Gelar pahlawan kemerdekaan agaknya cocok disematkan kepada Harniwan Obech (53) asal Tasikmalaya, Jawa Barat. Ini karena upayanya memerdekakan sungai di wilayahnya dari tumpukan sampah yang mengganggu ekosistem.
Obech memang getol blusukan di sungai-sungai besar wilayahnya bersama anggota masyarakat yang peduli lingkungan. Bahkan agar gerakannya bisa terus bermanfaat, dia mendirikan komunitas bernama Republik Aer. Dia bersama komunitasnya, tak ingin sungai yang seharusnya jadi sumber kehidupan aman dan layak bagi hayati, justru hancur oleh sampah yang mengotori lokasi itu. Berikut sekuntum inspirasi dari sosok Harniwan Obech yang berhasil dirangkum Merdeka, Selasa (15/8).
Advertisement
Menjaga Sungai Citanduy dan Ciwulan
Dua sungai besar di Tasikmalaya, yakni Citanduy dan Ciwulan tak luput dari perhatiann karena di sana mampu memberikan kehidupan bagi biota dan warga sekitar. Sungai-sungai tersebut harus ia pantau karena rawan terkena pencemaran, seperti pada tahun lalu di mana sungai besar tersebut tercemar microplastik. Menurut dia, sungai merupakan wadah untuk bermain, ruang belajar kehidupan, berwisata, dan tempat berlatih olahraga (arung jeram) sehingga perlu dimerdekakan dari limbah berbahaya.
Advertisement
Ingin jadikan sungai wadah yang aman
Sebagai Presiden Aer (sebutan ketua dari komunitas Republik Aer), Obech memiliki keinginan agar sungai di Tasikmalaya jadi tempat yang aman untuk berkehidupan seperti pada 1999 di Sungai Citanduy.
Saat itu di alirannya masih bagus, dan hijau sehingga layak jadi tempat bermain, sampai pada 2003. Semuanya langsung berubah karena mulai banyak limbah, terutama peternakan. "Sudah belasan tahun sungai itu tidak ke arah baik, jadi kita kembali ke kegiatan itu bagaimana mengampanyekan konservasi sungai untuk mengatasi pencemaran maupun sampah," kata dia, mengutip ANTARA.
Advertisement
Dipenuhi sampah
Tak hanya limbah peternakan, di 2003, dirinya juga menemukan limbah rumah tangga, sampah plastik dan jenis limbah lainnya sehingga membuat sungai besar di Tasik itu kumuh dan kotor. Sebagai pegiat olahraga arung jeram, Obech menyadari jika dibutuhkan tempat yang layak dan aman untuk menjalankan hobi tersebut. Bahkan saat sungai bersih, manfaatnya akan turut dirasakan masyarakat luas.
Semenjak menjadi ketua Federesasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Kota Tasik, Obech menyadari bahwa sungai-sungai besar di wilayahnya harus disehatkan agar merdeka. Ini tentu akan mempercantik kota, dan bisa difungsikan sebagai destinasi wisata.
Advertisement
Giatkan patroli sungai
Pada 2013, ia bersama masyarakat, komunitas dan tim yang peduli akan kondisi sungai mulai menjalankan patroli air secara rutin. Ini berangkat dari adanya laporan masyarakat yang menemukan bahwa sungai-sungai besar di Tasik dipenuhi sampah.
Bahkan dari hasil pengujian laboratorium, Sungai Ciwulan mengandung 49 partikel mikroplastik dari 100 liter air. Bahkan di tahun ini, kandungan microplastiknya meningkat, menjadi 74 partikel dalam 100 liter air sungai. "Karena tumpukan sampah di Ciwulan semakin menggila, saya coba megajukan lagi ke Ecoton untuk mengadakan penelitian ulang, apa yang dikhawatirkan oleh saya itu terjadi dari 49 menjadi 74 partikel mikroplastik, menjadi naik," kata ayah tiga anak itu.
Advertisement
Giatkan acara Tasik Baseuh
Meskipun sampah di Citanduy dan Ciwulan cukup sulit dikurangi, namun dirinya bersama komunitas dan masyarakat yang peduli akan terus menghalau sampah-sampah di sana melalui gerakan Tasik Baseuh. Tasik Baseuh sendiri merupakan acara rutin yang digelar dan merangkul masyarakat untuk bersih-bersih dan susur sungai, agar keindahannya bisa dinikmati dan memantik kesadaran untuk menjaganya.
Menurutnya, saat sungai merdeka dari sampah, aspek ekonomi, sosial dan kelingkungan masyarakat termasuk hayati akan terpenuhi dengan baik. "Kami mencoba mengedukasi masyarakat tentang penataan pariwisata yang bagus. Kami cerita keindahan, manfaat, yang diharapkan ada beberapa warung bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat," jelas dia.