Proses Menuju Kedewasaan, Begini Prosesi Khitanan di Keraton Yogyakarta
Merdeka.com - Dalam tradisi Islam, setiap anak laki-laki harus menjalani prosesi khitanan atau sunatan. Dalam ajaran Islam, prosesi khitanan merupakan prosesi peralihan seorang anak laki-laki menuju ke masa dewasa. Hal itu pula yang dijalani anak laki-laki di Kraton Yogyakarta yang banyak mengambil nilai-nilai Islam dalam setiap tradisinya.
Hanya saja, prosesi khitanan bagi anak Sultan dilakukan dengan cara yang berbeda dari anak laki-laki pada umumnya. Hal itulah yang tergambar dari prosesi khitanan untuk anak sultan yang dilaksanakan di lingkungan Kraton Yogyakarta pada 12 Mei 1975.
Berdasarkan Pranatan Lampah Lampah atau pedoman tata laksana yang dipublikasikan lewat situs Kratonjogja.id, prosesi khitanan bagi anak Sultan dilalui dengan beberapa tahapan. Lantas apa saja tahapan tersebut? Berikut selengkapnya:
Penabuhan Gamelan

©2020 liputan6.com
Sehari sebelum pelaksanaan upacara, gamelan Gansa Slendro dan Pelog ditata di Gedong Gangsa di sebelah utara dan selatan mulai pukul 15.00. Gamelan itu selanjutnya ditabuh hingga pukul 18.00 oleh seorang abdi dalem. Sementara itu gamelan Kanjeng Kiai Kebo ditata di Bangsal Mandalasana.
Sementara itu, bangunan berbentuk bilik kecil non-permanen yang disebut “krobongan” mulai di sebelah timur Bangsal Manis. Selain itu ada pula tetuwuhan (berwujud daun, tandan pisang beserta batangnya) yang ditata di sebelah selatan Tratag Bangsal Kencana. Saat itu pula sesaji disiapkan oleh seorang abdi dalem.
Tugas "Bendara Putri"

©Kratonjogja.id
Dalam prosesi itu, para “bendara putri” juga tak luput dari tugas. Sehari sebelum pelaksanaan khitanan, mereka ditugaskan untuk menghias tempat tidur anak yang akan disunat.
Setelah acara hias-hias selesai, mereka ditugasi untuk menemani para “bendara putra” yang akan disunat di Bangsal Kasatriyan. Bendara sendiri merupakan sebutan bagi anak-anak Sultan.
Sesampainya di Bangsal Kasatriyan, anak laki-laki Sultan yang akan disunat menjalani prosesi siraman (dimandikan). Usai siraman, para putri dipersilakan kembali ke Bangsal Pengapit.
Pada pukul 19.00, para pangeran, bendara kakung, serta mantu dalem memasuki Gadri Kasatriyan dengan mengenakan pakaian peranakan. Di sana, mereka menyantap hidangan makan malam. Bersamaan dengan ini, acara H-1 sebelum prosesi khitanan berakhir.
Jalannya Prosesi Khitanan

©Kratonjogja.id
Keesokan harinya pada pukul 09.30 pagi, para keluarga Sultan udah berkumpul di keraton. Para keluarga putri menempati Bangsal Pengapit. Sementara itu para pangeran dan para keluarga putra menempati sisi timur Tratag Bangsal Kencana. Sementara itu para abdi dalem menempati Bangsal Kotak.
Pada pukul 09.45, Sultan memasuki Bangsal Kencana mengenakan pakaian takwa. Dia kemudian memanggil putranya yang akan disunat. Di Bangsal Kencana, putra Sultan kemudian memberi penghormatan sebagai tanda bakti.
Sultan kemudian mengutus pada salah satu pangeran (yang telah dewasa dan sudah disunat) untuk mempersiapkan ubarampe untuk prosesi khitan. Setelah semua siap, Sultan memberi perintah pada putranya untuk memasuki krobongan untuk disunat.
Setelah menempati bangunan krobongan, abdi dalem pengulu memimpin doa secara adat. Kemudian ditabuh gamelan Kanjeng Kiai Kebo Ganggang dengan memainkan gending “Kodok Ngorek”. Seorang Pangeran Sepuh ditugaskan untuk memangku anak Sultan yang akan disunat.
Acara yang Istimewa

©Kratonjogja.id
Anak Sultan yang sudah disunat kemudian duduk di kursi yang telah disediakan di Bangsal Kencana. Sementara itu Sultan memberi perintah pada para Bendara maupun abdi dalem untuk meninggalkan tempat masing-masing. Setelah Sultan meninggalkan tempat, acara khitanan dinyatakan selesai.
Dilansir dari Kratonjogja.id, bagi masyarakat Jawa, khitanan atau supitan merupakan upacara penting dan istimewa. Prosesi itu dimaknai sebagai inisiasi bagi seorang laki-laki sebelum ia memasuki masa dewasa. Acara itu juga dianggap sebagai peresmian masuk agama Islam.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya