Tak ada henti-hentinya, Edelweiss Maharani (17) sibuk bolak balik memandu masyarakat yang ingin mudik menggunakan kereta di Stasiun Senen, Jakarta Pusat. Sejak Jumat (28/3) pagi, tidak ada habisnya orang-orang silih berganti berdatangan sambil menentang kebijakan tas dan kardus dan menyodorkan tiket kereta api ke Edelweiss.
Kepada siswi asal SMK Negeri 16 Jakarta itu, seorang pria dewasa bersama keluarganya menanyakan waktu kepergian kereta yang dituju ke kampung halamnnya. Edelweiss kemudian menerangkan dengan penuh senyum tanpa pamrih.
Bukan tanpa sebab, remaja yang masih duduk dibangku SMK ini rela mengorbankan hari liburnya teman-teman sejawatnya sebagai relawan mengawal Operasi Ketupat 2025.
"Saya ikut relawan ini itu sangat bermanfaat dan saya juga punya pengalaman bisa membantu masyarakat yang kesulitan atau kebingungan," cerita Edelweiss kepada wartawan, Jumat (28/3).
Advertisement
Tolak Tip dari Pemudik
Edelweiss menjadi bagian dari salah satu relawan setelah mengikuti ekstrakulikuler Pramuka sejak awal masuk SMK. Dia mengikuti rapat daring dari kuartir Pramuka Jakarta Pusat bersama sekolah lainnya membahas teknis penugasan untuk perbantukan TNI-Polri yang mengawal Operasi Ketupat 2025.
Alhasil, setelah menjadi relawan hari-hari libur Edelweiss hanya diisi dengan terus melayani penumpang yang ingin mudik berharap mereka dapat pulang kampung dengan tenang dan aman.
Remaja putri itu juga biasanya ikut mudik seperti tahun-tahun sebelumnya, namun karena satu dan lain hal rencana itu harus diurungkan dulu.
Niat tulusnya itu justru terbayarkan dengan salah satu penumpang yang dengan senang hati ingin menaruh perhatian kepadanya.
"Ada tadi barusan, tapi saya nolak karena saya aku bantuinya itu kan ikhlas. Jadi saya nggak butuh itu," katanya.
Pengalamannya ini pun membuahkan hasil baginya agar menjadi lebih percaya diri serta lebih aktif dalam bersosialisasi.