Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Sejarah Kerajinan Perak di Kotagede, Pernah Terkenal Hingga ke Mancanegara

Mengenal Sejarah Kerajinan Perak di Kotagede, Pernah Terkenal Hingga ke Mancanegara Kerajinan Perak Kotagede. ©Bumn.go.id

Merdeka.com - Kotagede merupakan sebuah wilayah yang memiliki nilai sejarah di Kota Yogyakarta. Dulunya, daerah itu merupakan tempat berdirinya Kerajaan Mataram Islam dengan Panembahan Senopati sebagai raja pertamanya.

Keberadaan pengrajin perak di kota itu mucul seiring dengan tumbuhnya pusat kerajaan itu. Saat pusat Kerajaan Mataram pindah ke Pleret, para pengrajin perak tetap tinggal di kota itu untuk melayani permintaan dari masyarakat umum.

Saat masuknya Belanda ke Indonesia dengan perusahaan VOC-nya pada abad ke-16, perdagangan kerajinan perak di Kotagede justru tumbuh semakin pesat. Waktu itu, banyak pedagang VOC yang memesan alat-alat rumah tangga dari emas, perak, tembaga, dan kuningan ke penduduk setempat di sana.

Setelah sekian lama kemudian Yogyakarta dikuasai pemerintah Hindia Belanda. Tapi sejak saat itulah era baru sentra kerajinan perak Kotagede dimulai.

Kerajinan Perak Kotagede di Zaman Belanda

kerajinan perak kotagede

©Bumn.go.id

Kepala Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Setyawan Sahli, mengatakan pada awalnya kerajinan perak di Kotagede hanyalah produk terbatas yang kemudian bertransformasi menjadi industri. Sejak kedatangan penjajah Belanda, mereka turut berperan dalam mengubah wajah industri perak di sana dengan memadukan kultur barat dan timur.

Dikutip dari Liputan6.com, Minggu (9/11), pecahnya Kerajaan Mataram Islam menjadi Kraton Yogyakarta dan Kraton Surakarta berdampak pada kerajinan perak di Kotagede. Saat itu, sentra kerajinan itu harus melayani permintaan empat kraton sekaligus yaitu Kasultanan Ngayogyakarta, Kasunanan Surakarta, Puro Pakualaman, dan Mangkunegaran.

Sekolah Para Pengrajin Perak

kerajinan perak kotagede

©Kemenperin.go.id

Totalitas Kotagede sebagai tempat pengrajin perak ditunjukkan dengan berdirinya Kunstambachtsschool atau Sekolah Seni Kerajinan Sedyaning Piwoelang Angesti Boedi yang didirikan oleh Java Instituut pada tahun 1939. Dulunya, bangunan sekolah itu masih satu kompleks dengan Gedung Museum Sonobudoyo.

Dari murid-murid yang belajar di sekolah itu, lahir berbagai kerajinan perak yang unik. Sayangnya, sekolah ini hanya meluluskan satu angkatan (1939-1941) karena tak lama kemudian meletuslah Perang Dunia II di mana Jepang berhasil menguasai wilayah Hindia Belanda.

Masa Kejayaan Perak Kotagede

kerajinan perak kotagede

©panduanwisata.id

Masa kejayaan perak di Kotagede terjadi pada era 1970 hingga 1980. Dilansir dari ANTARA, pada waktu itu para pengusaha perak di sana sering mengekspor produknya hingga mancanegara seperti Malaysia, Pakistan, Arab, dan Romania. Saat itu jenis kerajinan yang banyak dipesan adalah alat-alat makan.

Namun, setelah mengalami era kejayaan, perlahan-lahan pesona Kotagede sebagai tempat kerajinan perak terus meredup. Bahkan kini umumnya para pengrajin perak di sana hanya memasarkan produk di wilayah Yogyakarta dan sekitaran Pulau Jawa. Tak hanya itu, merekapun sering kali hanya mengandalkan pembeli yang datang ke toko mereka saja.

Alami Kemunduran

kerajinan perak kotagede

©panduanwisata.id

Kemunduran kerajinan perak di Kotagede sangat berdampak pada kehidupan masyarakat di sana yang sebagian besar mengandalkan perak sebagai sumber penghasilan utama. Bahkan sebagian pemilik toko kerajinan itu sudah tidak mempekerjakan karyawan.

Beberapa usaha pengrajin bahkan memilih tutup karena sudah tak mampu lagi membayar sewa tempat usaha. Salah satu pengusaha perak Kotagede, Priyo Salim, mengatakan permasalahan usaha kerajinan perak di sana sebenarnya cukup rumit.

Masalah itu adalah mulai banyaknya konsumen yang memilih membeli produk secara online. Oleh karena itu ia mengatakan harus ada pembenahan besar-besaran kalau ingin membenahi penjualan kerajinan perak di sana baik dari penyediaan dan pengelolaan bahan baku, teknik produksi, maupun pemasaran.

Berharap Peran Pemerintah

kerajinan perak kotagede

©panduanwisata.id

Dengan keadaan yang dialami para pengrajin perak Kotagede, Priyo berharap ada peran pemerintah dalam membangkitkan kembali kerajinan perak di sana.

Dia berharap pemerintah bisa membantu para pengrajin membenahi teknik produksi dan pemasaran serta melakukan regenerasi dengan mengadakan pelatihan membuat kerajinan perak pada siswa-siswi sekolah kejuruan.

Selain itu pemerintah juga perlu mendukung para pelaku kerajinan perak mengikuti pameran kerajinan di dalam maupun di luar negeri. Dengan begitu, Priyo percaya kerajinan perak Kotagede bakal berjaya kembali.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP