Tak Banyak Diketahui, Ini Ulasan 3 Kraton yang Pernah Ada di Cirebon
Merdeka.com - Menurut istilah, kraton merupakan tempat kediaman Ratu atau Raja yang biasa terdapat di suatu wilayah tertentu. Ratu atau Raja inilah yang memimpin di kraton atau kerajaan itu. Kraton sendiri banyak tersebar di berbagai wilayah Nusantara, salah satunya Cirebon.
Sebelumnya Kota Cirebon hanya dikenal memiliki 2 Keraton saja, yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Sejarah mencatat, sebenarnya di Cirebon terdapat satu lagi kraton yang cukup berpengaruh, yaitu Kraton Kacirebonan.
Bersama dua kraton lain, Kraton Kacirebonan memiliki peran yang kuat sebagai media penyebaran agama Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Untuk lebih jelasnya, ini ulasan mengenai tiga kerajaan Islam yang pernah ada di Cirebon.
Berawal dari Konflik Perebutan Tahta

historyofcirebon.id
Dalam situs cirebonkota.go.id diceritakan awal kemunculan kraton di wilayah Cirebon. Bermula saat putra pertama dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi (Raja Padjajaran) dan sang istri bernama Subanglarang, (putri dari Ki Gedeng Tapa) bernama Pangeran Cakrabuana yang juga memiliki dua saudara Nyai Rara Santang dan Raden Kian Santang, merasa berhak atas tahta kerajaan Padjajaran.
Karena Pangeran Cakrabuana memeluk agama Islam yang diturunkan oleh ibunya yang merupakan istri pertama Raja, akhirnya kekuasaan digantikan oleh sang adik bernama Prabu Surawisesa. Adiknya itu merupakan anak dari istri kedua Pangeran Prabu Siliwangi, Nyai Cantring Manikmayang.
Mengingat pada saat itu mayoritas agama yang berlaku di Kerajaan Padjajaran adalah Sunda Wiwitan, Hindu serta Buddha maka terjadilah konflik internal. Dari konflik tersebut maka Pangeran Cakrabuana membuat suatu padukuhan di wilayah utara Jawa Barat (Kebon Pesisir) lalu mendirikan Kuta Kosod atau susunan batu bata merah yang disejajarkan tanpa spasi.
Pangeran Cakrabuana membuat Dalem Agung Pakungwati serta membentuk pemerintahan di wilayah tersebut pada tahun 1430 M yang terus berkembang hingga berubah nama menjadi Caruban Larang.
Perkembangan Kraton Cirebon, Nagari Caruban
Selanjutnya pada tahun 1479, Padukuhan Caruban Larang terus berkembang di bawah kepemimpinan Pangeran Cakrabuana. Pemimpin kraton di Cirebon ini lebih dikenal dengan sebutan Raden Walangsungsang atau H. Abdullah Iman.
Kepemimpinannya terus berlanjut, hingga memunculkan wilayah-wilayah baru. Di antaranya Nagari Caruban, yang selanjutnya dipimpin oleh Tumenggung Syarif Hidayatullah dengan gelar Susuhan Jati dan Putra dari Nyari Rarasantang (saudara kandung Pangeran Cakrabuana).
Awal Terbelah Jadi Tiga Kraton
Pada tahun 1568 Tumenggung Syarif Hidayatullah meninggal dan digantikan oleh Pangeran Emas yang bergelar Panembahan Ratu. Pada tahun 1649 Pangeran Karim yang bergelar Panembahan Girilaya, menggantikan Panembahan Ratu karena suatu hal. Panembahan Girilaya wafat pada tahun 1666, untuk sementara Pangeran Wangsakerta diangkat sebagai Susuhunan Cirebon dengan gelar Panembahan Toh Pati.
Tahun 1677 Nagari Cirebon terbagi menjadi 3 wilayah kekuasaan, Pangeran Martawijaya dinobatkan sebagai Sultan Sepuh bergelar Sultan Raja Syamsuddin, Pangeran Kertawijaya sebagai Sultan Anom bergelar Sultan Muhammad Badriddin.
Sultan Sepuh menempati Kraton Pakungwati dan Sultan Anom membangun kratondi bekas rumah Pangeran Cakrabuwana. Sedangkan Sultan Cerbon berkedudukan sebagai wakil Sultan Sepuh. Hingga sekarang ini di Cirebon dikenal terdapat tiga sultan yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Sultan Cirebon.

Bangunan Keraton Kacirebonan/wikipedia
Lahirnya Cirebon
Sejak saat itu Kota Cirebon yang dahulu dikenal sebagai Nagari Cirebon, dan memiliki 3 kraton yang cukup terkenal. Yang pertama Keraton Kasepuhan, kedua Keraton Kanoman dan ketiga Keraton Kacirebonan.

Keraton Kasepuhanbelajar.kemdikbud.go.id
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya