Petugas pintu air Perintis Kemerdekaan, Jakarta, kewalahan dengan sampah yang menumpuk. Selain itu, penggunaan backhoe juga dihentikan karena tak ada anggaran untuk mengoperasikan alat berat tersebut.Kepala Pintu Air Perintis Kemerdekaan, Mamat (42) mengaku kewalahan karena membersihkan sampah secara manual. Apalagi sudah tiga bulan terakhir gajinya tak dibayarkan Pihak Pemprov DKI Jakarta."Bagaimana tidak menumpuk, kita membersihkan secara manual, volume sampah terus meningkat kalau hujan terakhir turun terus," ujar Mamat kepada merdeka.com di lokasi, Jakarta, Selasa (18/6).Penggunaan alat berat Backhoe sudah dihentikan sejak bulan April kemarin. Petugas mengaku sangat berpengaruh dengan volume sampah yang terus meningkat setiap harinya."Tadi ada Back Hoe tiga, tapi sudah ditarik dua, dan sekarang tinggal satu tapi sudah tidak digunakan lagi, terpaksa kita memakai keranjang sampah," beber Mamat.Salah satu petugas, Wanto (28) mengeluhkan gajinya yang tiga bulan tidak dibayarkan membuat, Dirinya harus berhutang kepada warung langganannya untuk mendapatkan makan."Mohonlah gaji kita dibayarkan, soalnya hutan sudah menumpuk, keluarga kita juga bagaimana nasibnya," keluh Wanto sambil tertawa.Dari pantauan merdeka.com, petugas hanya memungut sampah dengan sebuah keranjang berukuran 30X50 centimeter. Tumpukan sampah pun menggunung di sebagian area pintu air.
Derita petugas pintu air Jakarta, gaji tak dibayar tiga bulan
Sampah menggunung di pintu air. Karena tak ada dana, mereka tak menggunakan alat berat, hanya tangan dan keranjang.