Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah Unik Inem Jogja, Mantan Dosen yang Memilih Jadi "Wong Edan"

Kisah Unik Inem Jogja, Mantan Dosen yang Memilih Jadi Inem Jogja. ©2020 brilio.net

Merdeka.com - Kisah unik datang dari seorang perempuan, Made Dyah Agustina adalah lulusan S2 jurusan Manajemen Pertunjukan Seni di ISI Yogyakarta. Setelah lulus, ia pun memulai karir sebagai seorang dosen di Universitas Sanata Dharma.

Setelah empat tahun sukses menjadi seorang dosen, perempuan yang akrab dipanggil Inem Jogja itu tergugah untuk terjun langsung sebagai seorang pelaku seni ketimbang jadi dosen. Ketika ditanya alasan mengapa ia melepas pekerjaannya sebagai dosen yang mapan, Inem mengaku hanya ingin menuruti keinginan hatinya.

“Saya lebih suka mengelola sanggar, membuat karya tari, membuat karya-karya yang mengedukasi masyarakat. Sebuah karya-karya yang nantinya ada timbal balik ke saya sendiri dan masyarakat. Jadi akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menjadi dosen dan lebih memilih untuk menjadi pekerja seni,” kata Inem Jogja dikutip dari Brilio.net. Berikut kisah uniknya:

Bantu Orang Tua Sejak Kecil

Sebelum menjadi aktivis sosial, Inem mengaku sudah rajin membantu orang tuanya sejak kecil. Waktu itu orang tuanya bekerja sebagai pedagang balon. Karena hidupnya susah, Inem ingin mengangkat derajat orang tuanya.

inem jogja

©2020 brilio.net

Karena itulah ia mulai berkecimpung di dunia tari dan meniti karier sebagai seorang penari. Dengan pekerjaannya itu, ia bisa kuliah S1 dan S2 tanpa biaya dari orang tuanya. Setelah sempat menjadi dosen selama empat tahun, Inem merasa sudah memiliki semuanya. Apalagi di ia juga mengelola lima sanggar tari dengan total 350 anak. Oleh karena itula ia kemudian memutuskan untuk terjun ke masyarakat.

“Semuanya bagi saya sudah cukup. Saya ingin berbuat sesuatu melalui seni yang bisa bermanfaat bagi sesama dan bisa berguna bagi seluruh masyarakat Jogja,” ungkap Inem.

Terjun Ke Masyarakat

Dengan dandanan yang unik, dia berkeliling kota Jogja untuk melakukan berbagai macam aktivitas sosial seperti mengambil sampah, menolong orang, membeli sesuatu dari pedagang, dan berbagai macam kegiatan lainnya. Ketika bertemu anak kecil, Inem juga tak lupa untuk mengajarkan sopan santun seperti mengajarkan kata-kata “matur nuwun” dan “kulo nuwun”.

inem jogja

©2020 brilio.net

Dari situlah Inem bisa bertemu banyak orang dan memberikan pesan langsung kepada masyarakat. Dari terjun ke masyarakat pula Inem menjadi tahu mana orang yang harus dibantu dan mana pula yang hanya berpura-pura.

“Melalui ini saya mendapatkan banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa membuat saya bersyukur dengan apa yang saya alami sekarang. Ternyata banyak orang yang tidak beruntung,” kata Inem.

Makna di Balik Pakaian

Inem menjelaskan, perlengkapan yang ia kenakan saat berkeliling di sekitar Jogja itu semuanya sudah tersedia di rumah. Kebaya, jarik, sepatu, dan tas yang ia bawa tak ada satupun yang baru. Selain itu, dandanannya itu sebenarnya memiliki makna filosofinya tersendiri.

inem jogja

©2020 brilio.net

“Dandanan tersebut saya ambil dari tari edan-edanan. Di mana tari edan-edanan tersebut memiliki arti sebagai penolak bala,” jelas Inem. Dari hal itu, Inem ingin kehadirannya bisa menolak bala dari pengaruh negatif yang bisa melunturkan budaya masyarakat Jogja.

Dikira Orang Gila

Karena dandanannya yang unik dan aksinya yang aneh selama berkeliling kota, tak jarang ada warga yang menganggapnya orang gila. Padahal itu semua ia lakukan untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain.

inem jogja

©2020 brilio.net

“Banyak sekali yang mengatakan saya macam-macam. Saya iyakan saja. Yang penting gila tapi bermanfaat, dari pada kamu waras tapi nggak bermanfaat,” ungkap Inem, Sabtu (19/9).

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP