Begini Cara Warga Jakarta Bisa Nikmati Tarif Integrasi TransJakarta, MRT & LRT

Perlu diketahui, tarif integrasi baru berlaku jika menggunakan lebih dari satu moda transportasi yang disediakan. Jika hanya menggunakan satu moda transportasi, tarif yang dikenakan akan sesuai dengan harga yang berlaku normal.

Lydia Fransisca
Oleh Lydia Fransisca - Reporter
Begini Cara Warga Jakarta Bisa Nikmati Tarif Integrasi TransJakarta, MRT & LRT
Operasional Transjakarta di masa PPKM Level 2. ©2022 Liputan6.com/Faizal Fanani

Pengguna transportasi umum di Jakarta sudah dapat menikmati tarif integrasi TransJakarta (TJ), MRT, dan LRT sejak Kamis (11/8) kemarin. Adapun tarif maksimum yang dikenakan sebesar Rp10 ribu. Masyarakat yang ingin menikmati tarif integrasi ini perlu mengunduh dan membeli tiket di aplikasi JakLingko.

Perlu diketahui, tarif integrasi baru berlaku jika menggunakan lebih dari satu moda transportasi yang disediakan. Jika hanya menggunakan satu moda transportasi, tarif yang dikenakan akan sesuai dengan harga yang berlaku normal.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, pihaknya akan membuat seamless area yang membuat pengguna transportasi umum hanya melakukan tap in di pintu masuk halte atau stasiun keberangkatan dan tap out di halte atau stasiun tujuan akhir.

"Contohnya nih, dari halte MRT, MRT masuk ke halte integrasi. Misalnya, langsung (ke) CSW, pindah ke koridor 13 turun di Puri Beta. Nanti tap out-nya di Puri Beta," jelas Syafrin.

Syafrin juga mengatakan, penerapan seamless area ini akan berada di CSW dan Bundaran HI.

"Untuk saat ini memang rencana akan diimplementasikan di dua halte, yaitu di CSW dan juga di Bundaran HI. Tapi Bundaran HI kan lagi dibangun ya, lagi direvitalisasi," kata Syafrin.

Jika pengguna berhenti di luar seamless area, pengguna transportasi umum masih bisa menikmati tarif integrasi sesuai dengan waktu maksimal untuk integrasi yang telah ditetapkan.

"Untuk saat ini, karena di Halte Polda (atau halte lain) tidak ada seamless area, tetap akan tap in tap out. Namun, sesuai regulasi yang ada, di titik integrasi yang belum menerapkan seamless area itu, waktu maksimum penumpang untuk transit itu 45 menit," jelas Syafrin.

Namun, 45 menit itu merupakan estimasi waktu yang diberikan. Masyarakat masih bisa menikmati tarif integrasi karena mesin tiket tetap membaca waktu maksimum untuk berintegrasi selama tiga jam.

"Waktu 45 menit itu estimasi kami pada saat si pengguna jasa melakukan perpindahan moda dari moda satu ke moda yang lain. Contohnya, naik TJ turun di Terminal Blok M. Untuk bisa menjangkau MRT di sana, tentu harus melakukan perjalanan jalan kaki, katakan paling lama 30 menit. Jika perpindahannya bisa lebih cepat, lebih baik lagi. Dalam sistem itu maksimumnya 180 menit total untuk bisa masuk dalam satu kesatuan waktu integrasi itu (dan) tetap dihitung dengan tarif Rp10 ribu," kata Syafrin.

Syafrin juga mengatakan, pihaknya akan melakukan sosialisasi secara masif agar bisa menjangkau seluruh masyarakat untuk merasakan manfaat dari tarif integrasi ini.

"Untuk tahap awal integrasi tarif ini harus dilakukan sosialisasi secara masif. Untuk bisa menjangkau seluruh pengguna maupun bukan pengguna kita butuh waktu untuk sosialisasinya," kata Syafrin.

Rekomendasi