Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jadi Kendala Proyek JJLS, Ini Kisah Watu Manten di Gunungkidul yang Tak Bisa Dipindah

Jadi Kendala Proyek JJLS, Ini Kisah Watu Manten di Gunungkidul yang Tak Bisa Dipindah Watu Manten Gunungkidul. ©YouTube/Sobak Asik

Merdeka.com - Pembangunan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) merupakan salah satu proyek strategis nasional. Pembangunan jalan itu memiliki tantangan tersendiri karena harus melalui berbagai medan seperti rawa-rawa, perbukitan, muara sungai, dan lain-lain.

Hal ini pula yang harus dilalui saat proyek JJLS memasuki wilayah Kabupaten Gunungkidul. Wilayah itu merupakan kawasan pegunungan kapur dan banyak terdapat batu-batuan keras. Bahkan ada beberapa batu di sana yang disakralkan dan tidak bisa dipindah.

Ada sebuah batu keramat di Desa Semugih, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul. Batu bernama “Watu Manten” yang tak bisa dipindah untuk keperluan pembangunan jalan raya tersebut. Masyarakat sekitar mengkeramatkan batu itu dan dipercaya menyimpan sebuah kisah cinta yang pilu.

Lalu bagaimana kisa di balik keberadaan batu pengantin itu? Berikut selengkapnya:

Cerita di Balik Watu Manten

watu manten gunungkidul

©YouTube/Sobak Asik

Menurut warga sekitar, Watu Manten adalah sebuah situs petilasan bersejarah. Salah satu abdi dalem Keraton Yogyakarta, Sugiarto, mengatakan bahwa dulunya terdapat sepasang pengantin yang berteduh. Namun tiba-tiba ada batu yang longsor menimpa sepasang kekasih yang sedang berteduh itu.

Menurut Agus Sutoko, salah seorang warga, kisah tentang sepasang kekasih ini diceritakan sejak zaman nenek moyang ratusan tahun silam. Selain Watu Manten, tak jauh dari sana ada batu lain yang dikeramatkan bernama Watu Dukun.

“Pohon di atas batu itu dari dulu tetap segitu. Warga sekitar sini juga tidak ada yang berani macam-macam dengan pohon itu,” kata Agus dikutip dari YouTube Beritain Aja pada 12 September 2019.

Tidak Bisa Dipindah

watu manten gunungkidul

©YouTube/Sobak Asik

Dilansir dari kanal YouTube Nugraha Firza 13 September 2019, menurut warga sekitar batu itu tidak bisa dipindah maupun dipecah karena ada sesuatu yang dianggap mistis. Hal itu dibenarkan oleh pekerja proyek JJLS di tempat itu.

Menurut mereka, sebenarnya sudah ada usaha pemecahan terhadap batu tersebut. Namun alat berat yang digunakan untuk menghancurkan batu tersebut pada akhirnya rusak atau mati. 

Hal inilah yang membuat pihak pemborong memutuskan untuk memanggil sesepuh dari Keraton Yogyakarta Hadiningrat untuk memimpin upacara adat memohon kepada Allah SWT untuk dilancarkan dalam pemindahan batu tersebut. Bahkan dalam upacara itu, diadakan ritual adat seperti pelepasan sepasang ayam di sekitar batu serta penyiraman batu dengan air yang sudah disiapkan dalam sebuah kendi.

Proses Pemindahan Watu Manten

watu manten gunungkidul

©YouTube/Sobak Asik

Setelah segala prosesi ritual dijalankan, pada 12 September 2019 alat berat kembali melakukan proses pemecahan batu tersebut. Namun dalam kesempatan itu, proses pemecahan Watu Manten berjalan lancar tanpa kendala suatu apapun.

Selang beberapa hari setelah pemindahan tersebut, tepatnya 25 September 2019, ayam yang dilepas dalam ritual tetap berada di sekitar lokasi pemecahan batu. Walau sudah dipindah, pohon jati yang berada di atas batu tersebut masih ada.

Sepasang ayam itupun terlihat mesra tak pernah berjauhan satu sama lain dan tak pernah pergi jauh dari lokasi Watu Manten walau di sekitar tempat itu ramai oleh kendaraan proyek.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP