5 Fakta Banjir yang Melanda Kawasan Pantura, Sebabkan Transportasi Lumpuh

Hujan deras yang melanda wilayah Jawa Tengah khususnya di kawasan Pantura mengakibatkan sejumlah tempat dilanda banjir. Banjir itu memberi dampak besar bagi denyut nadi kehidupan sosial masyarakat.

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
5 Fakta Banjir yang Melanda Kawasan Pantura, Sebabkan Transportasi Lumpuh
Banjir di Semarang. ©2021 Merdeka.com/liputan6.com

Hujan deras yang melanda wilayah Jawa Tengah khususnya di kawasan Pantura mengakibatkan sejumlah tempat dilanda banjir. Banjir itu memberi dampak besar bagi denyut nadi kehidupan sosial masyarakat.

Di Pekalongan misalnya, banjir yang menggenang wilayah itu membuat ribuan orang harus mengungsi. Belum lagi banjir di Kudus menyebabkan dua orang meninggal dunia.

Banjir juga melumpuhkan transportasi umum. Di Stasiun Semarang Tawang, perjalanan sejumlah kereta api dibatalkan dan beberapa harus memutar untuk menghindari banjir itu.
Lalu seberapa besar dampak banjir yang menerjang kawasan pantura? Berikut selengkapnya:

Banjir di Kudus

Banjir yang terjadi di Kudus dampaknya begitu luas karena melanda 21 desa yang tersebar di lima kecamatan. Karena banjir ini sebanyak 652 orang harus mengungsi.

Banjir di Kudus juga menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Dua anak yang tengah menaiki sampan jatuh dan tenggelam saat perahu itu oleng. Pada Selasa (3/1) pukul 05.00, dua korban itu ditemukan sudah meninggal dunia.

Banjir juga membuat Terminal Jati Kudus lumpuh sejak Sabtu (31/12). Aktivitas naik turun penumpang pun terpaksa dipindahkan di area pinggir jalan yang tidak terdampak banjir.

Banjir di Semarang

Banjir di Semarang yang terjadi pada Jumat (30/12) dampaknya begitu luas. Bahkan Stasiun Semarang Tawang sampai lumpuh akibat banjir tersebut. Di Kecamatan Genuk, Kota Semarang, beberapa titik ketinggian banjir mencapai 1 meter lebih.

Berjalan dua hari, beberapa titik masih tergenang banjir. Miris, tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat tersetrum selama banjir karena ada kabel terputus yang posisinya terendam banjir.

Banjir di Pekalongan

Pada Sabtu (31/12), banjir merendam sejumlah titik di Kota Pekalongan. Banjir itu terjadi akibat meluapnya tiga sungai sekaligus, yaitu Sungai Bremi, Sungai Pekalongan, dan Sungai Banger. Dilansir dari ANTARA pada Minggu (1/1), banjir di Pekalongan menyebabkan 1.246 orang mengungsi.

Tak hanya air sungai yang meluap, banjir semakin parah akibat melimpasnya air laut karena gelombang tinggi. Berbagai posko pengungsian didirikan untuk menampung para pengungsi. Berbagai elemen diterjunkan untuk membantu pengungsi sesuai kapasitasnya masing-masing, termasuk membantu dalam hal menyediakan makanan maupun sarana kesehatan.

Reaksi Ganjar Pranowo

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meninjau langsung penanganan banjir khususnya di Semarang dan Pekalongan. Agar hujan tak terus terjadi, ia meminta BMKG untuk merekayasa cuaca di wilayah pantura Jateng.

Di tempat pengungsian, Ganjar berbaur dengan para pengungsi. Tak hanya melihat kondisi para pengungsi, ia juga begitu memperhatikan makanan yang mereka konsumsi.

“Menunya bagus, tapi perlu diganti-ganti. Bukan hanya mi dan telur, tapi tadi ada sayurnya. Itu bagus,” kata Ganjar.

Masih Berpotensi Terjadi

BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan mengguyur berbagai wilayah di Jateng hingga 5 Januari 2023. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Sutikno, menjelaskan berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer, ada tekanan rendah di wilayah Australia yang menyebabkan terjadinya pertemuan angin di wilayah Jateng. Oleh karena itu masyarakat di daerah rawan bencana perlu lebih waspada potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, dan hujan es.
“Waspada, terutama bagi masyarakat yang tinggal dan berada di wilayah rawan bencana hidrometeorologi,” kata Sutikno.

Rekomendasi