KPK Ungkap Ada Pejabat Pemprov DKI Cari Uang Tambahan dari Pengadaan Barang Jasa

KPK menyayangkan tindakan tersebut. Karena penghasilan pejabat DKI misal setingkat kepala dinas, tergolong tinggi dan di atas rata-rata daerah lain. KPK meminta Inspektorat DKI Jakarta memberikan perhatian khusus dan melakukan pemeriksaan.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
KPK Ungkap Ada Pejabat Pemprov DKI Cari Uang Tambahan dari Pengadaan Barang Jasa
Gedung Balai Kota DKI Jakarta. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang coba-coba mencari uang tambahan dari proses pengadaan barang dan jasa serta perizinan. Tetapi, KPK belum mau memberikan informasi detail siapa pejabat yang dimaksud.

"Kami masih sering mendengar dan mendapat informasi masih ada yang berupaya untuk mendapat penghasilan tambahan terutama dalam proses PBJ (Pengadaan Barang dan Jasa)," kata Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata, di Balai Kota Jakarta, Kamis (15/12).

KPK menyayangkan tindakan tersebut. Karena penghasilan pejabat DKI misal setingkat kepala dinas, tergolong tinggi dan di atas rata-rata daerah lain.

"Tingkat kesejahteraan, tingkat penghasilan jauh di atas rata-rata, bahkan ada salah satu dirjen di kementerian iri dengan penghasilan kepala dinas di Pemprov DKI," ucapnya.

Oleh karena itu, KPK meminta Inspektorat DKI Jakarta memberikan perhatian khusus dan melakukan pemeriksaan karena proses pengadaan barang dan jasa serta perizinan menjadi salah satu titik rawan kebocoran anggaran.

"Titik paling rawan kebocoran anggaran itu terkait pengadaan barang dan jasa juga menyangkut perizinan di Pemprov DKI," jelas Alex.

Heran Pejabat DKI Punya 25 Bidang Tanah

Alex menambahkan, KPK memiliki akses membuka Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) baik pusat dan daerah termasuk di Pemprov DKI. Terungkap, seorang pejabat yang memiliki aset berupa puluhan bidang tanah, yakni 20-25 bidang tanah. Temuan ini dia pertanyakan.

"Ini banyak saya lihat pejabat Pemprov DKI punya tanah berpuluh bidang, saya tidak tahu. Ini mudah-mudahan itu juga dari hasil yang halal," tutur Alexander.

Oleh karena itulah, untuk memastikan APBD DKI digunakan dengan seharusnya, KPK menempatkan tiga orang satgas untuk mengawasi pengelolaan APBD dan BUMD DKI.

Selain atas permintaan Penjabat Gubernur DKI Heru Budi Hartono, penambahan satgas itu juga mencermati APBD Pemprov DKI yang tergolong besar yakni Rp80 triliun lebih per tahun yang setara APBD seluruh provinsi di Pulau Sumatera.

Sementara itu, Penjabat Gubernur DKI Heru Budi Hartono mengatakan terkait LHKPN di DKI Jakarta, para pejabatnya sudah rutin melaporkan harta kekayaannya.

Ia pun meyakini pejabat di DKI sudah melaporkan harta kekayaannya melalui inspektorat.

"Saya rasa melalui inspektorat semuanya sudah (melapor), termasuk saya dari tahun 2000 atau 2002 saya selalu melaporkan LHKPN dan terakhir juga setiap tahun laporan. Nanti laporannya Januari, Februari, untuk posisi 2022. Saya rasa (pejabat) DKI semua sudah melapor," ungkap Heru.

Rekomendasi