esai dan puisi yang sudah dipublikasikan di berbagai media massa. Melansir dari Wikipedia, dia lah guru dari para seniman muda di tahun 1970-an seperti Ehma Ainun Najib (Cak Nun), Eko Tunas, Linus Suryadi AG, dan Ebiet G. Ade.
Tak banyak yang tahu, di kampung halamannya di Sumba, Nusa Tenggara Timur, Umbu adalah seorang ningrat di mana gelar putra mahkota disandangnya. Maka dari itu tak heran, Cak Nun, salah satu muridnya pernah bercerita kalau Umbu selalu mendapat kiriman wesel yang cukup besar.
“Maklum, dia adalah anak raja sehingga Umbu menjadi sosok sastrawan yang mampu beli baju, jaket jeans, dan juga celana jeans. Itu sering banget. Jadi yang lama dan masih bagus akhirnya diwariskan ke murid-muridnya,” kata Eko Tunas yang juga menjadi salah satu murid Umbu mengutip dari Liputan6.com pada Selasa (6/4). Berikut selengkapnya.
Sosok Eksentrik

©Kemdikbud.go.id
Pada 1970-an, Umbu mendirikan Persada Studi Klub (PSK), sebuah komunitas penyair, sastrawan, dan seniman yang berpusat di Malioboro, Yogyakarta. Walaupun cukup disegani di Kawasan Malioboro waktu itu, namun Umbu selalu ingin menjauh dari popularitas dan sorot publik. Selama tinggal di Jogja, dia sering menggelandang sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas yang tak lain adalah karya-karya puisinya sendiri.
Bagi para pecinta seni, Umbu ibarat “pohon rindang” yang menaungi bahkan mendidik para sastrawan kelas atas. Namun ia menyebut dirinya sebagai pupuk saja. Pernah dipercaya memegang rubik puisi di koran Mingguan Pelopor Yogya, dia menghabiskan hari tuanya di Bali sambil mengasuh rubik Apresiasi di Bali Post.
Punya Cara Unik Mengekspresikan Cinta

©Kemdikbud.go.id
Cak Nun bercerita, pernah suatu hari saat musim libur kampus, Umbu begitu rindu dengan gadis yang ia taksir. Maka dari itu ia pamit ke Surabaya dan berangkat sendiri untuk menemui gadis itu pada malam harinya. Sesampainya di Surabaya, hari sudah pagi. Tak lama di Surabaya, dia langsung kembali lagi ke Yogyakarta.
“Sudah ketemu? Habis itu lanjut ngobrol di ruang tamu?” tanya Cak Nun kepada Umbu dalam bahasa Jawa.
“Tidak. Aku cuma lewat depan rumahnya. Itu saja sudah cukup,” jawab Umbu.
Rela Menunggu Berjam-Jam

©2021 Liputan6.com
Di lain waktu, Umbu ingin menjemput perempuan yang ditaksirnya saat kembali pulang ke Yogyakarta. Untuk itu lah dia mengajak Cak Nun ngopi di sebuah warung yang dekat dengan pemberhentian bus di mana gadis itu turun.
Selama berjam-jam, matanya tertuju pada tempat pemberhentian bus itu sambil menanti kedatangan sang gadis. Saat bus berhenti dan sang gadis turun, Umbu terus melihatnya tanpa berkedip sampai perempuan itu menghilang.
Saat di jalan pulang, tampak kebahagiaan menghiasi Umbu. Untuk melihat bayangan sang gadis pujaan sampai menghilang di tengah kegelapan, dia sampai rela menunggu berjam-jam di warung kopi.
Seorang Bohemian Sejati

©2021 Liputan6.com
Eko Tunas mengatakan bahwa Umbu Landu Paranggi merupakan sosok penting yang mampu menjadi katalisator bagi mereka yang berpotensi menjadi sastrawan, pura-pura nyastra, ataupun yang sok sastrawan. Apalagi, politik identitas mulai masuk ke dalam sastra di mana komunitas sastra makin terkelompok-kelompokkan dan membentuk identitas masing-masing.
Bagi Eko Tunas, Umbu adalah seorang bohemian sejati. Walaupun seorang putra mahkota, ia memilih hidup sederhana dan penuh romantika. Dalam menabung, ia tak kenal bank, melainkan ia simpan sendiri di kaleng. Karena tak mengenal ponsel, komunikasinya dengan para sahabat dan murid-muridnya kadang menggunakan telepati.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya