Mantan cleaning service diduga terlibat dalam pencuri besi milik PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Polisi menyebut, dia adalah satu dari enam tersangka yang telah ditangkap sebelumnya.
Hal itu disampaikan Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Erwin Kurniawan. Dia menerangkan, tersangka diduga memberitahukan lokasi penyimpanan besi-besi proyek kepada kawanan pencuri tersebut.
"Orang dalam yang dimaksud adalah salah satu cleaning service yang sudah ditangkap, yang menginfokan lokasi besi yang menjadi sasaran kelompok pelaku," kata Erwin dalam keterangannya, Senin (15/11).
Erwin menjelaskan, pihaknya telah meringkus enam orang pelaku terkait kasus pencurian besi milik PT KCIC. Sementara itu, pihaknya tengah mengejar tiga orang pelaku lain.
"Ada 6 orang yang ditangkap, kemudian ada 3 DPO. Kami sudah (kantongi) identitasnya," terang dia.
Sebelumnya, sebanyak 118.081 kilogram besi milik PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) raib. Besi itu diperuntukkan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.
Ada lima orang yang diduga sebagai pencurinya ditangkap Unit Reskrim Polsek Makasar, Jakti. Mereka adalah SA (24), SU (24), AR (30), MLR (24), DY (46).
"Total inventaris barang yang hilang seberat 118.081 kilogram. Kalau dirupiahkan mencapai Rp 1 miliar," kata Kapolsek Makasar Kompol T.F Hutagaol, ketika dihubungi, Senin (8/11/2021).
Terpisah, Kanit Reskrim Iptu Moch Zen menerangkan, sekurit dari PT mempergoki komplotan itu saat beraksi di Proyek KCIC HSR/ Rocket Box Tanah Galian Cipinang Bali, Jalan Jawa Tengah, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur pada Sabtu, 30 Oktober 2021.
"Sekuriti melihat potongan besi ada di deket pagar dan pagar proyek dalam keadaan terbuka," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (8/11/2021).
Zen menerangkan, pelaku terlihat sedang menaikkan besi-besi baja ke atas mobil pickup. Kala itu, ia bersama teman berusaha mengagalkan aksi para pelaku. Namun, tak berhasil.
"Para pelaku melarikan diri bersama dengan pickup berisi besi," ujar dia.
Berdasarkan hasil penyelidikan, pencurian terjadi sejak Juli sampai bulan Oktober 2021. Adapun, barang tersebut sangat dibutuhkan untuk pengerjaan proyek kereta cepat.
"Tercatat kerugian hampir Rp1 miliar," ucap dia.
Reporter: Ady Anugrahadi