Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengumumkan, terdapat 142 kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal atau acute kidney injury (AKI) yang ditemukan di Ibu Kota. Data ini dihimpun dari Januari 2022 sampai Minggu (30/10).
Adapun jumlah ini meningkat 7 pasien dari data sebelumnya pada Kamis (27/10) yang mencatat 135 kasus. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, terdapat 70 pasien yang meninggal, 50 pasien yang sembuh, dan 22 pasien yang masih dalam perawatan di rumah sakit dari 142 kasus tersebut.
"Perlu dicermati bahwa data kita adalah hasil hospital record review artinya tim secara aktif dari Dinas Kesehatan bersama seluruh rumah sakit maupun puskesmas yang ada di DKI proaktif mencari ke belakang, data sejak Januari sampai dengan sekarang," kata Widy ketika ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (31/10).
Kemudian, Widy mengatakan bahwa antidotum atau obat penawar sudah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) distribusikan langsung ke rumah sakit rujukan.
"Nah di Jakarta saat ini masih dibagikan, didistribusi ke rumah sakit yang merawat. Kemarin masih langsung ke fasilitas kesehatan karena jumlah kasusnya masih relatif belum banyak dan terfokus di beberapa rumah sakit saja sehingga supaya cepat langsung ke fasilitas kesehatan yang merawat. Tapi tidak menutup kemungkinan langsung akan bergerak berbeda sesuai dengan kondisi, seperti halnya distribusi obat maupun vaksin, biasanya juga bisa melalui Dinkes," kata Widy.
Advertisement
Sebelumnya, Widy mengatakan bahwa pihaknya telah mengkarantina obat-obat yang telah dilarang beredar sementara oleh BPOM sebagai upaya menekan jumlah kasus AKI dan antisipasi munculnya kasus kembali.
"Kami saat ini sejak 18 Oktober melakukan pengamanan obat cair. Jadi tidak kita sita, tapi kita karantina sementara di tempatnya masing-masing sampai nanti menunggu kepastian regulasi lebih final dari tingkat yang berkompeten atau berwenang," kata Widy.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga sedang menyiapkan rumah sakit umum daerah (RSUD) sebagai rujukan untuk pasien gagal ginjal akut. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti saat menjadi narasumber siniar Rabu Belajar yang diunggah di Youtube Pemprov DKI Jakarta.
"Mengandalkan rumah sakit vertikal saja tentu enggak cukup sehingga kita tau juga secara SDM dokter anak ahli ginjal itu masih terbatas, bahkan kalau dihitung masih ada tiga di Jakarta,” kata Widy, dikutip Kamis (27/10).
Untuk antisipasi lonjakan kasus, Dinkes sedang mempersiapkan empat RSUD di Jakarta sebagai rumah sakit pendamping. Sebab, rumah sakit yang menjadi rujukan untuk pasien gagal ginjal akut di Jakarta hanya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita.
"Saat ini kita siapkan RS daerah tipe A dan B di DKI, yakni Tarakan, Pasar Minggu, Pasar Rebo, Koja untuk jadi pendampingan untuk melakukan perawatan," kata Widy.