Potret Kompetisi Sepak Bola Pertama Indonesia 91 Tahun Silam, Digelar di Alun-alun Kota Solo untuk Menentang Belanda

Saat itu hanya tiga klub sepak bola yang bertanding

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Potret Kompetisi Sepak Bola Pertama Indonesia 91 Tahun Silam, Digelar di Alun-alun Kota Solo untuk Menentang Belanda
Potret Kompetisi Sepak Bola Pertama Indonesia 91 Tahun Silam, Digelar di Alun-alun Kota Solo untuk Menentang Belanda (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Pulang usai menempuh pendidikan di Jerman, pada tahun 1928 Soeratin mengadakan beberapa pertamuan dengan para tokoh sepak bola di Indonesia. Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi demi menghindari sergapan Polisi Belanda (PID).

Aksi Menentang Kolonial

Soeratin dan rekan-rekannya ingin mengimplementasikan amanat Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda). Dia sendiri punya keinginan menyemai nasionalisme di kalangan pemuda melalui sepak bola. Hal ini sekaligus menjadi bentuk menentang kolonialisme Belanda.

Cikal Bakal PSSI

Pada 19 April 1930, ada pertemuan dari wakil-wakil VIJ (Jakarta), wakil BIVB (Bandung), PSM Yogyakarta, VVB (Solo), MVB (Madiun), IVBM (Magelang), dan SIVB (Surabaya). Pertemuan tersebut melahirkan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia). Mengutip Instagram @tuban_bercerita, terbentuknya PSSI adalah tindakan radikal bagi pihak kolonial Belanda karena menggunakan nama "Indonesia" yang posisinya masih dijajah.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Soeratin menjadi pendiri sekaligus ketua umum PSSI pertama. Ia menjabat pada periode 1930-1940. Pada tahun 1950, PSSI diubah kepanjangannya jadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

Kompetisi Sepak Bola Pertama

Kompetisi Sepak Bola Pertama
Dok. Istimewa

Setelah berdirinya PSSI tahun 1930, setahun kemudian yakni pada 1931, PSSI menggelar kompetisi resmi pertamanya dengan tajuk ‘Steden Tournoi’. Pertandingan itu digelar pada 22-24 Mei 1931 di Kota Solo.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Saat itu PSSI memiliki tujuh anggota bond, tetapi hanya tiga klub yang berkompetisi, yakni Voetbalbond Indonesische Jacarta (VIJ), Vortenlandsche Voetbal Bond (VVB Solo), dan PSM Yogyakarta.

Sang tuan rumah yaitu VVB (Vorstenlandschen Voetbal Bond) Solo mempersiapkan Alun-Alun Selatan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai lokasi pertandingan. Pemilihan Alun-Alun Selatan ini karena saat itu belum ada stadion yang representatif untuk menggelar pertandingan  sepak bola, khususnya bagi perkumpulan sepak bola kaum pribumi. Sebenarnya di halaman Benteng Vastenburg sudah ada lapangan sepak bola yang cukup baik dan terawat, tapi hanya boleh digunakan oleh klub-klub sepak bola milik kolonial Belanda.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Pada tahun 1931 itu, Alun-Alun Selatan Keraton Solo disulap menjadi lebih megah, yakni dipasangi  bangunan semi permanen dari bahan kayu dan bambu untuk tempat duduk para tamu undangan.

Perkembangan Sepak Bola di Solo

Mengutip artikel berjudul Sejarah Persepakbolaan di Surakarta: dari Perkembangan sampai Pembangunan Stadion Sriwedari 1920-1948 karya Muhammad Ajib Al’alawi, Paku Buwono X sering
keluar kerajaan untuk melihat keadaan masyarakat. Suatu hari, ia mendengar percakapan
masyarakat mengenai pertandingan sepak bola di alun-alun. Selanjutnya, ia memanggil R.M. Widodo untuk menjelaskan kenapa diadakan pertandingan di alun-alun
serta tujuan pembentukan organisasi sepak bola.

Setelah Paku Buwono mengetahui alasan pertandingan tidak bisa diselenggarakan di lapangan halaman depan Benteng Vastenburg yang dikuasai Belanda, Paku Buwono X
tertarik membangun stadion.
Pada tahun 1932, stadion di kawasan Kebun Suwung mulai dibangun. Pada tahun 1933, stadion tersebut diresmikan dengan nama Sriwedari.

Rekomendasi