Bergaya Eropa,Tempat Wisata di Solo Ini Dulunya Bekas Pabrik Gula
Merdeka.com - Pada masa jayanya, Pabrik Gula Gembongan merupakan sebuah kawasan industri yang cukup besar. Didirikan oleh Koloni Belanda pada tahun 1899 di Desa Gembongan, Distrik Kartasura, pabrik ini memiliki lahan pertanian tebu meliputi daerah Ketitang, Trobajan, Tremoelos, Bendo, Dago, Baron, dan Kartasura.
Bahkan pada waktu itu, hasil olahan gula kristal dari pabrik ini didistribusikan hingga ke Sumatra, Asia, dan bahkan Eropa. Tak heran pada waktu itu, pabrik ini bisa menghasilkan keuntungan yang melimpah.
Namun seiring dengan merosotnya industri gula di Jawa, pabrik itu tutup dan menjadi gudang penyimpanan tembakau. Kini, bekas pabrik gula itu kembali bergeliat dan menjadi sebuah tempat wisata bernama “The Heritage Palace”. Lalu bagaimana kondisi bekas pabrik gula yang disulap menjadi tempat wisata itu? Berikut selengkapnya:
Tempat Wisata Bergaya Eropa

©jatengprov.go.id
“The Heritage Palace” (THP) didirikan pada tanggal 9 Juni 2018. Berada di Desa Pabelan, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, lokasi tempat wisata ini hanya berjarak 10 kilometer dari Kota Solo.
Dengan memanfaatkan bangunan tua pabrik yang masih berdiri megah, bekas kawasan industri itu disulap menjadi sebuah tempat wisata bergaya Eropa.
Untuk menarik minat pengunjung, pengelola wisata menyuguhkan banyak spot selfie menarik seperti puluhan mobil antik yang dipamerkan, beberapa bangunan bersejarah, Museum 3D, dan wahana Omah Walik.
Disulap jadi Tempat Wisata

©Unair.ac.id
Salah satu ciri khas bangunan bekas pabrik gula itu adalah sebuah cerobong asap yang memiliki tinggi lebih dari 25 meter yang menjadi keunikan dan memiliki nilai historis yang tinggi. Namun selain itu, di kawasan pabrik tersebut ada 9 bangunan lain yang semuanya disulap menjadi wahana wisata.
“Setiap bangunan di sini disulap menjadi lokasi wahana wisata. Pada museum 3D, seluruh sudut ruangan dihiasi dengan 50 foto atau gambar tiga dimensi yang disajikan dengan sentuhan seni modern yang seperti gambar nyata,” terang salah satu pengelola THP, Franky Hardy Soetjipto dikutip dari laman resmi RRI.
Koleksi Mobil Tua

©Surakarta.go.id
Selain suasananya yang mirip Eropa, salah satu daya tarik tempat wisata itu adalah koleksi mobil tua yang memang sengaja dipamerkan pihak pengelola kepada pengunjung. Wawan Santoso, pengelola THP yang juga menjadi pemilik koleksi mobil-mobil tua itu, mengatakan bahwa kendaraan itu diperoleh dari berbagai daerah di Nusantara.
Dia menjelaskan, mobil-mobil tua yang dipajang itu memiliki nilai sejarah dalam perkembangan transportasi di Indonesia.
“Koleksi mobil paling tua yang dipajang itu keluaran tahun 1940-an ber-merek Pontiac. Saat ini, total mobil tua yang dipajang sekitar 25 unit sampai 30 unit dari total koleksi sekitar 60 unit sampai 70 unit,” kata Wawan, Rabu (6/1).
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya