Hingga kini, jejak empat artefak berlapis emas yang dicuri di Museum Gajah, Jakarta Pusat, belum menemukan titik terang. Mencegah benda bersejarah itu dijual ke luar negeri, polisi melakukan koordinasi dengan pihak bandara dan pelabuhan."Iya, sudah berkoordinasi dengan pihak bandara dan juga pelabuhan yang melayani rute internasional," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, saat dihubungi, Kamis (19/9).Rikwanto menambahkan, penyidik telah melakukan rekonstruksi mini di lokasi penyimpanan empat artefak berlapis emas yang hilang. Hasilnya, ditemukan beberapa kejanggalan antara lain tidak rusaknya kunci etalase tempat lempengan itu disimpan."Lemari kalau dibongkar paksa harusnya rusak namun itu tidak rusak," ucap Rikwanto.Kesimpulan sementara penyidik, modus operandi pelaku memanfaatkan lemari yang tidak dikunci atau ada pihak yang sengaja membuat duplikat. Proses penyelidikan kini terpusat pada penelusuran kapan dan oleh siapa kunci lemari diserahterimakan."Penyidik juga fokus pada beberapa hal di antaranya pemegang kunci dan sekuriti yang berjaga di tempat penyimpanan artefak," terangnya.Sebelumnya, empat artefak berlapis emas dari zaman Kerajaan Mataram dan Majapahit kuno hilang dari Museum Gajah pada 11 September lalu. Empat lempengan yaitu lempengan Naga Mendekam, Bulan Sabit Beraksara, Wadah Bertutup Cepuk, dan Harihara.
Buru 4 artefak yang hilang, polisi koordinasi dengan bandara
Hasil penyelidikan sementara, polisi menemukan kejanggalan pada tempat penyimpanan artefak yang tidak ada tanda dirusak.
Advertisement
Rekomendasi