Bukan Tentara, Ini Sosok Penemu Ransum TNI saat Perang Kemerdekaan

Kecerdikan Sardjito dalam membuat ransum melahirkan inovasi bernama 'Biskuti Sardjito'.

Adrian  Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Bukan Tentara, Ini Sosok Penemu Ransum TNI saat Perang Kemerdekaan
Bukan Tentara, Ini Sosok Penemu Ransum TNI saat Perang Kemerdekaan (Merdeka.com)

Ransum TNI merupakan paket makanan kaleng atau kemasan yang dijadikan bekal untuk para anggota prajurit militer ketika mereka berada di medan pertempuran.

Isi dari ransum TNI tersebut bermacam-macam, mulai dari nasi kemasan, energi biskuit (enerkit), energi tablet (enertab), minuman energi, dan lain sebagainya.

Pencipta ransum TNI ternyata bukanlah seorang tentara, melainkan seorang dokter.

Lantas siapakah sosoknya? Simak profilnya yang dihimpun dari beberapa sumber berikut ini.

Profil Singkat

Sosok penemu Ransum TNI itu bernama Prof. Dr. M. Sardjito, M.D., M.P.H. Ia adalah seorang dokter yang menjadi guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Selain itu, ia menjadi rektor pertama UGM dari tahun 1949-1961.

Lahir di Purwodadi pada 13 Agustus 1889, namanya kini terus dikenang sebagai nama sebuah rumah sakit provinsi di Yogyakarta yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito.

Studi ke Luar Negeri

Setelah lulus dari STOVIA, Sardjito melanjutkan profesinya menjadi dokter di Rumah Sakit Djakarta dan terjun dalam riset laboratorium mengenai penyakit influenza pada tahun 1918-1919.

Selain itu ia juga pernah menjadi dokter di Institute Pasteur Djakarta dari tahun 1916 sampai 1920 sebelum akhirnya bertolak ke Universitas Amsterdam untuk melanjutkan studinya.

Setelah kembali dari Amsterdam, Sardjito diberikan kepercayaan sebagai dokter di Laboratorium Pusat Djakarta, kemudian Kepala Laboratorium di Makassar tahun 1930. Ia juga berkesempatan untuk bekerja di Laboratorium Jerman pada tahun 1931.

Sempat Tangani Korban Perang

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sardjito yang saat itu menjadi Kepala Institut Pasteur mendapat tugas untuk mengirim bantuan medis untuk warga sipil dan militer di Bandung.

Ketika situasi di Bandung sudah tak kondusif, ia bersama staf kesehatan berpindah ke Klaten dan di situlah ia turut menangani korban perang untuk mendapatkan perawatan intensif.

Dr. Sardjito sempat melakukan pengabdian dengan membuka pos-pos kesehatan di jalur transportasi dan wilayah yang jauh dari fasilitas kesehatan. Bahkan, ia membangun beberapa rumah sakit darurat dan pos kesehatan untuk korban perang.

Merancang Ransum TNI

<b>Merancang Ransum TNI</b>
Dok. Istimewa

Ketika momen Serangan Umum 1 Maret 1949, Sardjito mulai melakukan pembuatan ransum tentara dengan bahan yang sama seperti milik tentara Belanda.

Kecerdikan Sardjito dalam membuat ransum melahirkan inovasi bernama 'Biskuti Sardjito'. Bentuknya yang bulat bisa memberikan energi untuk para tentara ketika di medan perang.

Secara umum, Biskuit Sardjito ini termasuk makanan untuk dalam keadaan darurat. Tetapi, para tentara juga mendapatkan asupan gizi dari dapur umum warga desa setempat.

Rekomendasi