Mengunjungi Kampung Gitar di Sukoharjo, Surganya Pecinta Alat Musik Petik
Merdeka.com - Sekitar 12 km di selatan Kota Solo, ada sebuah kampung yang unik. Kampung itu berada di Desa Mancasan, Kecamatan Baki, Sukoharjo. Keunikan kampung itu adalah ratusan kepala keluarganya berprofesi sebagai pengrajin gitar. Oleh karena itu, tak heran apabila daerah itu mendapat sebutan sebagai kampung gitar.
Kampung gitar Sukoharjo sudah berdiri sejak 1975. Di sana, banyak warganya yang memproduksi gitar di rumah mereka masing-masing. Berbagai macam jenis gitar mereka ciptakan, mulai dari gitar akustik model tanduk, gitar klasik, ukulele, dan berbagai jenis alat musik petik lainnya.
Selain itu, para wisatawan yang mengunjungi kampung gitar bisa melihat sendiri proses pembuatannya. Merekapun juga bisa memesan gitar itu sesuai dengan harga yang diinginkan. Berikut selengkapnya yang telah dirangkum dari berbagai sumber.
Tulang Punggung Perekonomian

©YouTube/Jogja Magazine
Di Mancasan, kerajinan gitar sudah menjadi tulang punggung ekonomi masyarakatnya. Konon, kemampuan merakit gitar para penduduk Mancasan sudah diwariskan secara turun temurun.
Salah satu pengrajin gitar di sana bernama Surojo. Dia telah memulai usaha gitar sejak 2001. Tak hanya menjalani usaha sendiri, dengan menjadi pengrajin gitar, dia bisa memberi lapangan pekerjaan bagi 17 orang tetangganya.
Hasil karya kerajinan gitar Surojo bisa dinikmati di penjuru nusantara seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Salatiga, dan Papua. Tak hanya itu, pesanan gitar juga datang dari penjuru dunia lain seperti Malaysia, Amerika, Thailand, dan India.
Bukan Pekerjaan Mudah

©YouTube/Jogja Magazine
Menjadi seorang pengrajin gitar sebenarnya bukanlah pekerjaan mudah. Untuk membuat gitar yang berkualitas, diperlukan keahlian khusus serta ketelatenan para pengrajinnya. Ratiman, salah satu pengrajin gitar di Mancasan mengatakan, pembuatan gitar diawali penghalusan dengan ampelas, pendempulan, dan pengampelasan kedua.
Lalu badan gitar yang sudah jadi dicat, lalu dilapisi dengan melamin, dan kemudian dijemur. Jumlah produksi gitar yang dihasilkan Ratiman juga tergantung musim. “Faktor utama untuk pengeringan itu matahari. Kalau kemarau bisa 10 lusin dalam sepekan, tapi kalau cuaca mendung paling 8 lusin,” ungkap Ratiman dikutip dari Liputan6.com.
Sempat Surut

©YouTube/Jogja Magazine
Usaha kerajinan di Kampung Mancasan sebenarnya sempat surut pada saat Gempa Jogja 2006. Namun para pengrajin gitar di Mancasan tak pernah menyerah. Mereka tetap terus melanjutkan usahanya itu demi mempertahankan eksistensi hasil kerajinan gitar yang telah dirintis sejak lama.
Sayangnya kampung itu tak punya merek khusus untuk gitar yang mereka hasilkan. Mereka biasanya menggunakan merek kosong sesuai permintaan pelanggan.
Surganya Pecinta Alat Musik Petik

©YouTube/Jogja Magazine
Melansir dari Wisatasolo.id, masing-masing pengrajin gitar di Mancasan biasanya punya keahlian khusus. Selain pengrajin body gitar, di sana terdapat juga pengrajin stang dan juga tukang stem gitar. Selain gitar, di Kampung Mancasan warganya juga memproduksi alat musik petik lain yang masih sejenis dengan gitar seperti ukulele, rebab, dan mandolin.
Bila berkunjung ke kampung gitar Mancasan, wisatawan juga bisa memesan gitar custom khusus yang tak ada di pasaran. Bahkan para pengrajin itu juga melayani reparasi gitar pribadi atau sekedar konsultasi masalah gitar.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya