Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ( Jokowi ) melakukan pengamanan ketat semenjak mengetahui dirinya disadap pada akhir 2013. Awalnya ia hanya menggunakan dua sampai empat pengawal, tahun ini bisa sampai delapan pengawal.Peningkatan pengawalan nampak pada Januari lalu karena Jokowi membawa pengawal dengan dua mobil. Pengawalan ketat ini berkurang pada Februari karena kembali menggunakan satu mobil pengawal.Pelaksana Tugas Kepala Biro Kepala Daerah dan Kerja Sama Luar Negeri Pemprov DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengungkapkan, pengawalan yang lebih ketat cukup wajar, termasuk mempersenjatai ajudan. Karena keamanan gubernur menjadi prioritas utama."Kami dapat info berlapis-lapis. Pada saat itu ada info yang harus dilakukan seperti itu, sehingga aparat keamanan menjaganya saat itu ya seperti itu, tapi tidak setiap saat kok," ujarnya saat dihubungi, Selasa (25/2).Ia menambahkan, pengawalan dilakukan pihak polisi dengan jumlah belasan orang secara bergantian. Sedangkan untuk pengamanan dalam, seperti rumah dinas dan kantor gubernur menggunakan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta untuk voorijder.Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 2014, terdapat anggaran pengelolaan rumah tangga pimpinan daerah yang mencapai Rp 2,75 miliar. Ini digunakan untuk keperluan rumah tangga seperti pengawal dan voorijder.Anggaran rumah tangga ini tidak jauh berbeda dengan tahun 2013 lalu. Namun Jokowi menghapus anggaran biaya belanja bernama ”konsumsi harian pegawai kebutuhan Pimpinan Daerah” yang mencapai Rp 1,5 miliar yang sempat ada pada 2013.
Mengaku banyak diteror, berapa biaya pengamanan Jokowi?
Peningkatan pengawalan nampak pada Januari lalu karena Jokowi membawa pengawal dengan dua mobil.