Sederet Tokoh Ini Usulkan Ubah Nama Jawa Barat Jadi Tatar Sunda, Begini Alasannya
Merdeka.com - Sederet tokoh di Jawa Barat berupaya mengangkat kembali jati diri Sunda yang mulai hilang. Aspirasi yang mencuat melalui Kongres Sunda di Aula Rancage Perpustakaan Ajip Rosidi, Kota Bandung ini pun turut dihadiri oleh Ketua MPR Fadel Muhammad pada Senin (12/10).
Acara yang diselenggarakan oleh tokoh Sunda seperti Memet H Hamdan, Maman Wangsaatmadja, Iwan Gunawan, Ridho Eisy, Dharmawan Harjakusumah (Acil Bimbo), Ganjar Kurnia (mantan Rektor Unpad), Adji Esha Pangestu, Andri P Kantaprawira dan sejumlah tokoh lainnya itu berfokus kepada Perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda.
Selain itu, turut hadir pula Anggota DPD Eni Sumarni yang ikut mendengar aspirasi dari Kelompok Perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda dalam menyampaikan gagasan kebudayaan tersebut.
Mengembalikan Jati Diri Sunda yang Tergerus

Pelaksanaan Kongres Sunda
©2020 Liputan6
Sang ketua, Adji Esha Pangestu mengungkapkan bahwa istilah Sunda saat ini hanya dikenal sebagai bagian dari suku yang tinggal di wilayah Barat.
Padahal, jika ditinjau berdasarkan garis sejarah, Sunda merupakan struktur yang mencakup wilayah geografis besar dan mencakup Pulau Jawa serta pulau-pulau lainnya.
"Tahun 1926, penjajah memberi nama menjadi West Java atau Jawa Barat. Sejak saat itu Sunda diberi nama itu untuk penataan perkebunan. Tujuannya, mengadu domba masyarakat yang dulu solid, baik dari etnis Jawa, Cina dan India. Bersinergi kuat dan sulit dikendalikan oleh Belanda," katanya.
Menyatukan Budaya Sunda yang Kompleks
Senada dengan Adji, Ketua Steering Committee Kongres Sunda Andri P. Kantaprawira mengungkapkan, bahwasanya istilah Sunda sendiri telah tergerus dan hanya dianggap sebagai kelompok suku saja.
Padahal menurutnya, jika ditelisik makna Sunda lebih dari itu, sehingga saat ini esensinya telah hilang. Sehingga dengan pemberian istilah Sunda sebagai nama provinsi bisa memberikan roh budaya dan karakter Sunda.
"Kita sudah kehilangan banyak, Sunda Besar, Sunda Kecil. Kebudayaan kita sudah tergerus, badak Sunda diganti menjadi badak Jawa. Penggantian nama Tatar Sunda, Sunda atau Pasundan ini keseluruhan atau sebutan," ujarnya.
Disampaikan ke Presiden
Adji menambahkan jika aspirasi dari rapat tersebut sedianya akan disampaikan langsung kepada Presiden Jokowi Dodo.
"Karena kita lihat esensinya, perubahan itu untuk perubahan karakter, spirit kebudayaan itu karena ada budaya unggul, adat yang kembali, Sunda Mulya, Sunda Unggul. Itu akan ke perubahan, karena budaya adalah fondasi kemajuan," ujarnya.
Sementara itu, Fadel menyebutkan jika ia akan mengirimkan surat tersebut kepada Presiden Jokowi. Sebelumnya, surat dari badan kongres sudah dikirimkan kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, namun tak mendapatkan respon yang diharapkan.
"Pak RK tidak merespon, hanya ingin survei. Ini bukan masalah popularitas, perubahan nama ini bukan pemilu," ujarnya.
Fadel menyebutkan bahwasanya perubahan nama provinsi merupakan hal yang biasa, sama halnya seperti perubahan pada Provinsi Gorontalo dan Provinsi Papua.
"Saya kira ini adalah hal yang biasa, keinginan itu sudah lama dan mereka mau membuat kongres soal budaya, dan saya pikir kita ketemu dan dialog. Tugas MPR adalah menyerap aspirasi yang berkembang di masyarakat, nantinya kita sampaikan ke pak presiden," katanya.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya