Peristiwa 25 Oktober Peringatan Hari Kesadaran Dwarfisme Sedunia, Ini Penyebabnya
Merdeka.com - Pertumbuhan anak tentu menjadi salah satu fokus perhatian bagi setiap orang tua. Di mana orang tua berupaya sebaik mungkin dalam memberikan asupan nutrisi kepada anak, agar anak mempunyai pertumbuhan fisik yang baik dan normal. Hal ini dapat dilihat dari tinggi badan anak yang terus berkembang selama masa pertumbuhannya.
Meskipun begitu, terdapat sebagian orang yang mempunyai risiko dwarfisme. Dwarfisme merupakan suatu kondisi perawakan pendek akibat faktor genetik atau medis. Biasanya orang dewasa yang tumbuh dengan gangguan ini mempunyai tinggi badan sekitar 4 kaki atau 122 cm. Ukuran tinggi badan ini dinilai kurang dari rata-rata tinggi badan orang dewasa pada umumnya.
Sebagai suatu kondisi atau gangguan yang perlu diwaspadai, maka penting bagi masyarakat untuk menyadari dan memahami apa itu dwarfisme, apa saja faktor penyebabnya, seperti apa gejala atau tanda-tanda yang perlu diperhatikan, serta risiko komplikasi yang mungkin terjadi.
Dengan memahami hal ini, Anda bisa melakukan pencegahan untuk mengurangi risiko yang ada. Selain itu, Anda juga bisa berpartisipasi dalam peringatan Hari Kesadaran Dwarfisme Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 25 Oktober, untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendukung kelompok orang dengan gangguan dwarfisme.
Dilansir dari Mayoclinic, berikut kami merangkum beberapa hal yang berkaitan dengan peristiwa 25 Oktober atau Hari Kesadaran Dwarfisme Sedunia yang perlu diketahui.
Mengenal Dwarfisme

©AFP PHOTO/DPA/Britta Pedersen
Untuk memahami peristiwa 25 Oktober yang diperingati sebagai Hari Kesadaran Dwarfisme Sedunia, pertama bisa dimulai dengan mengetahui apa itu dwarfisme. Dwarfisme merupakan kondisi perawakan pendek yang terjadi akibat faktor genetik atau medis tertentu. Biasanya, orang dewasa yang tumbuh dengan gangguan dwarfisme mempunyai tinggi 4 kaki atau sama dengan 122 cm. Tinggi badan ini dinilai kurang dari tinggi rata-rata orang dewasa pada umumnya.
Secara umum, gangguan dwarfisme dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
Gejala Dwarfisme
Untuk meningkatkan pemahaman di Hari Kesadaran Dwarfisme Sedunia pada tanggal 25 Oktober ini, penting bagi Anda mengetahui gejala apa saja yang muncul pada orang dengan gangguan ini. Gejala dwarfisme ini pun dibagi sesuai jenisnya, yaitu dwarfisme tidak proporsional dan dwarfisme proporsional. Berikut penjelasan yang bisa disimak.
Gejala dwarfisme tidak proporsional :
Penyebab lain dari dwarfisme tidak proporsional adalah kelainan langka yang disebut spondyloepiphyseal dysplasia congenita (SEDC). Gejala yang ditimbulkan termasuk:
Gejala dwarfisme proporsional
Kekurangan hormon pertumbuhan adalah penyebab yang relatif umum dari dwarfisme proporsional. Ini terjadi ketika kelenjar pituitari gagal memproduksi hormon pertumbuhan yang memadai. Tanda-tandanya meliputi:
Penyebab Dwarfisme

©AFP PHOTO/DPA/Britta Pedersen
Di peringatan Hari Kesadaran Dwarfisme Sedunia pada 25 Oktober ini, Anda juga perlu mengetahui faktor apa saja yang menjadi penyebab gangguan perawakan pendek atau dwarfisme. Seperti disebutkan sebelumnya, gangguan ini dipengaruhi oleh kondisi genetik yang terganggu dan kondisi medis tertentu, mulai dari kondisi akondroplasia, sindrom turner, defisiensi hormon pertumbuhan, dan penyebab lainnya. Berikut kami rangkum penjelasannya untuk Anda.
Akondroplasia
Sekitar 80 persen orang dengan achondroplasia dilahirkan dari orang tua dengan tinggi rata-rata. Seseorang dengan achondroplasia dan dengan dua orang tua berukuran rata-rata menerima satu salinan gen yang bermutasi, terkait dengan kelainan tersebut dan satu salinan gen yang normal. Seseorang dengan gangguan tersebut dapat memberikan salinan yang bermutasi atau normal kepada anak-anaknya sendiri.
Sindrom Turner
Sindrom Turner, suatu kondisi yang hanya mempengaruhi anak perempuan, yaitu terjadi ketika kromosom seks (kromosom X) hilang atau hilang sebagian. Seorang wanita mewarisi kromosom X dari setiap orang tua. Seorang gadis dengan sindrom Turner hanya memiliki satu salinan kromosom seks wanita yang berfungsi penuh, bukan dua.
Defisiensi hormon pertumbuhan
Penyebab defisiensi hormon pertumbuhan kadang-kadang dapat mempengaruhi terjadinya mutasi genetik atau cedera. Tetapi bagi sebagian besar orang dengan gangguan dwarfisme, tidak ada penyebab yang dapat diidentifikasi.
Penyebab lainnya
Penyebab lain dari dwarfisme termasuk kelainan genetik lainnya adalah kekurangan hormon lain yang berhubungan dengan pertumbuhan dan faktor gizi buruk. Namun, terkadang gangguan dwarfisme yang dialami oleh seseorang penyebabnya tidak diketahui.
Komplikasi Dwarfsime
Terakhir, hal yang tidak kalah penting untuk dipahami berkaitan dengan peringatan Hari Kesadaran Dwarfisme Sedunia pada 25 Oktober ini adalah risiko komplikasi yang dapat ditimbulkan. Seperti diketahui, orang dengan dwarfisme mengalami gangguan pada pertumbuhannya sehingga menyebabkan perawakan tubuh yang pendek.
Lebih lanjut, kondisi ini juga dapat mempengaruhi kondisi kesehatan orang tersebut. Berikut beberapa komplikasi dari dwarfisme yang perlu diketahui.
Komplikasi dwarfisme tidak proporsional :
Komplikasi dwarfisme proporsional
Pada kasus dwarfsime proporsional, masalah pertumbuhan dan perkembangan sering kali menyebabkan gangguan organ yang kruang berkembang. Misalnya, masalah jantung yang sering terjadi pada sindrom Turner dapat berdampak signifikan pada kesehatan. Tidak adanya pematangan seksual yang terkait dengan defisiensi hormon pertumbuhan atau sindrom Turner dapat mempengaruhi perkembangan fisik dan fungsi sosial.
Komplikasi wanita dengan dwarfisme
Wanita dengan dwarfisme yang tidak proporsional dapat mengalami masalah pernapasan selama kehamilan. Operasi caesar (persalinan sesar) hampir selalu diperlukan karena ukuran dan bentuk panggul tidak memungkinkan persalinan secara normal berhasil.
Persepsi publik
Orang dengan gangguan dwarfisme tidak jarang mendapatkan persepsi publik yang kurang baik. Di mana masyarakat sering memberikan sebutan kurcaci, orang bertubuh kecil, atau cebol. Anggapan ini mengandung stereotip yang dapat berkembang di masyarakat.
Dengan begitu, masyarakat perlu menghormati orang dengan gangguan dwarfisme dan tidak megolok-olok atau mengejek. Dengan meningkatkan kesadaran tentang dwarfisme, tentu dapat mengedukasi masyarakat untuk memberikan dukungan yang lebih baik pada orang-orang dengan gangguan ini.
(mdk/ayi)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya