Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah memprediksi kasus keracunan MBG berulang kali terjadi di masing-masing sekolah kecamatan Bawang Kabupaten Batang karena faktor pola kerja penjamah makanan.
"Biasanya itu kalau muncul KLB keracunan MBG faktornya pada petugas penjamah makanan. Di Bawang pasti juga demikian. Karena banyak petugas penjamah yang tidak betah kerja di dapur SPPG, karena kerjanya dari malam sampai pagi. Baru kerja sebulan sudah keluar terus ganti yang baru lagi," kata Kepala Dinkes Jateng, Dr Zulfahmi Wahab, Kamis (24/9).
Dia menyebut pihak Dinkes Jateng telah memberikan pelatihan kepada para petugas penjamah makanan MBG di tiap kabupaten/kota. Proses pelatihan dilakukan rutin.
"Jadi kita minta rutin untuk membekali pengetahuan mengenai cara membersihkan bahan baku makanan, peralatan memasak dan pengemasan makanan MBG," ujar dia.
Bila setiap kali selesai memberikan pelatihan, petugas penjamah makanan selalu diganti dengan yang baru. Hal inilah, menurut Zulfahmi yang menjadi tantangan terberat para pengelola dapur SPPG.
"Karena seringnya ganti-ganti penjamah makanan, ini yang memberatkan SPPG. Masalah ini perlu menjadi perhatian kita bersama," ujar dia.
Advertisement
Keracunan MBG di Batang
Dalam kasus KLB keracunan MBG, SOP sudah diberlakukan oleh SPPG. Namun, beberapa persoalan memang perlu perbaikan menyeluruh. Khusus kejadian keracunan MBG di Bawang, pihak Dinkes Jateng sebelumnya sempat menerbitkan SLHS.
Pihak Dinkes Jateng dalam mengatasi kasus keracunan MBG yang dialami ratusan siswa di Bawang telah membawa sejumlah sampel sisa makanan, feses atau sisa diare dan muntahan dari siswa untuk dibawa ke Labkesda Semarang.
"Sisa nasi atau lauk pasti dibawa petugas Dinas Kesehatan ke laboratorium. Seperti muntahan dan feses juga dijadikan sampel uji laboratorium," pungkasnya.