Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok kembali saling kritik dengan sejarawan Jakarta JJ Rizal. Bermula dari kritik JJ Rizal yang menyebut tergerusnya budaya Betawi dari Jakarta tak lepas dari kurangnya perhatian pemerintah.
Dalam pandangannya, budaya Betawi hanya mendapat perhatian di era kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin. Setelah era Ali Sadikin berakhir, pemerintah DKI lebih fokus pada pembangunan ketimbang memperhatikan pelestarian budaya Betawi.
Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama atau Ahok menilai, pernyataan JJ Rizal sama sekali tak berdasar. Ahok mengklaim Pemprov DKI sudah melakukan segala cara agar budaya Betawi tetap lestari di ibu kota.
"Makanya susah juga ya dibilang enggak dukung pelestarian budaya Betawi. Mungkin JJ Rizal kurang baca kali ya," kata Ahok di Balai Kota, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (7/3).
Ahok menyebutkan beberapa cara agar budaya Betawi tidak tergerus atau punah. Misalnya, pengelolaan Situ Babakan dan upaya penggunaan batik Betawi di lingkungan pemerintah.
"Kita habiskan uang berapa banyak (untuk) Situ Babakan. Kita mendorong tiap Kamis pakai baju budaya Betawi supaya mendorong produksi batik Betawi," jelas Ahok.
Tidak hanya itu, mantan Bupati Belitung Timur melanjutkan, budaya Betawi juga selalu diperkenalkan kepada tamu asing yang datang ke Balai Kota. "Semua acara kami dari luar disuguh budaya Betawi," ucapnya.
Sebelumnya, Sejarawan JJ Rizal menyayangkan sekali kepemimpinan Ahok dalam perkembangan Jakarta khususnya keselarasan kebudayaan betawi yang ada sejak dulu kala. Bahkan Rizal menganggap Ahok perlahan 'membunuh' budaya betawi.
"Menurut saya gubernur sekarang tidak memperhatikan Jakarta terutama betawi. Gubernur lebih sibuk membunuh aspek budaya betawi," kata Rizal kepada wartawan, Minggu (6/3).
Rizal membanding-bandingkan masa pimpinan Ahok dan Ali Sadikin (Gubernur tahun 1966-1977). Menurutnya, tak ada satu pun Gubernur DKI yang peduli terhadap kebudayaan Betawi selain Ali Sadikin.
"Setahu saya sampai saat ini tidak ada satu pun gubernur setelah Bang Ali (Ali Sadikin) yang bisa mengelola kebudayaan Betawi di Jakarta dalam konteks kota yang punya identitas kultural," tuturnya.