Kasus COVID-19 belum juga beranjak dari negeri ini. Hari demi hari, kematian akibat Virus Corona terus bertambah. Di Gunungkidul misalnya, kasus terus melandai dari waktu ke waktu, namun jumlah kematiannya terbilang tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul Dewi Irawaty, jumlah kematian yang tinggi di wilayah itu diduga terkait dengan tingkat kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan (faskes) yang masih rendah. Selain karena jauhnya jarak antara rumah dengan fasilitas kesehatan, ada juga dari mereka yang ketakutan dengan tes COVID-19.
“Bisa jadi karena mereka takut dinyatakan positif COVID-19 oleh dokter,” kata Dewi dikutip dari Liputan6.com pada Kamis (27/5).
Advertisement
Tidak Meng-COVID-kan Pasien
Dewi menegaskan bahwa para dokter yang bertugas sebenarnya tidak ingin meng-COVID-kan pasien. Mereka memberikan status pasien sesuai dengan prosedur dan kode etik terkait penanganan pasien. Dewi juga mengatakan bahwa mereka tidak serta merta membuat status positif itu hanya dengan asumsi, melainkan berdasarkan hasil tes.
Dewi mengatakan, apabila ada pasien yang demam, wajar kalau para dokter menduga pasien yang bersangkutan mengalami COVID-19 karena demam merupakan salah satu gejala umum yang sering kali muncul.
“Muncul dugaan tentu boleh saja, tetapi itu bukan berarti meng-COVID-kan pasien,” kata Dewi.
Advertisement
Datang dengan Gejala Berat
Dewi mengatakan, karena banyak warga yang enggan memeriksakan diri ke faskes saat sudah muncul gejala, sejumlah pasien datang ke rumah sakit saat kondisinya sudah kritis. Bahkan ada pula warga yang belum sempat diambil swab-nya namun sudah meninggal dunia.
Karena hal ini, Dewi mengimbau pada masyarakat agar tidak perlu resah untuk datang ke fasilitas kesehatan. Sebab, penanganan medis bisa lebih cepat dilakukan jika mereka segera datang sebelum mengalami kondisi berat.
“Hal inilah yang membuat angka kematian tinggi,” jelas Dewi.
Advertisement
Harapan Para Dokter
Sementara itu, Direktur RSUD Wonosari dr. Heru Sulistyowati membenarkan kalau banyak warga enggan memeriksakan diri ke rumah sakit saat sudah mengalami gejala ringan. Ia berharap agar ada dukungan dari berbagai instansi dan elemen masyarakat agar warga tidak enggan datang ke rumah sakit. Salah satu caranya adalah dengan mengedepankan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang tepat.
Heru juga menambahkan, apabila warga segera datang ke rumah sakit, maka kondisi mereka akan segera diketahui dan mendapat penanganan yang tepat.
“Penanganan yang cepat dan tepat juga bisa menekan angka kematian,” kata Heru.