Kasus Gagal Ginjal Anak, Dinkes DKI Imbau Masyarakat Gunakan Obat Puyer

Ngabila menjelaskan, bayi atau balita yang sedang demam atau batuk pilek dapat sembuh sendiri tanpa minum obat. Dia juga meminta orang tua untuk tidak terlalu panik sehingga membuat anak harus meminum obat ketika ada suatu gejala penyakit.

Lydia Fransisca
Oleh Lydia Fransisca - Reporter
Kasus Gagal Ginjal Anak, Dinkes DKI Imbau Masyarakat Gunakan Obat Puyer
Ilustrasi obat. shutterstock

Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinkes DKI Ngabila Salama menyarankan agar anak-anak yang sakit diberikan obat puyer atau terapi nonobat. Ini terkait munculnya dua kasus gagal ginjal akut pada anak atau Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA).

“Jangan responsif dikit-dikit harus minum obat. Lakukan dulu terapi nonobat atau gunakan obat puyer dulu. Tapi jangan gegabah juga menjadi antiobat, padahal kondisi anak sangat membutuhkan dalam kondisi tertentu,” katanya ketika dikonfirmasi, Senin (6/2).

Dia menjelaskan, bayi atau balita yang sedang demam atau batuk pilek dapat sembuh sendiri tanpa minum obat. Ngabila juga meminta orang tua untuk tidak terlalu panik sehingga membuat anak harus meminum obat ketika ada suatu gejala penyakit.

“Bayi atau balita jika demam dan batuk pilek mayoritas karena infeksi virus dan ini dapat sembuh sendiri tanpa minum obat. Makan, minum, istirahat yang cukup adalah kuncinya,” tambah Ngabila.

Meskipun demikian, Ngabila menjelaskan, jika anak harus minum obat, pastikan diberikan sesuai dengan dosis dan anjuran dokter. Tak hanya itu, dia menegaskan agar orang tua berteman dengan demam dan batuk pilek.

“Kalaupun minum obat lagi, pastikan sesuai resep dan anjuran dokter, baik obat puyer atau sirop. Pantau gejala anak sesudah diberi obat. Jika kondisi tidak membaik atau bahkan ada keluhan tambahan, misalnya produksi kencing berkurang atau tidak kencing sama sekali padahal cukup minum, jangan ragu kontrol kembali ke dokter yang merawat,” ujarnya.

Sementara itu, Kementerian kesehatan (Kemenkes) meminta agar Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah lain untuk aktif memantau pasien dengan gejala GGAPA dan segera merujuk ke rumah sakit yang telah ditunjuk untuk menangani pasien gagal ginjal akut.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. M Syahril menjelaskan, pemerintah melakukan tindakan antisipatif dalam menentukan penyebab dua kasus GGAPA baru yang dilaporkan ini.

“Saat ini sedang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sampel obat dan darah pasien,” ujar Syahril.

Kemenkes, kata Syahril, tengah bekerjasama dengan berbagai pihak mulai dari IDAI, BPOM, Ahli Epidemiologi, Labkesda DKI, Farmakolog, para Guru besar dan Puslabfor Polri melakukan penelusuran epidemiologi untuk memastikan penyebab pasti dan faktor risiko yang menyebabkan gangguan ginjal akut.

"Langkah selanjutnya adalah Kemenkes akan kembali mengeluarkan surat kewaspadaan kepada seluruh Dinas Kesehatan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Organisasi Profesi Kesehatan terkait dengan kewaspadaan tanda klinis GGAPA dan penggunaan Obat Sirop meskipun penyebab kasus baru ini masih memerlukan investigasi lebih lanjut," tambah Syahril.

Tak hanya itu, Syahril menyebut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah mengeluarkan perintah penghentian sementara produksi dan distribusi obat yang dikonsumsi pasien hingga investigasi selesai dilaksanakan.

"Terkait perintah penghentian sementara dari BPOM, industri farmasi pemegang izin edar obat tersebut telah melakukan voluntary recall atau penarikan obat secara sukarela," jelas Syahril.

"BPOM telah melakukan investigasi atas sampel produk obat dan bahan baku baik dari sisa obat pasien, sampel dari peredaran dan tempat produksi, serta telah diuji di laboratorium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN). BPOM juga telah melakukan pemeriksaan ke sarana produksi terkait Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)," tambah Syahril.

Dengan dilaporkannya tambahan kasus baru GGAPA, hingga 5 Februari 2023 tercatat 326 kasus GGAPA dan satu suspek yang tersebar di 27 provinsi di Indonesia.

Dari sejumlah tersebut 116 kasus dinyatakan sembuh, sementara enam kasus masih menjalani perawatan di RSCM Jakarta.

Rekomendasi