Sejarah 19 November 1942: Soviet Luncurkan Serangan Balasan dalam Perang Stalingrad
Merdeka.com - Pertempuran Stalingrad adalah salah satu peperangan paling brutal antara pasukan Rusia dan pasukan Nazi Jerman bersama kekuatan Axis selama Perang Dunia II. Pertempuran ini terkenal sebagai salah satu pertempuran terbesar, terpanjang dan paling berdarah dalam perang modern.
Dimulai dari Agustus 1942 hingga Februari 1943, lebih dari dua juta tentara bertempur, dan hampir dua juta orang tewas atau terluka dalam pertempuran itu, termasuk puluhan ribu warga sipil Rusia. Namun, Pertempuran Stalingrad (salah satu kota industri penting Rusia) ini akhirnya mengubah gelombang Perang Dunia II yang menguntungkan pasukan Sekutu.
Pada tahun 22 Juni 1941, terlepas dari ketentuan Pakta Nazi-Soviet tahun 1939, Nazi Jerman melancarkan invasi besar-besaran terhadap Uni Soviet. Dibantu oleh angkatan udara yang sangat unggul, tentara Jerman berpacu melintasi dataran Rusia, sehingga menimbulkan korban di pihak Tentara Merah dan penduduk Soviet.
Dengan bantuan pasukan dari sekutu Axis mereka, Jerman menaklukkan wilayah yang luas, dan pada pertengahan Oktober kota-kota besar Rusia, seperti Leningrad dan Moskow, dikepung. Namun, Soviet tetap bertahan, dan datangnya musim dingin memaksa serangan Jerman terhenti.
themilitarytimes.co.uk.com
Dalam serangan musim panas tahun 1942, Adolf Hitler memerintahkan Angkatan Darat Keenam, di bawah Jenderal Friedrich Paulus, untuk mengambil alih Stalingrad, yaitu pusat industri yang menjadi hambatan bagi kendali Nazi atas sumur minyak Kaukasus, yang ada di selatan.
Pada bulan Agustus, Angkatan Darat Keenam Jerman membuat kemajuan dengan melintasi Sungai Volga sementara Armada Udara Keempat Jerman membuat Stalingrad menjadi puing-puing yang terbakar, dan menewaskan lebih dari 40.000 warga sipil.
Dimulainya Pertempuran Stalingrad
Dilansir dari laman history.com, Jenderal Paulus memerintahkan serangan pertama ke Stalingrad pada awal September, dan memperkirakan bahwa pasukannya akan membutuhkan waktu sekitar 10 hari untuk merebut kota.
Dari sinilah dimulai salah satu pertempuran paling mengerikan dari Perang Dunia II, dan bisa dibilang yang paling penting karena perang ini menjadi titik balik antara Jerman dan Uni Soviet.

history.com
Dalam upaya mereka untuk merebut Stalingrad, Angkatan Darat Keenam Jerman menghadapi Jenderal Vasily Zhukov yang memimpin Tentara Merah. Pasukan ini memanfaatkan kota yang hancur untuk keuntungan mereka, mengubah bangunan yang hancur dan puing-puing menjadi benteng pertahanan alami.
Dalam pertempuran, Jerman mulai menyebut Rattenkrieg, atau "Perang Tikus", di mana pasukan lawan masuk ke dalam regu yang beranggotakan delapan atau 10 orang dan saling bertarung untuk setiap rumah dan wilayah.
Pertempuran ini juga diiringi dengan kemajuan pesat dalam teknologi pertempuran jalanan, seperti senapan mesin Jerman dan pesawat Rusia ringan yang diam-diam meluncur di atas posisi Jerman di malam hari, kemudian menjatuhkan bom tanpa peringatan. Namun, kedua belah pihak kekurangan makanan, air, atau pasokan medis yang diperlukan. Hasilnya, puluhan ribu orang tewas setiap minggunya.
Serangan Balasan Soviet
Pemimpin Soviet kala itu, Joseph Stalin, bertekad untuk membebaskan kota yang dinamai sesuai dengan namanya itu. Dan pada bulan November ia memerintahkan pengiriman bala bantuan besar-besaran ke daerah tersebut. Pada 19 November, Jenderal Zhukov melancarkan Operasi Uranus, yaitu serangan balasan Soviet yang luar biasa dari puing-puing Stalingrad.

warfarehistorynetwork.com
Komando Jerman yang meremehkan serangan balik Soviet ini membuat Angkatan Darat Keenam mereka menjadi kewalahan. Serangan dari Soviet ini melibatkan 500.000 tentara, 900 tank, dan 1.400 pesawat. Dalam waktu tiga hari, seluruh pasukan Jerman yang berjumlah lebih dari 200.000 orang telah dikepung.
Pasukan Italia dan Rumania di Stalingrad menyerah, tetapi Jerman masih bertahan, menerima pasokan terbatas melalui udara dan menunggu bala bantuan. Hitler memerintahkan Paulus untuk tetap di tempatnya dan mempromosikannya menjadi marshal lapangan, karena tidak ada marshal lapangan Nazi yang pernah menyerah.
Kelaparan dan musim dingin Rusia yang pahit merenggut banyak nyawa, dan pada 21 Januari 1943, bandara terakhir yang dipegang oleh Jerman jatuh ke tangan Soviet. Hal ini benar-benar sudah memutus pasokan Jerman.
Pada tanggal 31 Januari, Paulus menyerahkan pasukan Jerman di sektor selatan, dan pada tanggal 2 Februari pasukan Jerman yang tersisa menyerah. Hanya 90.000 tentara Jerman yang masih hidup, dan dari jumlah ini hanya 5.000 tentara yang akan selamat dari kamp tawanan perang Soviet dan berhasil kembali ke Jerman.
(mdk/ank)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya