Polisi Cek Dua HP Milik Keluarga Tewas di Kalideres, Isinya Penuh Pesan Emosi

Polri terus berusaha mengungkap tabir kematian sekeluarga di Kalideres. Sejumlah penyelidikan tengah dilakukan. Salah satunya, memeriksa ponsel dari empat keluarga yang tewas itu.

Rahmat Baihaqi
Oleh Rahmat Baihaqi - Reporter
Polisi Cek Dua HP Milik Keluarga Tewas di Kalideres, Isinya Penuh Pesan Emosi
Olah TKP satu Keluarga meninggal di Kalideres. ©2022 Liputan6.com/Johan Tallo

Polri terus berusaha mengungkap tabir kematian sekeluarga di Kalideres. Sejumlah penyelidikan tengah dilakukan. Salah satunya, memeriksa ponsel dari empat keluarga yang tewas itu.

Apa isi ponsel tersebut?

Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Hengky Haryadi mengatakan, pihaknya menemukan dua buah ponsel yang digunakan oleh keempat korban.

"Satu HP digunakan oleh masing-masing dua orang," kata Hengky saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Senin (21/11).

Dalam ponsel tersebut ada Aplikasi Peduli Lindungi. Kemudian, ditemukan komunikasi satu arah antar dua ponsel masing-masing.

"Kami temukan komunikasi satu arah dari 1 HP ke HP yang lain," kata polisi.

Isi komunikasi satu arah itu tentang emosi yang negatif. Namun polisi tak mengungkap detil kalimat negatif yang dimaksud.

"Jadi banyak sekali kata-kata berisi tentang emosi yang bersifat negatif, yang saat ini sedang didalami oleh pihak psikologi forensik," kata Hengky.

Sebelumnya, Hengky menjelaskan pemilik rumah almarhum Budiyanto sempat menghubungi mediator untuk menjual rumah.

"Ada hal yang sangat tidak lazim di sini, pada saat ditemui mediator ini langsung menyerahkan sertifikat asli. Kemudian karena waktu sempat putus asa tidak ketemu pembelinya siapa yang ingin seharga Rp1,2 miliar, akhirnya dikembalikan sertifikat itu kepada almarhum Budiyanto ini tetap ditolak, suruh pegang lagi," kata Hengky.

Pada tanggal 13 Mei, ternyata mediator ini berteman dengan seorang pegawai koperasi simpan pinjam. Oleh karenanya, diniatkan digadaikan sertifikat rumah ini.

Oleh karena itu, pegawai koperasi simpan pinjam ini tertarik mengingat lokasi perumahan ini memiliki NJOP yang tinggi.

"Pembayaran simpan pinjam itu meminta 50 persen NJOP, baik rumah maupun tanah. Pada saat 5 orang datang ke seputaran rumah dua mediator, satu dari petugas atau pegawai dari koperasi simpan pinjam ini datang ke depan rumah sama-sama masuk ke rumah yang menjadi TKP ini," tutur Hengky.

Pada saat itu diterima oleh almarhum Budianto. Begitu membuka gerbang sudah tercium bau busuk yang luar biasa pada 13 Mei 2022 lalu.

Ditanyakan kepada pihak rumah kenapa bau busuk, lalu sang pemlik rumah menjawab bau got. Kemudian masuk ke dalam rumah. Kemudian diminta perlihatkan sertifikatnya, ternyata sertifikat ini atas nama Reni Margareta. Ibu dari Dian. Kemudian ditanyakan Reni ada dimana, sedang tidur di dalam.

Kemudian pegawai koperasi simpan pinjam ini mengajak diantarkan masuk ke dalam kamar. Begitu pintu kamar dibuka pegawai ini masuk menyeruak bau yang lebih busuk.

"Dimana ibunya, ini lagi tidur. Tapi jangan dinyalakan lampu, karena ibu saya sensitif terhadap cahaya, kata anak atas nama Dian yang turut meninggal di TKP," jelas polisi.

Pada saat dibangunkan untuk mengecek sertifikat ini, dipegang-pegang gemuk sehingga agak curiga. Tanpa sepengetahuan Dian, salah satu korban pegawai koperasi simpan pinjam ini menghidupkan flash HPnya. Begitu dilihat langsung yang berssagkutan teriak takbir Allahu Akbar.

"Ini sudah mayat di tanggal 13 Mei," katanya.

Saksi kemudian langsung keluar dan tidak ingin lagi melanjutkan proses gadai. Langsung mengajak dua saksi yang lain segera keluar.

Pada saat keluar ketemu saksi yang lain sudah kami ambil keterangan juga menyatakan yang sama bahwa sempat teriak Allahu Akbar dan salah satu saksi ini dikejar oleh Budianto.

"Tolong pak jangan sampai dilaporkan ke polisi, jangan dilaporkan pihak RT ataupun warga sini. Dan ternyata tidak dilaporkan," imbuhnya.

Rekomendasi