Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Peristiwa 17 Maret: Kelahiran Nurcholish Madjid, Sosok Pembaru Islam yang Karismatik

Peristiwa 17 Maret: Kelahiran Nurcholish Madjid, Sosok Pembaru Islam yang Karismatik nurcholish madjid. ©blogspot.com

Merdeka.com - Nurcholish Madjid atau yang akrab disapa Cak Nur adalah salah seorang cendekiawan muslim yang berpengaruh di Indonesia. Melalui karya-karyanya, Cak Nur kerap memberikan gagasan baru terhadap pemikiran Islam. Hal inilah yang menjadikan sosoknya dianggap sebagai ikon intelektual Muslim modern.

Salah satu slogannya yang fenomenal dan sempat menimbulkan kontroversi adalah ucapannya "Islam, yes; Partai Islam, no!". Tak hanya itu, Cak Nur juga banyak mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial terutama gagasan mengenai pembaruan Islam di Indonesia. Meski begitu, tidak bisa dimungkiri bahwa pemikiran-pemikiran beliau berhasil mengembangkan ajaran Islam yang moderat.

Tepat hari ini 17 Maret pada 1939 silam, Cak Nur lahir di Jombang, Jawa Timur. Sumbangsihnya bagi umat Islam di Indonesia tentu sudah tidak diragukan lagi. Banyak sekali gagasan-gagasan beliau yang hingga kini terus dikaji dan menjadi inspirasi bagi pemikir Islam untuk generasi selanjutnya.

Lantas, seperti apa sepak terjang Nurcholish Madjid dalam melakukan pembaharuan Islam di Indonesia? Simak ulasannya yang dirangkum dari uin-suska.ac.id:

Masa Kecil Nurcholish Madjid

buku

©2015 Pixabay

Nurcholish Madjid dibesarkan di lingkungan keluarga yang terpandang di Mojoanyar, Mojokerto, Jawa Timur. Ayahnya, KH Abdul Madjid adalah seorang kiai jebolan pesantren Tebuireng yang didirikan oleh pendiri Nahdatul Ulama (NU) Hadaratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Sedangkan, ibunya adalah adik dari Rais Akbar NU dari seorang aktivis Syarikat Dagang Islam (SDI) bernama Hajjah Fathonah Mardiyah.

Lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren, sejak kecil Cak Nur sudah belajar mengenai agama Islam. Beliau belajar di Sekolah Rakyat (SR) pada pagi hari, kemudian sorenya mengaji di Madrasah al-Whathaniyyah, pimpinan ayah kandungnya sendiri. Uniknya, saat kecil beliau lebih tertarik membaca kitab-kitab milik ayahnya daripada bermain seperti kebanyakan temannya waktu itu.

Setelah itu, Cak Nur melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di sekolah ini, beliau memperoleh pendidikan umum yang memadai, sekaligus berkenalan dengan metode pengajaran modern. Sehingga, sejak kecil Cak Nur sudah mendaptakan dua model pendidikan, yakni pola pendidikan madrasah dan pendidikan umum.

Hingga akhirnya, Cak Nur melanjutkan pendidikannya di Kulliyat al-Mu’allim al-Islamiyyah (KMI) di Pondok Pesantren Darussalam, pondok modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur dan lulus pada 1960. Berkat kecerdasannya, Cak Nur berhasil menjadi salah satu santri terbaik dengan meraih juara kelas, sehingga mampu menyelesaikan pendidikannya di Gontor dengan cepat.

Sosok Nurcholish Madjid sebagai Pembaru Islam

nurcholish madjid

©blogspot.com

Setelah melewati pendidikan di berbagai pesantren, termasuk Gontor dan IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani studi doktoralnya di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan disertasi tentang filsafat dan kalam Ibnu Taimiyah. Setelah itu, Cak Nur mengajar di IAIN Syarif Hidayatullah, peneliti LIPI, guru besar tamu di Universitas McGill, dan masih banyak lagi.

Pada tahun 1986, bersama teman-temannya, Cak Nur mendirikan dan memimpin Yayasan Wakaf Paramadina, sebuah yayasan yang mengarah kepada gerakan intelektual Islam di Indonesia. Di yayasan ini, Cak Nur semakin mengembangkan pemkiran-pemikiran Islam yang moderat.

Dikenal sebagai tokoh pembaru Islam, Cak Nur dianggap berhasil dalam mengenalkan konsep pluralisme yang mampu mengakomodasi keberagaman serta keyakinan di Indonesia. Hal inilah yang kemudian membuatnya menjadi Wakil Ketua Dewan pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 1991.

Salah satu peran Cak Nur bagi bangsa Indonesia yang dicatat dalam sejarah adalah ketika beliau diminta nasihat oleh Presiden Soeharto pasca kerusuhan Mei 1998. Atas saran Cak Nur dan beberapa tokoh lainnya, Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya untuk menghindari kerusuhan yang lebih parah.

Wafatnya Nurcholish Madjid

Selain menjabat sebagai rektor, semasa hidupnya Cak Nur juga aktif menjadi pembicara dalam seminar internasional Islam di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, ia banyak menulis makalah-makalah yang diterbitkan dalam berbagai majalah, surat kabar dan buku suntingan, beberapa di antaranya bahkan berbahasa Inggris.

Beberapa karya-karyanya yang terkenal antara lain Islam Kemodernan dan Keindonesiaan (1987), Islam Doktrin dan Peradaban (1992), Bilik-Bilik Pesantren (1997), dan masih banyak lagi. Melalui karya-karyanya, Cak Nur banyak memberi sumbangsih besar bagi perkembangan masyarakat Islam. Hal inilah yeng menjadikan sosok Cak Nur begitu dikagumi dan menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.

Cak Nur meninggal dunia pada 29 Agustus 2005 akibat penyakit sirosis hati yang dideritanya. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata karena dianggap telah banyak berjasa kepada negara.

(mdk/jen)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP