Siapkan Tandon Air Buat Warga, Begini Cara BPBD Cilacap Antisipasi Bencana Kekeringan

Bila musim hujan tiba, daerah Cilacap rawan banjir. Tapi kalau musim kemarau, daerah itu rawan kekeringan. Guna mengantisipasi kekeringan itu, BPBD Cilacap menyiapkan bantuan berupa tandon air bagi warga. Jumlah tandon air yang disiapkan ada 14 tandon. Masing-masing berkapasitas 2.200 liter.

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Siapkan Tandon Air Buat Warga, Begini Cara BPBD Cilacap Antisipasi Bencana Kekeringan
Ilustrasi kekeringan. ©2012 Shutterstock/Leigh Prather

Bila musim hujan tiba, daerah Cilacap rawan banjir. Tapi kalau musim kemarau, daerah itu rawan kekeringan. Memasuki musim kemarau ini, ancaman kekeringan itu makin nyata. Kalau dibiarkan, bisa jadi bencana.

Guna mengantisipasi kekeringan itu, BPBD Cilacap menyiapkan bantuan berupa tandon air bagi warga. Jumlah tandon air yang disiapkan ada 14 tandon. Masing-masing berkapasitas 2.200 liter.

Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Wijonardi, mengatakan pengadaan tandon air itu merupakan hasil dari evaluasi terhadap bencana kekeringan di tahun-tahun sebelumnya. Saat itu masih banyak desa yang belum memiliki tandon sebagai penampungan air bersih.

“Di tandon itu, kami sudah buatkan keran sehingga masyarakat tinggal menyambungkan ke keran untuk mengisi ke penampungan masing-masing. Dengan demikian lebih efektif dan efisien dalam bekerja dan meminimalkan risiko terbuangnya air saat dikucurkan dari tangki,” kata Wijonardi, mengutip dari ANTARA pada Jumat (19/5). Berikut selengkapnya:

Mengaku Heran

Wijonardi mengatakan, setidaknya ada 73 desa yang tersebar di 19 kecamatan di mana desa-desa tersebut rawan krisis air konsumsi pada musim kemarau. Pada musim itu, biasanya sumur-sumur berisiko tercampur air laut sehingga berasa payau dan tidak layak konsumsi.

Bahkan dari waktu ke waktu, jumlah desa yang mengalami kekeringan itu tidak berkurang. Wijonardi mengaku heran dengan kondisi ini.

“Masak tiap tahun tidak ada pengurangan jumlah, berarti kan tidak ada penanganan. Saya akan melihat apakah ini di BPBD yang tidak melakukan pendataan atau sudah melakukan pendataan tapi tidak mengusulkan ke PSDA untuk dilakukan studi perencanaan sumber mata air karena yang punya alat PSDA,” kata Wijonardi, mengutip dari ANTARA.

Ajukan Bantuan

Terkait dengan ketersediaan air bersih, Wijonardi mengatakan bahwa pihaknya hanya memiliki tiga armada untuk melayani Kabupaten Cilacap yang wilayahnya sangat luas. Oleh karena itu, pihaknya akan mengajukan permohonan bantuan armada tangki air ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Mengenai alokasi anggaran penyaluran bantuan air bersih, BPBD Cilacap akan mengalokasikan anggaran Rp80 juta. Namun jika melihat jumlah wilayah rawan kekeringan yang mencapai 73 desa, alokasi anggaran itu tidak mencukupi kebutuhan karena biaya yang dikeluarkan setiap kali mengirimkan bantuan air bersih adalah Rp1,5 juta per armada. Akan tetapi Wijonardi berjanji tetap memberikan pelayanan terbaik seperti apapun kondisinya.

Rekomendasi