Pada 2019, Sofyani Mirah (51) memutuskan untuk meninggalkan dunia kerjanya setelah lebih dari 20 tahun menjadi karyawan swasta. Ia merasa bahwa berwirausaha akan memberinya fleksibilitas lebih untuk mengurus keluarga. Namun, langkah ini tidak diambil secara impulsif. Sofy membutuhkan waktu untuk menentukan bidang usaha yang tepat.
“Saat itu saya bingung mau usaha apa karena selama ini tidak pernah punya pengalaman bisnis. Ternyata memulai usaha itu tidak semudah yang saya bayangkan,” cerita Sofy kepada merdeka.com ketika ditemui di kantor Bananania pada Sabtu (22/2/2025).
Dengan banyak riset dan pengamatan langsung ke pasar, Sofy menemukan fakta menarik. Ternyata Indonesia adalah salah satu negara penghasil pisang terbesar di dunia, namun banyak pisang yang terbuang sia-sia. Dari sanalah ide awal Bananania muncul—mengolah pisang menjadi produk bernilai tambah agar tidak hanya menjadi limbah.
Advertisement
Saat awal merintis, Sofy tidak memiliki pengalaman bisnis. Perempuan lulusan SMA yang sedang menempuh studi sarjana di Universitas Terbuka jurusan Manajemen ini mencoba berbagai cara hingga menemukan potensi besar dalam inovasi berbasis pisang.
Memulai usaha dengan modal awal Rp10 juta, waktu itu Sofy memproduksi aneka keripik pisang dengan berbagai rasa dan menjualnya ke toko-toko. Namun, ia menyadari bahwa pasar keripik pisang sudah sangat kompetitif. Oleh karena itu, ia mulai mencari celah untuk berinovasi.
“Kalau hanya membuat keripik pisang saja, pesaingnya terlalu banyak. Saya harus mencari inovasi agar usaha ini bisa bertahan,” ujar Sofy.
Pada 2020, ketika pandemi Covid-19 melanda, tren pola hidup sehat meningkat. Sofy melihat peluang untuk mengembangkan produk yang lebih sehat. Ia mulai bereksperimen dengan berbagai inovasi, termasuk produk diet berbasis pisang.
“Saat pandemi, saya banyak membaca bahwa obesitas meningkatkan risiko kematian akibat Covid-19. Saya jadi terpikir untuk membuat produk diet dari pisang,” jelasnya.
Melalui eksperimen dan pengembangan produk, Bananania meluncurkan berbagai inovasi berbasis pisang yang lebih sehat. Tidak hanya itu, produk ini juga didesain untuk mendukung kebutuhan orang-orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
Advertisement
Pada 2021 menjadi titik penting bagi Bananania dengan lahirnya tepung pisang sebagai alternatif gluten-free. Sofy menyadari bahwa banyak produk di Indonesia masih bergantung pada tepung terigu impor, padahal ada potensi besar dari sumber daya lokal.
“Saya berpikir, kenapa kita tidak buat sendiri dari pisang. Tepung pisang ini ternyata bagus untuk penderita GERD dan anak-anak autis karena mereka membutuhkan makanan gluten-free,” ungkapnya.
Namun, memperkenalkan produk baru ini ke pasar tidak mudah. Sofy bahkan sempat mengalami masa sulit karena produknya tidak banyak dikenal.
“Saya pernah menawarkan tepung pisang ini ke toko kue terkenal di Jogja, tapi tidak ada yang mau membeli,” kenangnya.
Untuk membuktikan kualitasnya, pada tahun 2022 Sofy mulai mengolah tepung pisang menjadi cookies 100 persen gluten-free. Langkah ini berhasil menarik perhatian dan membuktikan bahwa tepung pisang benar-benar bisa menjadi alternatif terigu yang sehat.
Gunakan Energi Solar Cell untuk Pengeringan
Bananania tidak hanya berinovasi dalam produknya, tetapi juga dalam proses produksinya. Alih-alih menggunakan gas atau listrik konvensional, mereka mengandalkan solar cell dalam proses pengeringan pisang sebelum diolah menjadi tepung.
“Pengeringan kami tidak menggunakan gas atau listrik, tapi menggunakan tenaga surya. Semua produksi masih kami lakukan di Jogja,” kata Sofy.
Meski skala produksinya belum terlalu besar, ia berharap ke depannya dapat membangun pabrik untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Keunikan lain dari tepung pisang Bananania adalah komitmennya dalam menjaga kualitas alami produk. Warna cokelat yang muncul dalam tepungnya merupakan hasil alami dari pati pisang yang terpapar panas, bukan karena tambahan bahan lain. Ini menjadi salah satu nilai jual utama yang membedakan produknya di pasaran.
Advertisement
Selain terus berinovasi, Bananania juga berkomitmen untuk menerapkan konsep zero waste. Tidak hanya daging pisangnya yang dimanfaatkan, tetapi juga kulit pisang yang diolah menjadi pakan ternak.
“Semua bagian pisang kami manfaatkan, tidak ada yang terbuang,” ujar Sofy.
Pada 2023, Bananania memperkenalkan produk baru, yaitu rambak pisang yang dibuat dari pisang matang. Produk ini semakin memperkuat konsep keberlanjutan yang diterapkan oleh Bananania.
Dalam perjalanannya, Bananania juga mulai menjalin kerja sama strategis dengan berbagai pihak. Saat ini, produk Bananania telah tersedia di Palang Merah Indonesia (PMI) Sleman, kereta jarak jauh KAI, serta berbagai hotel seperti Alana, Ibis, dan 101.
Advertisement
Perjalanan Bananania tidak berhenti di pasar lokal Indonesia. Produk ini mulai menarik perhatian buyer luar negeri setelah Sofy mengikuti berbagai pameran internasional yang difasilitasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta ITPC (Indonesia Trade Promotion Center). Dari pameran ini, produk Bananania kini tersedia di Jeddah dan Malaysia.
Salah satu pencapaian terbesar adalah kerja sama dengan Archipelago, sebuah perusahaan di Kanada. Melalui sistem maklon lisensi, produk Bananania kini dijual di Kanada dengan kemasan dari perusahaan tersebut, meskipun tanpa merek Bananania.
“Meskipun tidak ada nama Bananania, tetap ada keterangan ‘Produced by CV Cariza Khansa Pratama, Yogyakarta, Indonesia’ sebagai bentuk identitas produk,” kata Sofy.
Selain Kanada, pesanan juga datang dari Filipina dan Malaysia. “Malaysia bahkan memesan dalam dua ukuran, besar dan kecil, yang siap kami kirim,” tambahnya.
Berkat ketekunan berinovasi dan memanfaatkan peluang, misinya untuk memperkenalkan olahan pisang sehat ke masyarakat luas mengantarkannya pada kesuksesan.
Berawal dari modal Rp10 juta untuk memulai bisnis, kini Bananania mampu memperoleh omzet Rp200 juta per bulan di usia bisnisnya yang memasuki tahun keenam.
Advertisement
Kesuksesan Bananania tidak terlepas dari peran Bank BRI. Sofy mengaku sangat terbantu dengan adanya bantuan dari BRI.
Seperti diketahui, Bank BRI terus menjalankan berbagai program pemberdayaan UMKM yang berfokus pada pengembangan usaha, digitalisasi dan akses pasar.
Sofy pun menjadi salah satu pelaku UMKM yang merasakan keuntungan dari program-program Bank BRI. Sofy mulai mengenal program-program Bank BRI sejak bergabung dengan Rumah BUMN BRI Yogyakarta (RuBY) pada 2019. Program ini memberikan berbagai pelatihan bagi UMKM, mulai dari strategi bisnis hingga pemasaran.
“Saya pertama kali ikut pelatihan hidroponik di Rumah BUMN, lalu mulai masuk ke berbagai program lainnya,” kata Sofy.
Sedangkan salah satu program yang paling berdampak bagi Bananania adalah BRILianpreneur, pameran UMKM yang diselenggarakan oleh Bank BRI. Sofy pertama kali mengikuti acara ini pada tahun 2021, dan sejak itu aktif terlibat setiap tahunnya.
“BRILianpreneur adalah pameran terbaik yang pernah saya ikuti. Semua diatur dengan sangat rapi, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga konsumsi,” jelasnya.
Tak hanya mendapat pelatihan dan akses pasar, Bank BRI juga membantu Bananania dalam mendapatkan sertifikasi halal untuk produknya. Program ini mempermudah Bananania dalam memperluas pasar dan meningkatkan kepercayaan konsumen.
“Waktu itu, sekitar tahun 2021-2022, sertifikasi halal masih berbayar, tapi saya mendapatkan bantuan dari BRI,” ujarnya.
Pengajuan KUR BRI untuk Mengembangkan Usaha
Pada 2024, Sofy mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BRI sebesar Rp450 juta untuk membeli lahan di daerah Jakal Km 14, Sleman, Yogyakarta. Tujuan Sofy mengambil KUR untuk memperdalam pemahaman dari hulu ke hilir dalam industri pisang.
"Saya ingin belajar dari hulu ke hilir, jadi saya beli lahan untuk ditanami pisang," cerita Sofy.
Dengan strategi ini, Bananania dapat memastikan pasokan bahan baku lebih stabil dan berkualitas.
Selain pembiayaan, Bank BRI juga memberikan kemudahan lain, termasuk layanan pengambilan setoran dalam jumlah besar.
"Banyak dibantu, kalau saya mau setor dalam jumlah besar, pihak Bank BRI yang datang mengambil, sehingga sangat memudahkan UMKM seperti kami," ujarnya.
Advertisement
Keikutsertaan dalam pameran yang diadakan oleh BRI membawa dampak besar bagi Bananania. Pada BRI UMKM EXPO(RT) BRILianpreneur 2025 lalu, produk Bananania habis terjual di hari keempat.
Ketika mengikuti pameran UMKM yang diadakan pada 30 Januari hingga 2 Februari lalu, Sofy membawa 650 produk Bananania. Itu lebih banyak dibanding tahun sebelumnya yang hanya membawa 500 produk dan semuanya habis terjual.
"Di hari keempat jam 12 siang, saya sudah kehabisan barang," kata Sofy.
Sofy sempat ragu ketika mengikuti BRILianpreneur 2025 yang diadakan di ICE BSD Tangerang, karena lokasi acara yang jauh dari pusat kota Jakarta. Namun Sofy tidak menyangka, ternyata antusiasmenya luar biasa.
Selain menjual produk, pameran ini juga membuka peluang kerja sama baru. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi dalam pameran tidak hanya sekadar meningkatkan penjualan tetapi juga memperluas jaringan bisnis.
"Ada toko modern dari Jakarta yang kini meminta kerja sama dengan kami," tambahnya.
Advertisement
BRI UMKM EXPO(RT) 2025 resmi ditutup pada 2 Februari 2025 setelah berlangsung selama empat hari di ICE BSD City, Tangerang. Acara ini mencatatkan pencapaian luar biasa dengan lebih dari 63 ribu pengunjung, jauh melampaui target awal sebanyak 50 ribu pengunjung.
Selain itu, selama tiga hari pelaksanaan, transaksi yang terjadi selama acara mencapai Rp38,9 miliar, melampaui target Rp38 miliar selama empat hari pelaksanaan acara.
Dari sisi business matching, komitmen kesepakatan yang berhasil direalisasikan mencapai USD 90,6 juta atau sekitar Rp1,5 triliun, melebihi target awal sebesar USD 89,4 juta. Hal ini menunjukkan UMKM Indonesia semakin diminati di pasar global.
Direktur Utama BRI, Sunarso, menyampaikan keberhasilan ini tidak hanya membuka peluang bisnis bagi UMKM, tetapi juga meningkatkan daya saing produk lokal di kancah internasional.
“Hingga kegiatan closing ceremony, total jumlah pengunjung yang menghadiri expo mencapai lebih dari 63 ribu pengunjung, pencapaian tersebut melampaui target sebanyak 50 ribu pengunjung dalam 4 hari,” kata Sunarso mengutip situs BRI.
BRI UMKM EXPO(RT) 2025 berhasil mempertemukan berbagai elemen dalam ekosistem bisnis, dari pengunjung lokal hingga pembeli internasional. Acara ini tidak hanya memperkenalkan produk-produk kreatif lokal Indonesia, tetapi juga membuka peluang kerja sama yang menguntungkan bagi pelaku UMKM.