25 Februari Peringati Hari Revolusi EDSA di Filipina, Ini Sejarah dan Tradisinya
Merdeka.com - Pemerintahan diktator adalah bentuk pemerintahan otoriter di mana kekuasaan tertinggi berada pada satu individu atau kelompok kecil yang tidak terkait dengan proses politik yang demokratis atau transparan. Pemerintahan semacam ini sering diwarnai dengan tindakan-tindakan represif dan penindasan terhadap masyarakat sipil dan oposisi politik.
Tidak jarang, dalam pemerintahan diktator, korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan terjadi. Kepentingan pribadi dan kelompok elit diutamakan dan kesejahteraan rakyat sering diabaikan. Tak heran, jika pemerintahan ini sering mendapatkan protes dari masyarakat karena banyaknya ketidakadilan yang didapatkan.
Salah satunya, terjadi di Filipina. Di mana pada 25 Februari 1986 terjadi gerakan untuk mengakhiri kekuasaan diktator, Ferdinand Marcos. Gerakan ini menjadi simbol kebebasan rakyat Filipina dari ketidakadilan yang didapatkan hampir dua dekade dari pemimpinnya. Kini, 25 Februari diperingati sebagai Hari Revolusi EDSA setiap tahunnya.
Tepat pada hari ini, tentu menarik untuk dibahas bagaimana asal mula terjadinya gerakan, makna dari peringatan, dan tradisi yang sering dilakukan rakyat Filipina untuk merayakan peringatan ini. Berikut kami merangkum penjelasan lengkapnya, bisa Anda simak.
Sejarah Hari Revolusi EDSA
Sejarah Hari Revolusi EDSA, juga dikenal sebagai "People Power Revolution", terjadi pada tanggal 22-25 Februari 1986 di Manila, Filipina. Ini adalah puncak dari gerakan yang didorong oleh rakyat Filipina untuk mengakhiri kekuasaan diktator Ferdinand Marcos, yang telah memerintah negara itu selama hampir dua dekade.
Pada tahun 1983, seorang politisi oposisi bernama Benigno "Ninoy" Aquino dibunuh setelah kembali ke Filipina dari pengasingan di Amerika Serikat. Pembunuhan tersebut memicu protes dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Marcos yang semakin meningkat.
Pada tahun 1986, Marcos mencalonkan diri untuk masa jabatan keenamnya sebagai Presiden Filipina. Namun, kecurangan pemilu yang terjadi membuat banyak orang merasa tidak puas dan memicu protes massal di seluruh negara.
Pada tanggal 22 Februari 1986, sebuah demonstrasi besar-besaran dilakukan di Manila, yang menuntut penghitungan ulang suara pemilihan presiden dan keberangkatan Marcos dari kekuasaan. Demonstrasi ini dipimpin oleh tokoh-tokoh oposisi seperti Corazon Aquino, istri dari Ninoy Aquino.
Selama empat hari berikutnya, ratusan ribu orang berkumpul di jalan-jalan Manila, membentuk barikade dan melakukan protes damai. Selama protes, angkatan bersenjata Filipina dibagi menjadi dua kubu: satu mendukung Marcos dan yang lainnya mendukung rakyat.
Pada akhirnya, pada tanggal 25 Februari 1986, Marcos mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden Filipina dan melarikan diri ke Hawaii bersama dengan keluarganya. Corazon Aquino kemudian diambil sumpah sebagai Presiden baru Filipina.
Hari Revolusi EDSA dianggap sebagai momen penting dalam sejarah Filipina dan menjadi contoh bagi gerakan demokrasi di seluruh dunia. Demonstrasi damai yang dilakukan oleh rakyat Filipina telah menunjukkan kekuatan kolektif dan tekad mereka untuk mencapai keadilan dan demokrasi.
Makna Peringatan Hari Revolusi EDSA
Setelah mengetahui sejarah 25 Februari yang diperingati sebagai Hari Revolusi EDSA di Filipina, berikutnya terdapat berbagai makna filosofis dari peringatan ini. Peringatan Hari Revolusi EDSA di Filipina memiliki makna yang sangat penting bagi rakyat Filipina. Ini adalah momen yang menandai berakhirnya era kediktatoran Ferdinand Marcos dan awal dari demokrasi yang lebih stabil di Filipina.
Peringatan ini menjadi simbol perjuangan rakyat Filipina untuk kebebasan dan demokrasi, yang telah membangkitkan semangat persatuan dan kebersamaan di antara mereka. Hal ini juga mengingatkan masyarakat Filipina tentang nilai-nilai kebebasan, hak asasi manusia, dan partisipasi politik yang penting untuk membangun sebuah negara yang adil dan makmur.
Peringatan Hari Revolusi EDSA juga membangkitkan semangat untuk terus memperjuangkan hak-hak rakyat, memerangi korupsi, dan menjaga kebebasan pers dan hak-hak sipil di Filipina. Ini juga menjadi momen penting untuk mengevaluasi kemajuan yang telah dicapai dan mengidentifikasi tantangan dan kesulitan yang masih dihadapi.
Selain itu, peringatan Hari Revolusi EDSA juga menjadi ajang refleksi bagi rakyat Filipina tentang peran mereka sebagai warga negara dalam membangun sebuah negara yang lebih baik dan lebih adil. Ini adalah momen yang mengingatkan mereka bahwa kekuatan sebenarnya berasal dari kebersamaan, solidaritas, dan semangat juang dalam mencapai keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Filipina.
Tradisi Perayaan Hari Revolusi EDSA
Selain sejarah dan makna filosofisnya, hal yang tak kalah menarik untuk dibahas adalah berbagai tradisi yang dilakukan rakyat Filipina dalam merayakan Hari Revolusi EDSA. Setiap peringatan ini, masyarakat Filipina melakukan kegiatan upacara bendera, ibadah misa di gereja, parade atau pertunjukan seni, hingga pameran.
Berikut adalah beberapa tradisi dan kegiatan yang biasanya dilakukan selama peringatan ini:
Selama peringatan Hari Revolusi EDSA, Filipina menjadi fokus perhatian internasional, dengan banyak jurnalis dan wartawan yang meliput acara dan kegiatan yang terkait dengan peringatan ini.
(mdk/ayi)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya