Tren Bersepeda di Tengah Pandemi, Bukan Sekadar Hobi yang Mampu Turunkan Berat Badan

Tren sepeda seperti mengubah gaya hidup. Karena, orang-orang yang sebelum pandemi jarang berolahraga, khususnya bersepeda, sekarang mulai turun ke jalan bersama sepedanya. Begitu juga dengan yang dilakukan oleh Fandi (25) dan Adani (27).

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Tren Bersepeda di Tengah Pandemi, Bukan Sekadar Hobi yang Mampu Turunkan Berat Badan
Bersepeda di tengah pandemi. instagram.com/fandisukma/

Pandemi Corona yang mewabah saat ini berhasil mempengaruhi banyak bidang industri di hampir seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Hal ini membuat banyak aktivitas masyarakat menjadi terhambat.

Namun tak disangka, wabah Covid-19 ini justru memunculkan tren bersepeda di tengah masyarakat. Kita bisa melihat jalanan saat ini, tidak hanya diisi dengan kendaraan bermotor, tapi juga orang-orang yang bersepeda. Toko-toko sepeda juga terkena dampak positif, karena diserbu orang-orang yang tidak ingin melewatkan tren ini.

Tren sepeda seperti mengubah gaya hidup. Karena, orang-orang yang sebelum pandemi jarang berolahraga, khususnya bersepeda, sekarang mulai turun ke jalan bersama sepedanya. Begitu juga dengan yang dilakukan oleh Fandi (25) dan Adani (27). Kedua pemuda asal Wates ini sering menunjukkan aktivitas bersepeda selama pandemi melalui akun sosial media mereka masing-masing.

Meski tampak aktif menunjukkan aktivitas bersepedanya melalui akun sosial media, baik Fandi maupun Adani tidak melakukannya semata-mata karena mengikuti tren. Mereka berdua juga mencoba memanfaatkan momen untuk meningkatkan performa dalam olahraga bersepeda.

"Adanya pandemi ini justru lebih kebantu buat fokus ke aktivitas sepeda, karena waktunya juga kan lebih banyak," ujar Fandi, ketika ditanya mengenai aktivitas bersepeda selama pandemi.

Bukan Sekadar Mengikuti Tren

Tidak hanya jalanan saja yang diserbu oleh para pesepeda. Tren sepeda ini juga merambah ke media sosial. Kita bisa melihat banyak orang berlomba-lomba untuk menunjukkan aktivitas bersepedanya di akun media sosial masing-masing.

Namun, meski rutin bersepeda di masa pandemi, Fandi melakukan aktivitas tersebut bukan hanya sekadar mengikuti tren yang sedang berkembang. Dirinya mengaku bahwa aktivitas bersepeda yang dilakukan juga bertujuan untuk menjaga kebugaran fisik serta meningkatkan performa bersepeda.

"Dari dulu kan emang udah suka sepedaan, tapi cuma untuk selingan aja, cuma untuk seneng aja, ngga rutin. Beda kayak sekarang, yang aku sepedaan emang buat ningkatin performa sama target berat badan, target kecepatan, jaraknya harus berapa. Kalau dulu kan cuma untuk selingan aja," jelasnya.

Sedangkan Adani mengaku mulai bersepeda sejak awal tahun ini. Adani berujar bahwa dirinya merasa nyaman ketika bersepeda. Apalagi dirinya juga pernah terjatuh dari motor, hingga membuat pinggangnya cedera.

"Setelah coba seli (sepeda lipat), kok rasanya enak, maksudnya porsi kalori yang hilang kok juga sama kayak pas jogging. Apalagi aku kan juga punya cedera, gara-gara pernah jatuh dari motor. Jadi pinggang kadang sakit abis jatuh itu. Nah, ternyata sepeda itu, menurutku ya, lebih nyaman buat pinggangku, jadi aku sekarang jadi lebih sering sepedaan," cerita Adani.

Meskipun keduanya sering bersepeda, keduanya tidak mengikuti komunitas. Mereka masih merasa belum aman jika harus bersepeda dalam kelompok besar, dan lebih memilih untuk bersepeda berdua atau bertiga saja.

"Nah, kalau ikut komunitas kan sepedaannya di samping ada orang, di depan ada orang, jadi risiko tertular kan lebih tinggi. Jadi dengan berdua atau bertiga kita juga nyoba buat meminimalisir risiko," ujar Fandi.

Berhasil Turunkan Berat Badan

Selama masa pandemi, melakukan kegiatan olahraga tidak hanya sebagai pengusir rasa bosan atau untuk menjaga kondisi fisik tetap prima. Ada juga beberapa orang yang berolahraga dengan tujuan untuk menurunkan berat badan dan mendapatkan tubuh yang ideal.

Begitu juga dengan aktivitas bersepeda yang dilakukan oleh Fandi. Laki-laki yang sedang melanjutkan pendidikan S2-nya ini mengatakan bahwa salah satu tujuannya bersepeda adalah untuk menurunkan berat badan.

Dan hasilnya pun tidak mengecewakan. Selama pandemi ini dirinya berhasil menurunkan berat badan hingga 6 kilogram. Meski diakui hasilnya tidak terlalu signifikan, namun dirinya berujar bahwa menurunkan berat badan sebanyak itu justru lebih sulit dilakukan saat sebelum pandemi.

"Walaupun penurunan berat badannya ngga signifikan ya, cuma 5 - 6 kilo, tapi lebih mudah nurunin berat badan pas pandemi dibanding sebelum pandemi. Kalo sebelum pandemi itu susah untuk nurunin berat badan sampai segitu," ceritanya.

Untuk mendukung tercapainya target tersebut, Fandi juga tidak hanya mengandalkan aktivitas fisiknya. Gaya hidupnya pun juga diubah demi mendukung tujuannya. Jika dulu dirinya mengaku banyak makan nasi, sekarang sudah mulai mengurangi konsumsi nasi dan memperbanyak makanan seperti sayuran dan lauk.

"Aku emang pingin nurunin berat badan, jadi untuk ngimbanginnya pola makan juga diatur. Jadi sekarang ngurangin nasi sama lebih banyakin makan sayur sama lauknya. Selain untuk nurunin berat badan, juga untuk menjaga performa pas sepedaan. Aku juga tambahin puasa, puasa senin kamis. Makanya kalo sepedaan selain Senin dan Kamis," imbunya.

Sedangkan Adani mengatakan bahwa yang terpenting adalah senang dulu. Jika ternyata berhasil menurunkan berat badan, dianggapnya sebagai bonus dalam berolahraga.

"Yang jelas kalau olahraga kan bikin seneng, buat nurunin stres juga to. Kalau buat aku berat badan turun itu sebuah bonus, yang penting seneng dulu."

Memaksimalkan Aplikasi

Dalam aktivitas bersepeda, Fandi dan Adani tidak tanggung-tanggung. Mereka tidak hanya menikmati pemandangan di sepanjang jalan, tapi juga menentukan target yang harus dicapai ketika bersepeda. Target tersebut berupa jarak yang kira-kira akan ditempuh, kecepatan, dan rute yang nantinya akan dilewati.

"Mau seberapa kilo, kecepatannya berapa. Kan biasanya 30an kilo kecepatannya. Tapi pas kondisiku lagi ngga bagus ya aku bilang, 'nyantai wae ya'. Jadi semuanya emang ada targetnya. Misal lagi kondisi bagus, ya 30an kilo bisa. Lokasi sama rutenya juga diatur sebelum pergi," ucap Fandi

Jarak yang biasa mereka tempuh berkisar 30 sampai 40 kilometer, dengan kecepatan rata-rata sekitar 30 kilometer per jam. Minimal sebulan sekali, mereka juga menjadwalkan untuk bisa mencapai jarak 100 kilometer lebih dalam sehari.

Untuk mengawasi performa saat bersepeda, Fandi dan Adani memanfaatkan aplikasi smartphone untuk mencatat rute bersepeda, jarak, kecepatan, elevasi, dan jumlah kalori yang dikeluarkan. Aplikasi tersebut juga menyediakan fitur 'challenge' untuk menantang para pengguna untuk bisa mencapai target yang telah disiapkan dalam tenggat waktu tertentu. Fitur inilah yang juga menjadi dasar dalam menetapkan target, khususnya untuk jarak yang ditempuh.

"Jadi kita kan pakai aplikasi. Nah di aplikasinya itu kan ada challengenya. Kan macem-macem tu challengenya, ada yang 600 kilo sebulan, ada yang 1200 kilo sebulan, ada juga chellenge buat elevasi berapa meter gitu. Kadang ngambil target sepedaan dari situ," terang Adani.

Fandi juga mengatakan bahwa dengan adanya aplikasi yang mencatat statisitiknya dalam bersepeda, membantunya memantau perkembangan latihan serta menjadi motivasi bersepeda untuk mencapai target yang lebih tinggi lagi.

"Kalo udah pakai aplikasi, kan itu tercatat statistiknya ya, jadi progresku itu keliatan jelas seberapanya di situ. Apalagi kalau di aplikasi juga ada fitur challengenya ya, kita join di situ buat nyelesaiin challengenya, misal dalam waktu dua minggu. Nah itu bisa jadi salah satu motivasi juga buat sepedaan," tutupnya.

Rekomendasi